Lagi, Siswa PENABUR Dapat Beasiswa ke Luar Negeri, Kali ini ke NTU Singapura




Alumni PENABUR Secondary Kelapa Gading (PSKG), Gabriel James Goenawan
Alumni PENABUR Secondary Kelapa Gading (PSKG), Gabriel James Goenawan (KalderaNews/JS de Britto)

JAKARTA, KalderaNews.com – Nama lengkapnya Gabriel James Goenawan. Remaja berusia 18 tahun yang baru lulus dari PENABUR Secondary Kelapa Gading (PSKG) Jakarta ini menjadi peserta didik yang beruntung karena baru saja mendapat kabar kalau dirinya diterima kuliah di kampus tersohor di Singapura yang bernama Nanyang Technological University (NTU).

Tak hanya diterima di kampus ini, ia juga mendapatkan beasiswa S1 penuh ASEAN Undergraduate Scholarship selama kuliah di NTU. Kabar beasiswa inilah yang membuatnya girang.

“Awalnya aku dapat info tentang NTU (Nanyang Technological University) Singapore dari perwakilan NTU yang datang ke sekolah. Mereka menjelaskan tentang NTU, jurusan dan persyaratan apply secara online serta beasiswanya. Info lebih lengkapnya aku lihat di websitenya,” kisahnya saat berbicara pada KalderaNews.

BACA JUGA:

Selain itu, ia merasa beruntung memiliki guru BK di sekolah yang mengingatkan tentang persyaratan yang harus dilengkapi dan kapan harus apply.

Pada dasarnya, siswa yang lulus seleksi tes akan diberikan tuition grant berupa bantuan dana sebesar 50% dari uang kuliah oleh pemerintah Singapura, tapi setelah lulus ada ikatan kerja selama 3 tahun.

“Sedangkan untuk living cost (makan dan akomodasi), kita bisa ajukan pinjaman yang dapatt dicicil dengan bunga yang sangat rendah selama 20 tahun,” tandasnya.

Reputasi NTU yang masuk World Top Rank University ke-12 dan daya tarik beasiswanya menjadi impian dan incaran pelajar Indonesia, tak terkecuali dirinya.

“Jujur aja. Awalnya aku ragu untuk apply NTU karena merasa nilai rata-rata rapor akademikku nggak bagus-bagus amat. Nggak amazing gitu, tapi masih memenuhi syarat untuk apply NTU.”

Ia mengaku, orangtua, guru sekolah dan Bapak Anton dari Wardaya College memotivasinya untuk apply di universitas top ini. Ada lagi, Sir Fielly (guru fisika) dan Miss Santi (guru BK) dan Miss Mahadewi (wakil kepala sekolah) yang memberikan surat referensi yang diperlukan sebagai salah satu persyaratannya.

Selain nilai rapor dan surat referensi dari guru sekolah, NTU juga meminta personal statement yang menceritakan aktivitas selama di sekolah, passion dan visinya setelah lulusan kuliah nanti.

“Aku sadar bahwa hidup itu harus balance dan kesuksesan itu tidak hanya diukur dari prestasi akademik saja, tapi juga dari kegiatan non-akademiknya. Maka sejak kelas 10, aku aktif berorganisasi di OSIS dan ikut kepanitiaan berbagai acara sekolah, bermain music (piano), lomba design poster dan sebagainya.”

BACA JUGA:

Tak hanya itu saja, ia juga sempat ikut lomba OSN-ICT dan lomba Canadian Mathematics Contest yang tentu menambah dan melengkapi prestasi akademiknya.

Passionku banyak. Aku suka science (math and physics), art (music piano and design), serta komputer. Inilah yang menginspirasiku untuk pilih jurusan mechanical engineering dengan spesialisasi mekatronik di NTU.”

Setelah apply secara online pada Desember 2018, ia hanya berharap dan berdoa. Ternyata awal Januari, ia mendapatkan email undangan tes. Remaja ini senangnya bukan main dan semangatnya bangkit karena peluang emas sudah terbuka.

“Aku berjuang habis-habisan, belajar persiapan tes fisika, matematika dan inggris. Test dilakukan di Jubilee School pada 26 Januari 2019 selama 2 hari. Puji Tuhan, berkat bimbingan dari sekolah dan Wardaya College. Pada tanggal 5 Maret, pas di hari ultahku, Tuhan memberiku hadiah luar biasa. Aku dikabari berhasil dan lulus tes masuk NTU.”

Ia tak bisa berkata-kata lagi mendengar kabar tersebut. Ia mengaku puas setelah kerja kerasnya membuahkan hasil dan impiannya tercapai. Tak berhenti di situ, dua hari kemudian ia dikabari NTU kalau dirinya terpilih untuk ikut tes “Full Scholarship Interview” dari ASEAN Scholarship.

“Aku dengar kalau dari 700 siswa yang ikut tes, hanya sekitar 10% (70 siswa) siswa Indonesia yang diterima masuk NTU dan yang dipanggil tes untuk scholarship interview hanya beberapa saja yang nilai tesnya tinggi. Sementara itu, kuota scholarshipnya juga hanya untuk 5 atau 6 siswa saja.”

Interview dilaksanakan melalui skype sekitar 10 menit oleh 3 orang Profesor NTU yang menanyakan mengapa dirinya memilih NTU dengan jurusan mechanical engineering, apa yang akan dilakukan setelah lulus dan universitas mana yang akan dipilihnya karena ia sebenarnya juga telah diterima di Manchester University di UK dan telah dipanggil untuk tes di Tohoku University, Jepang.

“Mereka hanya ingin tahu seberapa besar antusiasku untuk masuk ke jurusan tersebut dan visi setelah lulus. Singkat cerita, puji Tuhan. Aku berhasil mendapatkan ASEAN Scholarship.”

“Seperti mimpi rasanya. Aku yang semasa sekolah aktif di kegiatan non-akademik, namun di detik terakhir berhasil mengejar mimpiku dengan berjuang keras. Aku yakin, ini bukanlah akhir dari segalanya, tapi merupakan awal dari perjuanganku menuju impian masa depan,” pungkasnya. (JS)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*