Melongok Toa Pe Kong Singkawang, Perekat Aneka Sekat

Vihara Tri Dharma Bumi Raya Singkawang, klenteng terbesar di Singkawang. (kalderanews.com/y.prayogo)
Vihara Tri Dharma Bumi Raya Singkawang, klenteng terbesar di Singkawang. (kalderanews.com/y.prayogo)

SINGKAWANG, KalderaNews.com – Mula-mula, Singkawang merupakan sebuah desa dari wilayah Kesultanan Sambas. Kala itu, wilayah Singkawang yang berada di pesisir Laut Cina Selatan menjadi tempat persinggahan favorit para pedagang dan penambang emas Monterado. Mereka mayoritas berasal dari Tiongkok, terutama dari daerah utara, seperti Kanton yang berbahasa Hakka. Orang-orang Cina itu kerap menyebut tempat persinggahan ini, San Kheu Jong.

BACA JUGA:

San Kheu Jong kian ramai. Banyak penambang dan pedagang dari Tiongkok memilih menetap di daerah ini. Mereka membawa serta budaya dan tradisi dari negeri asal. Mereka juga kawin mawin serta beranak pinak di sini.

Tak mengherankan jika hingga saat ini, Singkawang amat kental dengan budaya dan tradisi Tiongkok. Hampir di setiap gang, jalan, di tepian sungai, serta perkampungan, ditemukan klenteng, tempat ibadah bagi penganut Konghucu. Maka, banyak orang menjuluki tempat ini sebagai Negeri Seribu Klenteng.

Sore itu, saya pun mendapat kesempatan mengunjungi Vihara Tri Dharma Bumi Raya Singkawang, klenteng terbesar di Singkawang. Suasana sepi. Hanya ada beberapa pekerja yang sedang menyiapkan hio. Aroma hio menusuk sela-sela lubang hidung. Temaram lilin-lilin menerangi sudut-sudut klenteng yang didominasi warna merah.

Sebuah klenteng berdiri di tepian sungai di Singkawang. (Kalderanews.com/y.prayogo)

Masyarakat Singkawang menyebut klenteng-klenteng ini dengan sebutan Pak Kung (‘Pak’ berarti kakak laki-laki dari ayah; ‘kung’ berarti kakek). Jadi, Pak Kung bisa diartikan sebagai ‘sesepuh yang amat sangat dihormati atau yang menjadi sesembahan’. Biasanya, orang Hakka menambahkan kata ‘thai’ yang artinya besar, sehingga menjadi Thai Pak Kung (dialek Hokkien menyebutnya Toa Pe Kong).

Kehadiran Toa Pe Kong ini tak hanya sebagai pusat peribadatan, namun juga menjadi sarana sosial bagi masyarakat untuk saling bertemu. Toa Pe Kong tak hanya menjadi tempat berdoa. Ia juga menyimpan segala cerita, cinta, cita-cita, serta sejarah orang keturunan Tionghoa di Singkawang.

Klenteng di Singkawang tak hanya sarana ibadah. Ia hadir merekatkan segala perbedaan dalam masyarakat Singkawang. Ia menjadi simpul persaudaraan dalam dinamika masyarakat. (yp)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*