Jadi Target Penangkapan Liar, Teripang Terancam Punah




Teripang Laut
Teripang dapat menjadi sumber bahan pangan, suplemen dan obat obatan yang bernilai ekonomi tinggi (KalderaNews/Ist)

JAKARTA, KalderaNews.com – Teripang (Timun Laut) merupakan biota laut yang memiliki nilai komersial yang sangat tinggi karena mempunyai potensi sebagai bahan baku obat dan alternatif sumber pangan. Nilai ekonomi yang tinggi menjadi target penangkapan liar di alam bebas, sehingga populasinya di alam menurun.

Teripang dapat menjadi sumber bahan pangan, suplemen dan obat obatan yang bernilai ekonomi tinggi. Selain itu, teripang terbukti memiliki kandungan gizi sebagai sumber nutrisi untuk pencegahan stunting.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah memetakan serangkaian riset untuk memetakan sebaran teripang serta pemanfaatannya. Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dirhamsyah menegaskan dalam dua dekade terakhir telah terjadi pergeseran jenis teripang tangkapan (species shifting) yang mengindikasikan bahwa jenis tertentu sudah semakin sulit ditemukan di alam.

BACA JUGA:

Tantangan pemanfaatan teripang saat ini adalah populasi di alam yang makin menurun. Teripang harus masuk ke Apendix 2 CITES yang diselenggarakan di Jenewa, Swiss pada Agustus 2019 mendatang sehingga pemanfaatan bisa dilakukan tanpa mengganggu keseimbangan populasinya di alam.

“Tersedianya data-data bioekologi teripang diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan regulasi untuk melindungi eksistensinya,” terang Dirhamsyah seperti dikutip situs LIPI.

Saat ini LIPI melakukan riset teripang untuk mendukung ketahanan pangan melalui pengembangan purwarupa sediaan cair makanan kesehatan menggunakan ekstrak etanol teripang jenis Stichopus vastus sebesar satu persen untuk satu liter produk.

Persentase tersebut menghasilkan kadar mineral yang cukup tinggi, yaitu besi (Fe) sebesar 90,38 mg/kg, kalium (K) 949,2 mg/kg, kalsium 18,2 mg/kg dan natrium (Na) 5647,6 mg/kg, juga termasuk kadar glukosamin sulfat sebesar 4,529 g/100g.

“Purwarupa tersebut berhasil memenuhi syarat yang ditetapkan oleh BPOM yaitu minim kadar mikroorganisme dan tidak mengandung logam berat,” terang peneliti Pusat penelitian Oseanografi LIPI, Ana Setyawati.

Riset lainnya terhadap teripang juga melibatkan jenis Holothuria scabra dan Stichopus noctivagus. “Uji kandungan vitamin menunjukkan bahwa kedua jenis tersebut mengandung vitamin E. Sedangkan uji kandungan mineral diketahui kalsium pada H. scabra adalah yang tertinggi kadarnya, sebaliknya pada S. noctivagus didominasi oleh mineral natrium,” papar Ana.

Untuk teknologi budidaya teripang Balai Bio Industri Laut LIPI di Mataram, Nusa Tenggara Barat telah memulai riset teknologi budidaya teripang jenis Holothuria scabra (teripang pasir) sejak tahun 2011.

Panti Benih Balai Bio Industri Laut LIPI sendiri telah mampu menghasilkan 100 ribu ekor anakan setiap tahunnya. Anakan teripang ini telah dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan untuk kegiatan litbang, kegiatan konservasi, maupun kegiatan usaha budidaya pembesaran. LIPI juga mengembangkan budidaya multitrofik yang menggabungkan komoditas teripang pasir, bandeng dan rumput laut Gracilaria sp. (LF)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat, dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*