Spiritualitas di Balik Pohon Natal dan Tradisi Malam Natal

JAKARTA, KalderaNews.com – Hari Natal tahun ini tinggal beberapa hari lagi. Hiasan-hiasan Natal mulai menyemarakkan suasana penyambutan peringatan kelahiran bayi Yesus. Bangunan dan toko-toko telah mulai dipercantik dengan boneka Santa Klaus, kado-kado Natal, kerlap-kerlip lampu, hiasan dan tak terlupakan pula pohon natal mulai dari ukuran mini hingga raksasa. Pohon-pohon Natal mulai menghiasi jalan-jalan, pusat perbelanjaan, stasiun kereta dan pusat-pusat kota di berbagai penjuru dunia, khususnya di Eropa sudah sejak awal Desember. Setiap tahun selalu saja bertengger pohon Natal dan riuh hiasannya yang cantik tanpa kita ketahui benar makna kehadiran pohon Natal pada Hari Raya Natal. Bagi kita yang Kristiani kadang terlalu gampang berucap Natal tiba berarti juga ada pohon Natal.

Makna Simbolik Pohon Natal

Pohon Natal berkembang dari Eropa. Sebuah pohon dalam kebudayaan Jerman Kuno mengacu pada makna kehidupan dan kesucian. Bangsa Jerman Kuno percaya bahwa dalam sebuah pohon tinggal roh-roh yang baik. Pohon-pohon dihuni oleh roh yang berkarakter baik. Mereka ini dipanggil oleh manusia melalui sebuah ritual tertentu untuk hadir membantu dan menjaga kehidupan manusia dari ancaman kejahatan yang datang dari roh-roh jahat.

Pohon Natal
Pohon Natal (KalderaNews/Ist)

Makna kehidupan terungkap dalam keyakinan bahwa pohon-pohon menjadi tempat tinggal roh-roh yang baik dan roh-roh ini menjaga, melindungi dan membantu manusia. Makna kesucian terepresentasi dalam sifat dan perbuatan roh yang tinggal dalam pohon ini yaitu menjadi suri teladan dan sekaligus selalu mengajak manusia untuk tetap hidup dalam kebaikan dan menjaga kehidupan. Pohon dengan ranting-rantingnya yang runcing dan tetap menghijau menandakan bahwa pohon selalu dihuni oleh roh yang baik dan secara langsung tampak kehadirannya yang selalu menjaga manusia dari segala bencana, ancaman dan malapetaka. Keyakinan semacam ini tetap diyakini manusia pada waktu itu meski mereka telah mengenal ajaran agama Kristiani.

Dalam perkembangan selanjutnya hiasan-hiasan pada pohon natal diartikan sebagai harapan akan kesuburan dan harapan akan kemakmuran manusia. Di banyak literatur, informasi seputar pengutamaan menghias pohon Natal sebagai pesta besar pada masa natal mulai muncul pada masa sebelum terjadinya reformasi di tubuh gereja. Pada masa-masa gereja mengalami pembaharuan (reformasi) dari Martin Lüther, pohon Natal ditafsirkan secara teologis dalam makna paralel dengan pohon di taman Eden dalam kitab Kejadian. Pohon yang berada di tengan taman Eden tersebut dinamakan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Makna Teologis

Bayi penyelamat (Yesus) dan ibunya (Maria) dibandingkan secara teologis dalam koridor figur yang kontras dengan Adam dan Hawa. Adam dan Hawa terjatuh dalam dosa setelah Hawa terbujuk oleh ular yaitu dengan mengikuti rayuan ular dan memakan buah terlarang dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa ini ditebus dengan kelahiran bayi Yesus, Sang Penyelamat.

Dalam relasi dengan pohon natal, peristiwa keselamatan melalui kelahiran Yesus berarti dosa lama Adam dan Hawa karena telah mengindahkan larangan Allah dan memakan buah terlarang dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat telah ditebus.

Pohon natal dengan hiasan berupa buah-buah apel dan hiasan manisan muncul untuk melambangkan dosa manusia pertama Adam dan Hawa dan keselamatan atas manusia melalui Yesus Kristus.

Pohon yang melambangkan kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa mulai berkembang dan tersebar pada tahun 1570 berawal dari Elsaß dan Swiss dan pertama-tama berkembang di kalangan gereja Protestan. Gereja Katolik sendiri tidak mau memparalelkan makna teologis dari keselamatan secara ekstrem dengan pohon Natal, demikian tersurat dalam beberapa literatur. Meski demikian, dimungkinkan pula bahwa identifikasi pohon Natal dengan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk tidak diragukan lagi.

Pohon Natal
Pohon Natal (KalderaNews/Ist)

Mulai tahun 1730 gereja Katolik dan Protestan menerima hiasan-hiasan pada pohon Natal berupa hiasan-hiasan lilin. Pohon Natal yang penuh dengan hiasan-hiasan lilin mulai semarak setelah zaman pencerahan yaitu pada abad XVIII. Hiasan-hiasan buah apel mulai pula diwarnai dengan warna merah dan warna emas.

Karena orang-orang zaman itu ingin mempertahankan pohon Natal sebagai tanda utama dan ciri khas pada masa Natal dan ingin melanggengkan keberadaan pohon natal hingga pesta kedatangan tiga raja dari timur yang menjenguk dan menyembah bayi Yesus, umat Kristen menghiasinya dengan penuh seksama agar pohon Natal bisa bertahan lama. Sejak masa ini pula kado-kado Natal mulai memenuhi celah-celah kosong di bawah pohon Natal. Lebih menarik lagi, impian dan keinginan anak-naka kecil dalam bentuk tulisan dan dihias dengan indah atau bahkan dimasukkan dalam miniatur khusus mulai digantung di dahan pohon Natal.

Baru pada abad XX pohon Natal dan kadang Natal digabungkan kehadirannya pada masa Natal di dalam gereja dan kehadirannya menjadi ciri khas masa Natal hingga kini. Mulai abad XX ini pula sudah terlihat umum orang memiliki pohon dan kandang Natal di rumah masing-masing.

Semarak Malam Natal

Menarik bahwa di Swiss, Perancis, Inggris dan Swedia ada tradisi unik berupa pemberkatan dan pembakaran gelondong kayu yang disebut dengan gelondong kayu natal. Dengan abu dari gelondong kayu Natal ini imam memberkati umat, binatang dan ternak piaraan, rumah dan kota yang bersangkutan. Banyak juga umat yang lantas membawa sepotong arang atau abu dari gelondongan kayu Natal yang telah dibakar ke rumah masing-masing dan menyimpannya hingga natal tahun berikutnya tiba. Mereka mempercayai ada rahmat keselamatan yang diperoleh dengan menyimpannya. Khusus di Inggris, selama gelondong Natal terbakar, umat boleh membuang sisa-sisa makanan ke dalam bara api.

Tradisi pembakaran gelondong kayu Natal pada malam natal ini ternyata berkembang dan menjalar sampai ke Amerika teristimewa di antara kaum budak berkulit hitam. Mereka berkumpul pada malam Natal di tempat khusus dan membakar gelondong pohon Natal. Selama pembakaran ini berlaku aturan perdamaian. Para budak ini tidak boleh dihukum pada malam Matal. Mereka bebas dari pekerjaan dan boleh merayakan malam Natal.

Pohon Natal
Pohon Natal (KalderaNews/Ist)

Di Balkan tradisi pembakaran gelondong kayu natal ini masih bertahan hingga kini. Sebelum pesta pembakaran pada malam Natal, ada prosesi khusus. Gelondong kayu khusus dari kayu Eik, sepanjang satu meter dan baru berumur 3 (tiga) tahun disimpan di sebuah rumah seorang gadis seperti Yesus yang dikandung dari seorang perawan. Gelondong kayu ini selanjutnya dibalut dengan kain putih. Gelondong kayu Eik yang kini menjadi gelondong kayu Natal ditandu dan diarak. Setiap orang harus mengoleskan saleb atau minyak khusus yang wangi. Gelondong kayu natal tersebut juga dilobangi agar umat bisa menuangkan minyak dan wewangian lain ke dalamnya. Dalam prosesi menuju pusat pesta, umat mendupainya dan menaburkan wewangian dan rempah-rempah. Puncak malam Natal yaitu pembakaran gelondong kayu natal diiringi pelambungan doa-doa.

Di India seremoni pohon Natal direlasikan dengan doa kristiani. Pohon Natal yang telah dihias ditanam di halaman rumah dan semua anggota keluarga berkumpul untuk berdoa dengan memegang lilin yang menyala. Pada pesta keluarga ini, mereka mendengarkan pembacaan dari kitab suci kisah kelahiran Yesus. Selanjutnya mereka meletakkan lilin yang masih menyala diujung dahan-dahan pohon Natal. Karena sudah menjadi tradisi bahwa pada pesta ini mereka juga menyalakan api unggun, ada tradisi unik pula. Mereka meloncati bara api sambil mengucapkan atau membantinkan keinginan dan impian mereka.

Kehadiran pohon Natal dan malam Natal dalam sejarah dan tradisi ternyata termaknai secara khusus dan bukan sekadar ritual wajib tanpa pemaknaan khusus. Semoga tulisan ini berguna bagi mereka yang akan menyambut dan merayakan pesta natal, pesta keselamatan. (JS)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*