Untuk Pertama Kali, Mahasiswi Indonesia Juarai Kompetesi Dirgantara Dunia

Tim AirFish
Tim AirFish (dok. pribadi)

TOULOUSE, KalderaNews.com – Falah Fakhriyah, mahasiswi asal Indonesia mampu membawa tim kecil, AirFish (Airbus Integrated Fisheries Information Services) lolos ke babak final dan menjadi runner up di kompetisi kerdigantaraan global “Fly Your Ideas 2019” yang digelar Airbus, produsen pesawat terbang kenamaan asal Perancis.

Ia bersama timnya dari University of Cambridge mengukir sejarah baru dalam kompetisi inovasi kedirgantaraan bergengsi tahun ini. Tim ini berhasil mengalahkan 269 ide yang lain dan membawa pulang hadiah uang tunai sebesar 10.000 Euro atau sekitar Rp160 juta.

BACA JUGA:

Tim ini terdiri atas Falah Fakhriyah, Martin Siagian, Nathan Harjanto, serta seorang mahasiswa Jepang, Keiko Miyazaki. Tim mereka menjadi satu dari tujuh tim yang lolos ke final mewakili negara-negara, seperti Argentina, Jerman, Yunani, India, Italia, Jepang, Moldavia, Belanda, Norwegia, dan Inggris.

Tujuh tim finalis itu bersaing selama sepekan di Toulouse, Perancis untuk membangun purwarupa dengan dukungan dari para mentor dan ahli di Airbus. Dewan juri yang berasal dari Airbus dan International Space University (Strasbourg) terkesan dengan semangat inovatif dan pemahaman ekonomi yang ditunjukkan Tim AirFish yang mengusung sistem pemantauan laut menggunakan teknologi pengambilan gambar dan video melalui satelit. Teknologi yang kerap dikenal sebagai remote sensing atau penginderaan jarak jauh ini dapat membantu pemerintah melawan penangkapan ikan ilegal, mengurangi penangkapan spesies langka secara tidak sengaja, serta mengurangi kerusakan habitat laut.

“Ide ini berasal dari keinginan kami untuk memberikan solusi terhadap isu yang terjadi di negara kami masing-masing (Indonesia dan Jepang), yaitu illegal fishing dan overfishing,” ungkap Falah.

Falah meraih gelar S1 di bidang Teknik Kimia, Universitas Indonesia. Meskipun bidang studi dan karier di bidang Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) masih didominasi laki-laki, tidak membuat minatnya surut untuk mendalami dan menuntaskan pendidikannya. Falah mengakui, dari kecil dia tak pernah bermimpi membangun karier di bidang STEM.

“Cita-citaku jadi guru TK. Sebelumnya aku gak kepikiran mempelajari bidang studi ini,” jelas Falah. Setelah lulus, ia bekerja di perusahaan konsultan bisnis. Dari pengalaman kerja sebagai konsultan bisnis, ia sadar bahwa saat ini bisnis yang terkait dengan teknologi, seperti perusahaan e-commerce dan ride-hailing, sedang berkembang pesat di Indonesia.

Maka, setelah tujuh tahun bekerja, Falah melanjutkan studi S2 di bidang administrasi bisnis, University of Cambridge. Selama bersekolah di Cambridge, seluruh mahasiswa didorong berpartisipasi aktif dalam berbagai kompetisi global.

“Saya dan kawan-kawan memilih berpartisipasi dalam kompetisi Airbus karena kompetisi ini sangat menarik. Belum banyak kompetisi yang menantang mahasiswa mengembangkan bisnis teknologi ruang angkasa dan antariksa,” jelas Falah. (yp)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*