Kimia Farma Melenggang ke Bisnis Bermodalkan Jari Lewat Mediv




oko Online Mediv Milik Kimia Farma
Acara grand launching Mediv diawali dengan acara talkshow yang menghadirkan Founder Gajah Mungkur Group Wisnu Dewobroto, Founder dan CEO of BLP, Lizzie Parra, dan Direktur Utama Kimia Farma, Honesti Basyir di Ice Palace, Lotte Shopping Avenue, Jakarta, Senin, 29 April 2019 (KalderaNews/JS De Britto)

JAKARTA, KalderaNews.com – Salah satu bukti kesiapan menghadapi era industri 4.0 di sektor bisnis adalah implementasi perkembangan teknologi. Dari sisi inilah inovasi dan kolaborasi menjadi salah satu kuncinya. Bisnis yang menegasi hal ini biasanya akan tenggelam dimakan zaman.

PT Kimia Farma (Persero) Tbk yang sudah berdiri sejak 1971 silam pada dasarnya memiliki fondasi yang kokoh sehingga bisa bertahan hingga saat ini dengan 1.178 jaringan apotik, 550 klinik kesehatan, 55 laboratorium klinik, 3 klinik kecantikan, 10 optik, 48 cabang trading & distribution dan 34 jaringan usahan di Arab Saudi.

Implementasi teknologi dalam marketplace melalui aplikasi Mediv yang diluncurkan di Ice Palace, Lotte Shopping Avenue, Jakarta, Senin, 29 April 2019 menjadi penanda nyata bahwa kolaborasi di era industri 4.0 sebuah keniscayaan. Mediv pun menjadi jalan tengah kolaborasi dengan masyarakat.

BACA JUGA:

Aplikasi Mediv dilahirkan untuk memudahkan masyarakat melakukan jual beli produk kesehatan (healthcare) dan kosmetik. Platform e-commerce ini menjadi kesempatan emas bagi masyarakat untuk menjadi entrepreneur (pebisnis) dengan menjadi mitra Mediv.

“Hanya bermodalkan smartphone masyarakat sudah bisa berbisnis produk kesehatan dan kosmetik di aplikasi Mediv dengan dua fitur unggulannya yakni Mediv Screen dan Mediv Augmented Reality (AR). Ini adalah era bisnis hanya bermodalkan jari,” tandas Direktur Utama Kimia Farma, Honesti Basyir.

Dengan target 1.000 downloder Mediv masih ditebak apakah masyarakat bisa menerima cara terbaru ini. Hal ini tentu saja sangat bergantung dari bagaimana melihat kecenderungan selera target market.

Berkaca dari pengalaman Founder dan CEO of BLP, Lizzie Parra, yang hadir di acara talkshow bahwa takut gagal itu sesuatu yang lumrah. Namun kalau takut gagal terus biasanya orang atau bisnis tidak maju-maju.

“Confortzone adalah zona yang nggak bikin maju. Yang terpenting adalah menyikapi rasa takut itu karena yang namanya hidup itu nggak enak terus. oleh sebab itu, salah satu kunci keberhasilan bisnis apa pun adalah survei target umur hingga kind of behavior yang tentunya butuh waktu lama,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan Founder Gajah Mungkur Group Wisnu Dewobroto. Ia menegaskan tidak sedikit perusahaan yang dulu oke, sekarang ini mati karena tidak bisa bersaing. Apalagi, 90 persen interaksi saat terhadap media saat ini sudah melalui gadget.

Dengan ilustrasi Candi Borobudur yang memiliki fondasi dari tatanan batu yang beragam, kolaborasi beragam juga menjadi kunci kekokohan suatu bisnis. Menariknya, saat ini harga tidak menjadi penghalang orang membeli. Saat ini orang membeli experience. Oleh sebab itu UX itu sangat penting. (JS)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*