Generasi Muda Membangun Desa




Generasi Muda Membangun Desa
Lanskap desa di dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (KalderaNews/Arli Cia)

YOGYAKARTA, KalderaNews.com – Tidak lama lagi Indonesia akan menjelang Bonus Demografi. Suatu kondisi dimana komposisi penduduk Indonesia akan didominasi oleh jumlah penduduk usia produktif yang lebih besar dibandingkan usia muda atupun tua. Di satu sisi, hal ini sangat menguntungkan karena dapat meningkatkan produktivitas negara, terutama dari segi ekonomi. Di sisi lain, beban negara akan bertambah jika penduduk usia produktif tidak termanfaatkan dengan baik.

Hal yang cukup memprihatinkan, alih-alih rajin bekerja, generasi muda kini malah asyik dengan gadgetnya. Mereka sibuk bermedia sosial dan bermain game online yang justru boros terutama dalam penggunaan pulsa. Bukannya membantu ekonomi keluarga, mereka malah menjadi beban.

Tidak hanya itu, gaya hidup remaja kini juga lebih mengedepankan prestige ketimbang nilai guna. Mereka lebih senang tampil dengan sesuatu yang baru agar dapat ditunjukkan lewat status atau profil media sosial. Contohnya seperti kendaraan baru, baju baru, dan sebagainya.

Belum lagi soal kebiasaan buruk mereka yang lebih suka nongki-nongki sambil ngopi dan merokok. Alih-alih produktif, mereka justru konsumtif.

“Pemuda itu modal pembangunan, bukan malah menjadi beban,” ungkap dr. Hasto Wardoyo, SP. OG. (K), Bupati Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selanjutnya, bupati yang pernah memperoleh predikat kepala daerah inovatif itu mengajak agar tidak membiarkan generasi muda sibuk dengan dirinya sendiri. Kebiasaan boros pun harus diarahkan pada peningkatan pendapatan desa. “Mereka harus kita ajak turut serta membangun desa,” tuturnya dalam seminar “Pemberdayaan dan Kemandirian Desa di Era Revolusi Industri 4.0”.

Caranya adalah dengan mengalihkan sektor konsumsi anak muda pada produk daerah. Contohnya, mengalihkan penggunaan paket internet melalui layanan data kartu seluler dengan penggunaan akses internet berbayar yang disediakan pemerintah. Mengganti penggunaan air minum kemasan milik perusahaan asing dengan air minum kemasan lokal. Serta dengan membatasi produk rokok nasional dengan mengutamakan produk rokok lokal.

Selain itu, sumber daya manusia generasi muda juga perlu ditingkatkan dengan cara pemberian beasiswa pendidikan. Pelatihan untuk menambah keterampilan juga harus dilakukan untuk menyulut inovasi dalam memunculkan produk lokal yang baru.

Hasto pun mengajak pada seluruh peserta seminar yang diselenggarakan di Auditorium Merapi, Fakultas Geografi, UGM pada Rabu, 16 Januari 2019. “Mari kita memotivasi generasi muda untuk turut serta membangun desa,” pesannya. (AC)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*