Fakta Unik Gedung Mahkamah Konstitusi yang Kerap Jadi Spot Berswafoto




Ilustrasi: Gedung Mahkamah Konstitusi

JAKARTA, KalderaNews.com –  Gedung Mahkamah Konstitusi (MK) saat ini sedang menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia. Pasalnya, Mahkamah Konstitusi sedang menggelar sidang sengketa hasil pemilihan presiden dalam Pemilihan Umum 2019.

Nah, terlepas dari perkara silang sengketa itu, kemegahan gedung Mahkamah Konstitusi selalu menarik perhatian. Ada sejumlah fakta menarik nan unik terkait sejarah berdirinya Mahkamah Konstitusi di negara ini. Yuk, simak beberapa fakta unik itu!

BACA JUGA:

Para Hakim Mahkamah Konstitusi

Sebelum ada gedung itu, pertama kali MK berkantor di Hotel Santika di Jalan KS. Tubun Slipi, Jakarta Barat. Para hakim pun kerap menginap di hotel tersebut. Setelah lebih satu bulan berkantor di Hotel Santika, kantor MK pindah ke Plaza Centris di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Lantaran ruang yang terbatas, akhirnya lahan parkir pun disulap menjadi area kerja. Sementara untuk mengelar siding, MK harus menumpang di Gedung Nusantara IV (Pusataka Loka), kompleks MPR/DPR.

Pada 2004, MK juga pernah meminjam gedung milik Kementerian Komunikasi dan Informasi di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Baru pada 17 Juni 2005, pembangunan gedung MK resmi dimulai. Pembangunan gedung MK yang berada di Jalan Merdeka Barat No. 6 itu memakan waktu dua tahun dan menelan biaya sekitar Rp 200 miliar.

Desain bangunan bergaya Yunani atau Romawi kuno itu diputuskan berdasar kesepakatan para Hakim Konstitusi dan diwujudkan Ir. Soprijanto. Seperti dipaparkan dalam Buku Sejarah Pembangunan Gedung MK terbitan Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MK (2007), ide awal membangun Gedung MK sudah dibicarakan para Hakim Konstitusi.

Setelah melalui kajian arsitektural, para Hakim Konstitusi sepakat memilih konsep desain gedung gaya neo klasik Yunani atau Romawi kuno, dengan sentuhan cita rasa modern. Sembilan pilar di depan gedung merujuk pada jumlah hakim MK yang berjumlah sembilan orang. Desain Gedung MK selain mengedepankan estetika juga menampilkan karakter gedung sesuai kedudukan MK sebagai pelaku kekuasaan kehakiman.

Pembangunan Gedung MK dimulai dengan pemancangan tiang pertama oleh Ketua MK Jimly Asshiddiqie. Pembangunan Gedung MK selesai pada 13 Agustus 2007 bertepatan dengan peringatan ulang tahun MK yang keempat.

Ruang Sidang Mahkamah Konstitusi

Desain Gedung MK mengkombinasikan antara podium dan menara. Podium yang terdiri dari empat lantai dengan gaya klasik tampil sebagai gedung utama, sedangkan menara yang terdiri dari 16 lantai dibangun dengan gaya modern sebagai latar belakang podium. Bagian podium dilengkapi dengan tangga, pilar-pilar, kubah, dan mahkota kubah. Sementara bagian menara tetap menampilkan gaya gotik dengan sentuhan nuansa klasik.

Gaya arsitektur setiap sisi bangunan gedung MK merefleksikan minat seni dan sarat makna. Misal makna simbol pilar yang berjumlah sembilan buah mencerminkan jumlah Hakim Konstitusi yang menjadi garda depan lembaga “pengawal konstitusi“ ini. Selain itu, kubah mencerminkan kekuasaan, keagungan, kewibawaan sebagai lembaga peradilan tata negara yang bebas serta merdeka untuk menegakkan hukum dan keadilan. Demikian pula dengan mahkota kubah yang melambangkan supremasi konstitusi, yakni UUD 1945 sebagai hukum dasar tertinggi.

Sebagai sebuah “Rumah konstitusi”, di balik kesan wibawanya itu, desain gedung MK ini juga mengesankan ramah terhadap rakyat. Salah satunya diwujudkan dengan desain tanpa pagar yang dihiasi dengan sebuah taman kecil yang ditata secara apik di depan Gedung MK. Dengan halaman terbuka ini, MK berupaya menghilangkan kesan bahwa Gedung MK bersifat angkuh. Penataan gedung yang apik ini sempat meraih penghargaan sebagai “Gedung Ramah Lingkungan” dari Dinas Pertamanan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Maka tak heran, gedung ini kerap menjadi destinasi kunjungan sekolah atau perguruan tinggi yang sedang study tour. Halaman depan Gedung MK juga menjadi sarana rekreasi. Banyak orang menjadikannya sebagai spot berswafoto yang istagramable dengan latar belakang Gedung MK yang gagah. Jika hari Sabtu dan Minggu, serta hari libur, gedung ini berubah menjadi objek wisata, bahkan menjadi tempat foto prewedding. (yp)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*