Header Ads

Stevenson Christopher Hudiono: "Koki Fisika" dari SDK 2 PENABUR Jakarta

Peraih medali perak jenjang SD di OSN 2018, Stevenson Christopher Hudiono dari SDK 2 PENABUR Jakarta (KalderaNews/SDK 2 PENABUR)
JAKARTA, KalderaNews.com - Siswa bernama lengkap Stevenson Christopher Hudiono dari SDK 2 PENABUR Jakarta ini mengharumkan nama sekolahnya melalui torehan prestasi di Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2018 di Padang, Sumatra Barat, 1-7 Juli 2018 lalu. Mewakili Provinsi DKI Jakarta ia berhasil menggondol medali perak.

Berbicara pada KalderaNews melalui jaringan telepon pada Jumat, 3 Agustus 2018, siswa yang kini duduk di kelas 6 dan akrab dipanggil Steve oleh teman-temannya ini mengaku tidak menyangka akan mengukir prestasi dengan meraih medali perak untuk bidang science di ajang OSN 2018.

"Waktu diumumkan dapat perak seneng banget. Nggak nyangka soalnya banyak (soal-red) yang nggak aku kerjain, seperti di uraian yang aku terlalu detail menjawabnya. Pas ngerjain 12 uraian itu tegang," akunya.

Kendati demikian, ia toh bisa menjadi juara. Semua ini tentu saja karena matangnya persiapan. Ia lalu bercerita, supaya tampil maksimal di OSN, waktu lolos di tingkat kecamatan dan kabupaten saja, ia dilatih intensif oleh guru-guru di SDK 2 PENABUR dan setelah di tingkat kabupaten baru dilatih oleh guru-guru yang dipanggil oleh pihak sekolah serta saat lolos di tingkat provinsi dilatih dan dikarantina oleh dinas.

BACA JUGA:
Sekolah di Jakarta dengan Segudang Prestasi di Olimpiade Sains Nasional 2018
Delfi Vijja Paramita: Sosok Pluralis Best 1 Penelitian Ekonomi Terbaik OSN 2018
Jika Ada Dua Hati Bertemu, di Situlah Pendidikan itu Berlangsung
Adri Lazuardi: Revolusi Industri 4.0 Tidak Bisa Kita Hindari


Prestasi Steve ini layak diapreasiasi, selain karena pendampingan dan pelatihan yang intensif, toh tak dipungkiri minat dan semangat juang Steve juga menentukan kemenangannya.

"Saya minat di bidang science soalnya nggak itung-itungan. Itung-itungannya nggak terlalu susah. Ada fisika, ada biologi. Tapi mata pelajaran yang paling aku sukai memang fisika. Kalau biologi, karena banyak hafalan, aku nggak terlalu suka sih," aku polos bocah berusia 10 tahun yang suka banget bisa pergi ke Padang karena pada dasarnya ia memang seneng bisa jalan-jalan ke luar kota.



Kepala Sekolah SDK 2 PENABUR Jakarta, Veronica Kristanti, S.T., M.Pd dan Wakil Kepala Sekolahnya, Ribka Felani, M.Pd menyambut Darren, Justin dan Stevenson Bandara Soekarno Hatta (KalderaNews/SDK 2 PENABUR)
Diketahui, Olimpiade Sains Nasional (OSN) adalah ajang berkompetisi dalam bidang sains bagi para siswa pada jenjang SD, SMP, dan SMA di Indonesia. Siswa yang mengikuti Olimpiade Sains Nasional adalah siswa yang telah lolos seleksi tingkat kabupaten dan provinsi dan adalah siswa-siswa terbaik dari provinsinya masing-masing.

Sebanyak 1.433 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA berkompetisi dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2018 di Padang, Sumatra Barat, 1-7 Juli 2018 lalu. Keseluruhan peserta OSN XVII terdiri dari tingkat SD/MI sebanyak 272 siswa, SMP/MTs 396 Siswa, dan SMA/MA 765 siswa. Total partisipan jika ditambah dengan pendamping, pembina, juri, asisten juri, panitia pusat, dan panitia daerah mencapai 2.159 orang.

Peserta OSN berlaga dalam 11 bidang lomba yaitu Matematika, IPA, IPS, Informatika/Komputer, Kimia, Fisika, Biologi, Kebumian, Geografi, Astronomi, dan Ekonomi. Untuk jenjang SD ada perlombaan mata pelajaran IPA dan Matematika. Peserta jenjang SMP perlombaan mata pelajaran Matematika, IPA, dan IPS dan di jenjang SMA diperlombakan sembilan bidang sains, yaitu Fisika, Kimia, Matematika, Astronomi, Biologi, Ilmu Kebumian, Informatika/Komputer, Geografi, dan Ekonomi. Peserta OSN 2018 memperebutkan 420 medali terdiri atas: 70 medali emas, 140 medali perak, dan 210 medali perunggu. Steve sendiri mewakili DKI Jakarta untuk mata pelajaran IPA dan meraih medali perak.

Saat ditanya mengenai cita-citanya, ia pun mengaku ingin menjadi koki. Kalau menjadi "koki fisika" tentu telah dilakoninya selama ini, tetapi kalau menjadi koki beneran memang menjadi cita-cita besarnya.

"Cita-citaku ingin jadi koki, tapi belum tahu mau seperti siapa. Aku memang suka masak saja dan makanan kesukaan aku steak, meski aku belum bisa memasaknya. Baru baca-baca sih," akunya sembari tersipu malu.

"Aku mulai mempelajarinya dari buku-buku masakan. Aku belajar memasak sendiri di rumah, tapi belum dipraktekkan semua sih karena nggak bisa," imbuh bocah yang hobi membaca buku-buku masak-memasak ini. Bahkan diakuinya, kalau tidak sedang ada pekerjaan sekolah sama sekali, ia kerap menghabiskan waktunya untuk membaca buku-buku tersebut.


Apreasiasi atas kemenangan Steve ini pun diutarakan oleh Kepala Sekolah SDK 2 PENABUR, Veronica Kristanti, S.T., M.Pd saat berbincang dengan KalderaNews.
Kepala Sekolah SDK 2 PENABUR Jakarta, Veronica Kristanti, S.T., M.Pd (KalderaNews/Dok. Pribadi)
"Saya bangga dengan prestasi anak-anak ini. Di umur mereka sudah bisa membawa nama SDK 2 PENABUR Jakarta sampai ke tingkat nasional dan sedang persiapan ke seleksi tingkat internasional," jelasnya.

"Steve anaknya mau mencoba, rajin belajar dan bertanggungjawab.
Dia kan meninggalkan sekolah hingga beberapa hari. Walaupun harus bertanding, dia tetap bertanggungjawab dengan pelajaran di sekolahnya. Dia bertanggungjawab dengan pelajaran yang tertinggal," imbuhny.

Ia pun lantas bercerita kalau di ajang bergensi Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2018 ini, sebenarnya ada 3 siswa kelas 5 SDK 2 PENABUR Jakarta yang terpilih untuk mewakili DKI Jakarta. Mereka adalah Darren Tan untuk bidang studi Matematika, Justin untuk bidang studi IPA dan Stevenson Christopher Hudiono untuk bidang studi IPA.

Justin berhasil mendapat medali perunggu untuk bidang studi IPA dan Stevenson Christopher Hudiono mendapat medali perak untuk bidang studi IPA.

"Ketika ada yang menang ada yang belum, pertama-tama kita tentu melakukan pendekatan karena mereka telah melakukan yang terbaik untuk sekolah. Bagi yang belum, pasti nanti kalau memang ada kompetisi-kompetisi lain akan disertakan kembali."

Di bawah pendampingan Wakil Kepala Sekolah, Ribka Felani, M.Pd, mereka dibimbing dan diajari oleh guru-guru SDK 2 PENABUR Jakarta yang memang sudah berkompeten di bidang science dan matematika. Selidik punya selidik, ternyata potensi mereka ini telah terdeteksi sejak di kelas 3.

"Kita mengetahui potensi anak, pertama-tama sih lihat di kelas. Di kelas kan sudah kelihatan. Dari kelas 3 kita juga sudah melihat siswa ini berpotensi dimana. Kemudian kita juga ada Math Club dan Science Club sebagai ekskurnya kita. Dari situ kita makin tahu potensi-potensi tersebut. Nah, kalau ada yang berpotensi, setiap tahun kan ada seleksi OSN, di situ kita ikutkan. Nah, ketika mereka lolos ke tahapan yang lebih tinggi, ya mereka mendapatkan pelatihan dari dinas dan dari kami juga menyedikan pelatih-pelatih lainnya yang memang pelatih OSN," pungkasnya. (JS).



SIMAK VIDEO
Pernyataan Kesiapan BPK PENABUR Jakarta Menghadapi Revolusi Industri 4.0
Oleh
Ketua BPK PENABUR Jakarta, Adri Lazuardi


* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.