Suara Redaksi: Studi Kasus Bunuh Diri




Kasus Gantung Diri
Ilustrasi Gantung Diri

JAKARTA, KalderaNews.com – Hati kita menjadi miris ketika membaca berita di media cetak dan online hingga status medsos tentang saudara, tetangga, teman dekat ataupun orang yang jauh dari kita mengakhiri hidupnya secara tragis dengan gantung diri, membakar diri, terjun dari ketinggian gedung tinggi, minum racun, dan lain-lainnya.

Lebih tragis lagi, jumlah anak muda yang gantung diri dan orang tua yang bunuh diri dengan membunuh serta anak-anaknya terlebih dahulu kian meningkat benar-benar mencemaskan sekaligus memilukan! Kasus-kasus bunuh diri di Provinsi Jawa Tengah yang tidak terekspose oleh media manapun jumlahnya tidak sedikit dan ini ada sebagai bagian dari deretan fakta kelam.

Bunuh diri adalah gejala sosial pada masyarakat modern. Gelombang globalisasi yang kian pesat bagi sebagian orang benar-benar bikin linglung. Pluralisme dan pembagian kerja pada masyarakat modern ini mau tidak mau ternyata mengakibatkan melemahnya kesadaran kolektif. Individualisme muncul ke permukaaan karena kekangan dan paksaan masyarakat atas individu berkurang.

BACA JUGA:

Belum lagi adanya arus globalisasi yang karakter dasarnya me-marginalisasi-kan keutamaan dan sifat manusia yang tidak mempunyai nilai pasar. Nilai-nilai seperti cinta, kehormatan, perhatian, kebersamaan, kerelaan, pengorbanan, ketanpapamrihan, integritas kepribadian dan solidaritas tidak banyak mendapat perhatian, karena tidak memberi nilai lebih di pasar

Ketika individu tidak siap untuk tampil dengan individualisme maka bisa saja ia menjadi linglung, individu kehilangan pegangan (anomi atau normlessness). Ketika kehilangan pegangan, ia lantas terbongkar keasliannya. Ia yang selama ini menjadi parasit, tiba-tiba terlepas darinya tanpa identitas. Meski demikian, ada banyak faktor dari bunuh diri yang acapkali diabaikan.

Seorang sosiolog tersohor yang lahir di desa Epinal, Prancis Emile Durkheim (1857-1917) menggagas dengan tajam sebuah perbuatan pada masyarakat modern yang nampaknya paling individualistis yaitu bunuh diri. Ia mendiktumkan bahwa perbuatan “bunuh diri“ erat berkaitan dengan faktor predisposisi psikologis tertentu, faktor keturunan dan kecenderungan seseorang meniru orang lain. Meski demikian, ia tidak puas dengan kerangka berpikir minimalis dan kurang komprehensif tersebut. Ia menangkap ada banyak kasus bunuh diri yang disebabkan oleh faktor sosial.

Dalam bukunya Le Suicide (1987) Durkheim merumuskan dan menguraikan secara gamblang tiga-tipe bunuh diri yaitu bunuh diri egoistis, bunuh diri altruistis dan bunuh diri anomis. Penulis mencoba mengadaptasikan gagasan Durkheim dalam ranah sosial di Indonesia.

Depresi
Ilustrasi Depresi

Bunuh diri egoistis terutama disebabkan oleh egoisme yang tinggi pada orang yang bersangkutan. Egoisme adalah sikap individu yang tidak berintegrasi dengan grupnya, kelompoknya, kumpulannya, kumpulan agama dan sebagainya. Kalaupun ia berada dalam sebuah grup ia tidak total berada di dalamnya. Hidupnya tertutup untuk orang lain. Ia mengalienasi diri. Ia terutama memikirkan dan mengusahakan kebutuhannya sendiri. Tujuan hidupnya demi kepentingan dirinya sendiri.

Orang yang egoismenya tinggi begini ketika mengalami krisis tidak bisa menerima bantuan moral dari grupnya. Ia sendirian, tanpa relasi dan berada di luar grupnya. Kesendirian dan kesepiannya tak teratasi. Dunia menjadi gelap. Ia dengan mudah bisa terjerumus oleh sikapnya yang sudah egois untuk mengakhiri hidupnya. Orang yang egois cenderung untuk melihat segala sesuatu dari ukurannya sendiri, tanpa memandang dunia yang ternyata tidak hanya seluas daun kelor.

Bunuh diri altruistis dipahami sebagai kebalikan dari bunuh diri egoistis. Individu terlalu berlebihan dalam integrasi dengan grup atau kelompoknya hingga di luar itu ia tidak memiliki identitas. Kelompoknya adalah identitasnya.

Pengintegrasian yang berlebihan biasanya berdimensi memandang hidup di luar grup atau dalam pertentangan dengan grup sebagai tidak berharga. Dalam konteks ini Durkheim mengambil contoh konkret orang yang suka mati syahid daripada menyangkal agamanya dan para prajurit dan perwira yang berani mati gugur demi keselamatan nusa dan bangsa. Esprit de corps kuat! Kalau seorang anggota, yang berintegrasi kuat dengan grupnya, mengalami suatu hal yang membuat hidupnya dengan hormat tidak mungkin lagi di dalam grup, ia akan lebih cenderung mengakhirinya.

Bunuh diri akibat anomi. Anomi atau normlessness adalah keadaan moral dimana orang yang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan dan norma dalam hidupnya. Normlessness terbentuk karena kikisan arus globalisasi. Nilai-nilai yang biasa memotivasi dan mengarahkan perilakunya sudah tidak berpengaruh. Adapun penyebab yang sering dijumpai yaitu musibah dalam bentuk apapun. Tekanan ekonomi maupun musibah dalam kaitan dengan kegagalan dalam relasi dengan orang menduduki peringkat pertama dalam daftar penyebab kasus bunuh diri di Indonesia.

BACA JUGA:

Kehadiran musibah dalam bentuk apapun menghantam cita-cita, tujuan dan norma hidupnya sehingga ia mengalami kekosongan hidup. Hidup terasa tidak berharga. Pada konteks inilah, di Indonesia kasus bunuh diri meningkat tajam sehingga orang rela bunuh diri dengan membakar diri, gantung diri, minum racun dan sebagainya. Banyak orang kehilangan cita-cita, tujuan dan norma dalam hidupnya.

Orang yang kehilangan cita-cita, tujuan dan norma dalam hidupnya memandang kehidupan dengan tatapan mata yang kabur dan kosong. Fokus realitas adalah dirinya sendiri yang kosong tanpa pegangan. Ia juga orang yang malas berpikir. Kalaupun berpikir, ia sudah kalah dan takut terhadap realitas. Kenyataan kehidupan dipandangnya bukan jalan terbaik. Orang demikian sebenarnya termasuk orang yang malas berpikir dan gampang terbawa pada pembelaan diri untuk menolak realitas kehidupan. Ia tidak berani membuka mata terhadap realitas di luar dirinya. Realitas menjadi momok dan beban berat.

Keadaan anomi melanda masyarakat karena adanya perubahan sosial yang terlalu cepat. Nilai-nilai tradisional tidak mampu menjawabi persoalan-persoalan yang lahir dari perkembangan zaman. Di sisi lain juga dijumpai fakta bahwa suatu masyarakat yang tidak tidak peduli dan menjarak dari masa lampau dengan mengutamakan masa depan akan mudah terjerumus pada anomi. Dengan demikian perlu keseimbangan dalam melihat nilai-nilai yang ditawarkan oleh dunia, teristimewa dunia dengan arus globalisasinya. Nilai-nilai yang ditawarkan agama pun dari hari ke hari juga harus dinamis sesuai tuntutan jaman mengingat agama adalah medium sekaligus senjata yang ampuh untuk penanaman nilai-nilai hidup. (RED)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*