Header Ads

Rektor Unika Soegijapranata: Orangtua Jangan Ragukan Jurusan Pilihan Anaknya

Rektor Unika Soegijapranata Prof Frederik Ridwan Sanjaya  dalam proses wisuda Unika  Soegijapranata Semarang, Sabtu, 9/9 (KalderaNews/Unika  Soegijapranata).
SEMARANG, KalderaNews.com - Saat mewisuda 459 mahasiswi-mahasiswa Program Diploma, Sarjana, dan Pascasarjana, Sabtu, 9/9, Rektor Unika Soegijapranata Prof Frederik Ridwan Sanjaya mengaku terkesan dengan prestasi salah satu mahasiswa yang dibimbingnya dalam menyelesaikan tugas akhir. Mahasiswa tersebut menyampaikan bahwa aplikasi game yang telah dikembangkannya untuk penelitian skripsi berhasil masuk ke dalam Top Paid Games atau menjadi produk game berbayar yang paling disukai semua kategori dalam Google Play. Bahkan menurutnya untuk kategori game simulasi berbayar, produknya bertahan menempati posisi pertama. Itu semua penting karena merupakan wujud pencapaian penerapan teori dalam skripsinya.

Masih menurut Prof Ridwan, kurang dari enam bulan, penadapatannya dari satu game tersebut telah mengembalikan semua modalnya mulai dari sewa kantor, biaya listrik, promosi dan harga laptop yang dipakai untuk mengembangkan game tersebut. Bahkan, beberapa minggu sebelum skripsinya selesai, mahasiswa tersebut melaporkan kembali bahwa sudah ada investor yang tertarik menanamkan modalnya untuk mengembangkan bisnis rintisannya. Semua biaya terkait dengan rintisan bisnisnya pun ditanggung oleh investor tersebut.

Dengan contoh itu, Prof Frederik hendak menegaskan bahwa orangtua tidak boleh meragukan anaknya jika anaknya memilih jurusan atau bidang yang mungkin tidak umum. Terutama terkait dengan teknologi modern lebih khusus terkait dengan internet. Menurutnya, tingginya penetrasi internet di Indonesia yang mencapai 50,4% telah mendorong banyak anak muda untuk memulai usahanya sejak masih kuliah dengan teknologi media internet.

Rektor Unika yang baru periode 2017-2021 yang baru dilantik Yayasan Sanjoyo per 31/8/2017 itu menegaskan, tataran baru dalam masyarakat digital saat ini terutama pada era disrutive innovation membuka peluang berbagai model bisnis baru dan mulai mengikis orientasi lulusan perguruan tinggi dari semula ke arah pekerja menjadi wirausaha berdasarkan minat yang ditekuninya. 

Menurutnya, produk-produk start up tidak hanya terbatas pada aplikasi komputer atau game semata, tetapi juga merambah sampai dengan jasa keuangan, konsultan hukum, analisis kesehatan, penasehat gizi, kursus, perencana keuangan, akuntansi, perpajakan dan masih banyak yang lain. (NS)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.