Demokrasi Indonesia Jauh Lebih Maju Dibanding Ethiopia




Panel Diskusi di Ethiopia
Panel Diskusi Building and Consolidating Democracy for Development and Prosperity yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar RI di Addis Ababa bekerjasama dengan Universitas Hawassa, di Hotel Radisson Blu, Addis Ababa, Ethiopia, Rabu, 29 Mei 2019. (KalderaNews/KBRI Addis Abba)

ADDIS ABBA, KalderaNews.com – Indonesia adalah pelopor dalam berbagai pengalaman tentang demokrasi. Sejak 2008, Indonesia menyelenggarakan pertemuan tahunan Bali Democracy Forum (BDF) yang mengedepankan prinsip kesetaraan, saling memahami dan menghargai. Ethiopia berharap dapat berbagi pengalaman dengan Indonesia dalam penyelenggaraan demokrasi.

Pernyataan tersebut dikatakan oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Ethiopia, Dr. Markos Tekle ketika membuka Panel Diskusi Building and Consolidating Democracy for Development and Prosperity yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar RI di Addis Ababa bekerjasama dengan Universitas Hawassa, di Hotel Radisson Blu, Addis Ababa, Ethiopia, Rabu, 29 Mei 2019.

Lebih lanjut Dr. Markos Tekle menegaskan bahwa pertemuan dengan berbagai negara, terutama Indonesia, untuk saling berbagi pengalaman adalah hal yang dibutuhkan Ethiopia saat ini. Sebab, transisi yang dialami Ethiopia sekarang memiliki banyak kemiripan dengan proses reformasi yang terjadi di Indonesia tahun 1998. Ia mengatakan bahwa pada April 2019 tepat satu tahun reformasi Ethiopia.

BACA JUGA:

“Meskipun berbagai upaya perubahan dan meningkatkan ekonomi, sosial dan politik telah dilakukan, namun tantangan tetap saja banyak, termasuk konflik internal yang mengakibatkan jumlah internal displaced person di Ethiopia meningkat,” tambahnya.

Sementara itu Al Busyra Basnur, Duta Besar RI untuk Ethiopia, Djibouti dan Uni Afrika dalam sambutannya mengatakan bahwa panel diskusi tentang demokrasi tersebut merupakan forum tempat Indonesia berbagi pengalaman dan bertukar pikiran dengan Ethiopia tentang demokrasi.

“Forum demokrasi ini akan dilanjutkan dengan penyelenggaraan forum yang lebih besar secara regular dan melibatkan lebih banyak tokoh pemerintah dan non-pemerintah, terutama para pelaku dan pemikir demokrasi,” kata Duta Besar Al Busyra Basnur.

Hadir sebagai pembicara pada panel diskusi tersebut antara lain Dr. I Ketut Putra Erawan, Direktur Eksekutif Institut for Peace and Democracy (IPD) dari Indonesia, Prof. Alemayehu Regassa, Vice President University of Hawassa, Dr. Melvis Ndiloseh, International IDEA Africa and West Africa, Dr. Abebe Aynete, Peneliti senior Ethiopia Foreign Relations Strategic Studies Institute, Dr. Samuel Tefera, Universitas Addis Ababa dan Mr. Edhilu Shona dari Universitas Hawassa.

Panel Diskusi dihadiri oleh sekitar 70 orang berasal dari pejabat pemerintah, para Duta Besar negara sahabat di Addis Ababa, tokoh politik, akademisi, peneliti, lembaga pemikir, pengusaha, wartawan, mahasiswa, tokoh pemuda dan lembaga swadaya masyarakat lainnya. (JS)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*