Dosen Itu Tidak Hanya Mengajar




Dosen Itu Tidak Hanya Mengajar
Direktur Jenderal Sumber Daya Ristek Dikti (SDID), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, MSc., Ph.D. usai menjadi narasumber di acara Holland Scholarship Day (HSD) 2019 yang berlangsung meriah di Erasmus Huis, Kedutaan Besar Belanda, Jakarta, Sabtu, 19 Januari 2019 (KalderaNews/Fajar H)

JAKARTA, KalderaNews.com – Menghadapi era revolusi industri 4.0 yang menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya, para dosen di Indonesia harus memiliki kompetensi 4C, yakni Critical Thingking, Creativity, Communication and Collaboration.

“Dosen itu harus berpikir secara kritis, kreatif, komunikasinya bagus, dan bisa bekerjasama,” tegas Direktur Jenderal Sumber Daya Ristek Dikti (SDID), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, MSc., Ph.D. pada KalderaNews usai menjadi narasumber di acara Holland Scholarship Day (HSD) 2019 yang berlangsung meriah di Erasmus Huis, Kedutaan Besar Belanda, Jakarta, Sabtu, 19 Januari 2019.

BACA JUGA:
Kamu Mau Beasiswa ke Belanda? Hadiri Holland Scholarship Day 2019 Akhir Pekan Ini
Deadline Orange Tulip Scholarship 1 Januari-1 Mei 2019
Lebih dari 1.000 Pemburu Beasiswa Belanda Padati Holland Scholarship Day (HSD) 2019

“Ke depan kita ingin dosen itu minimum S2. Kalau bisa dan kita harapkan S3. Namun tidak saja kualifikasinya S2 atau S3, tetapi mereka (para dosen) harus memiliki suatu karakter, passion, dan keterpanggilan menjadi dosen,” tandas peraih gelar profesor di bidang kedokteran termuda pada 2002 silam saat usianya baru 40 tahun tersebut.

Pria kelahiran Blitar, 17 Mei 1962 ini lantas menambahkan, tidak hanya mengajar, dosen juga harus meneliti, menulis, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menemukan inovasi-inovasi baru.

“Memang budaya kita kan budaya baca-dengar yang lebih dominan, belum budaya tulis-baca. Oleh sebab itu, sekarang kita sedang mendorong bagaimana para dosen dan masyarakat terpelajar membiasakan diri untuk menulis,” tandasnya menyikapi kenyataan bahwa tidak sedikit jumlah dosen yang ogah-ogahan menulis di jurnal-jurnal ilmiah nasional dan internasional. (JS)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*