Header Ads

Perusahaan Teknologi Raup Untung Gede, Norma Pajak Negara Berkembang Melempem

The 2nd Annual Tax Forum di Yogyakarta, 25-27 April 2018 (KalderaNews/Kemlu RI)
JAKARTA, KalderaNews.com - Perkembangan digital telah membawa banyak perubahan pada wajah dunia bisnis. Perusahaan berbasis teknologi meraup keuntungan yang besar dari pasar. Celakanya, negara berkembang relatif belum bisa mengambil manfaat dari perkembangan bisnis ini karena norma pajak yang ada tidak mampu diterapkan untuk bisnis jenis baru ini.

Untuk itu, Indonesia dan South Centre mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan pertemuan the 2nd Annual Tax Forum. Pertemuan internasional para ahli bidang perpajakan tersebut dilangsungkan di Yogyakarta pada 25-27 April 2018.

Secara khusus pertemuan dibuka dengan sambutan Gubernur D.I. Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang dibacakan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Pemprov DIY,  Budi Sulistyo. Dalam sambutan tertulisnya, Gubernur  menyampaikan makna strategis pertemuan the 2nd Annual Tax Forum sebagai wahana untuk menciptakan referensi aturan pajak yang kondusif bagi dunia bisnis dan bernilai positif bagi Pemerintah. Ia mengutarakan bahwa insentif dunia usaha merupakan salah satu fokus dari kebijakan Pemprov D.I. Yogyakarta.

Memperkuat pandangan Gubernur, Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Negara Berkembang, Kamapradipta Isnomo mewakili Wakil Menlu menyampaikan sambutan pembukaan dalam pertemuan. Direktur Kamapradipta menekankan mengenai peran kerja sama internasional untuk memperkuat kemampuan negara-negara berkembang dalam hal perpajakan.

Ia pun mengidentifikasi sejumlah isu krusial yang penting untuk dibahas dalam pertemuan, termasuk mengenai ‘environmental taxes’, ‘transfer pricing’ dan ‘collective investment vehicles’. Wakil Menlu Fachir menekankan bahwa Kemlu akan terus aktif mengambil peran dalam pembahasan isu-isu pajak internasional sebagai bagian dari upaya untuk mendorong diplomasi ekonomi nasional.

Dalam kesempatan pembukaan pertemuan pula, Dirjen Pajak Robert Pakpahan memberikan ulasan mengenai kebijakan Pemerintah mengenai pajak dalam kaitannya dengan pemenuhan target-target pembangunan nasional, termasuk melalui kebijakan Tax Amnesty yang telah berhasil mengumpulkan Rp 114 Trilyun uang tebusan, Rp 4,7 Trilyun deklarasi aset dan Rp 147 Trilyun dana repatriasi.

Ia juga menyampaikan perkembangan terbaru kebijakan Pemri mengenai pajak melalui UU 9/2017 mengenai Akses terhadap Informasi Keuangan dan sejumlah langkah-langkah kebijakan pajak lainnya pada tahun 2018. Disampaikan bahwa peran penting pajak penting dalam rangka membangunan postur perekonomian yang lebih mandiri dan lebih sehat. Ditekankan pula bahwa Kementerian Keuangan akan senantiasa tanggap terhadap perkembangan ekonomi dan bisnis global, termasuk pesatnya perkembangan bisnis digital.

Pertemuan the 2nd Annual Tax Forum menghadirkan sejumlah sejumlah pakar dan pejabat tinggi dari 25 negara. Selain Indonesia, sejumlah negara yang hadir antara lain dari Aljazair, Burundi, China, Ecuador, Mesir, India, Iran, Malaysia, Nigeria, Filipina, Tajikistan, Uganda dan Vietnam. Dalam pertemuan 3 hari tersebut, para ahli diharapkan dapat berbagi informasi dan inovasi kebijakan perpajakan untuk menyikapi dinamika ekonomi dan bisnis internasional saat ini

Kegiatan the 2nd Annual Tax Forum merupakan kerja sama yang kedua antara Pemerintah Indonesia dengan South Centre mengenai isu perpajakan. Sebelumnya, kerja sama kegiatan sejenis telah dilakuan pada tahun 2016 lalu. South Center merupakan organisasi think thank yang berfokus pada riset dan analisa untuk kepentingan negara berkembang di tingkat global.

Indonesia merupakan salah satu negara pendiri organisasi ini pada 1995. South Center memiliki kaitan yang sangat erat dengan Gerakan Non Blok (GNB) yang juga diprakarsai oleh Indonesia dan sejumlah negara lain pada 1961. (JS)


* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.

Tidak ada komentar

Header Ads1

Header Ads1

Diberdayakan oleh Blogger.
Iklan Pop Pup taruh di sini