Awardee Beasiswa Darmasiswa 2019/2020 Ternyata Fasih Berbahasa Indonesia




Plt. Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ade Erlangga Masdiana saat berdiskusi dengan para penerima beasiswa Darmasiswa tahun ajaran 2019/2020 dari negara-negara sahabat tentang pengalaman mempelajari Bahasa Indonesia di Ruang Belajar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur
Plt. Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ade Erlangga Masdiana saat berdiskusi dengan para penerima beasiswa Darmasiswa tahun ajaran 2019/2020 dari negara-negara sahabat tentang pengalaman mempelajari Bahasa Indonesia di Ruang Belajar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur (KalderaNews/Kemendikbud)

MALANG, KalderaNews.com – Para penerima beasiswa program Darmasiswa tahun ajaran 2019/2020 dari negara-negara sahabat ternyata telah fasih berbahasa Indonesia. Pengakuan ini disampaikan Plt. Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ade Erlangga Masdiana saat berdiskusi tentang pengalaman mereka mempelajari Bahasa Indonesia di Ruang Belajar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur.

“Belajar Bahasa Indonesia sampai bisa menjadi mentor teman lainnya, belajar secara serius dan praktikan. Agar ketika nanti setelah selesai program Darmasiswa selama satu tahun, dapat kembali ke negara masing-masing dapat mengajarkan Bahasa Indonesia,” tutur Erlangga.

Selama mengikuti program, para peserta Darmasiswa tersebut akan mendapatkan bimbingan tugas-tugas agar dapat melakukan diskusi mengenai topik perkuliahan, dan melakukan penelitian mengenai berbagai hal terutama penggunaan Bahasa Indonesia, seni dan kebudayaan Indonesia.

BACA JUGA:

Sementara untuk mengenalkan budaya lingkungan sekitar dan pariwisata, para peserta diajak berkeliling ke beberapa destinasi wisata. Selain itu, mereka juga akan melakukan jelajah nusantara ke beberapa destinasi wisata di berbagai provinsi.

“Mereka akan diajarkan budaya nusantara seperti membatik, bermain alat musik tradisional, tarian, dan lainnya. Karena tinggal di Malang, tentu kami akan memperkenalkan Malang di kancah internasional, baik pariwisata alam, buatan, dan sejarah di Malang Raya,” terang Sekretaris BIPA UMM Fida Pangesti.

Bagi pihak UMM, terangnya, kehadiran mahasiswa asing dalam naungan Kemendikbud yang bernama beasiswa program Darmasiswa adalah bukti dan tindak lanjut kesepakatan bersama antara UMM dengan Kemendikbud untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi mahasiswa asing dari berbagai negara dalam rangka pengembangan akademik, Bahasa Indonesia dan Kebudayaan. Dalam kerjasama ini, UMM juga memfasilitasi mahasiswa asing tersebut dalam pengurusan keimigrasian dan izin belajar.

Ketika ditanya mengenai kendala dalam mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), Fida menjawab bahwa kemampuan menerapkan materi pembelajaran dari mahasiswa itu sendiri memang berbeda satu sama lain, khususnya mahasiswa tersebut dalam berkomunikasi dengan masyarakat atau di luar kelas menggunakan Bahasa Indonesia non-formal atau tidak terstruktur sehingga menjadi kendala tersendiri dalam penerapan pembelajaran Bahasa Indonesia.

“Oleh karena itu kami di sini ada mata kuliah sosiolinguistik, yang lebih fokusnya kepada penggunaan aktual Bahasa. Tujuannya untuk menjembatani mahasiswa asing yang ketika di dalam kelas belajarnya menggunakan Bahasa formal, maka mereka dijembatani dengan mempelajari penggunaan aktual Bahasa tersebut,” tuturnya.

Satu mahasiswi yang mengikuti program Darmasiswa, Kim Bo Yeong asal Busan, Korea Selatan mengaku memilih UMM karena ingin mempelajari berbagai budaya yang ada di kampus tersebut.

“Selain saya ingin mempelajari Bahasa Indonesia, saya juga ingin belajar tentang budaya Islam. Informasi yang saya dapatkan, Islam di Indonesia dikenal ramah, Jadi saya sangat ingin mempelajari dan membuktikan secara langsung hal itu,” kata Bo Yeong seperti dikutip dari laman resmi Kemendikbud.

Senada dengan Bo Yeong, Waenuseela Soh yang berasal dari Bangkok, Thailand, mengungkapkan kekagumannya atas toleransi antar umat beragama di Indonesia yang mayoritas beragama islam.

“Indonesia memiliki keanekaragaman agama, suku dan budaya, saya sangat bersemangat saat di beritahu oleh kedutaan bahwa saya lolos untuk mengikuti program Darmasiswa di Indonesia. Selain keinginan belajar Bahasa Indonesia, saya juga tertarik dengan budaya suku toraja tentang ritual pemakaman serta kematian di sana, setelah program ini selesai saya ingin memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia ke negara saya serta saya juga ingin nantinya membuat travel agent untuk memperkenalkan pariwisata di Indonesia,” ucap Waenuseela Soh.

Sementara itu, Mahasiswi Keio University, Tokyo, Jepang, Urano Risa mengungkapkan bahwa program Darmasiswa di Indonesia sangat bermanfaat baginya, karena sejalan dengan tujuan karirnya untuk menjadi konsultan atau marketing bagi produk ekspor dan impor dari Indonesia.

“Saya sangat suka di Indonesia, terutama orang-orangnya sangat ramah dan peduli. Saya berharap dapat tinggal lebih lama di Indonesia, karena disini makanannya juga murah dan masyarakatnya bersahabat. Sebelumnya saya merupakan internship di perusahaan kecil namun terkenal di Jepang yang bergerak di bidang advertising, jadi saya sangat ingin bisa berbahasa Indonesia dan mempelajari keseharian dari orang-orang di Indonesia, agar saya dapat mengajarkan Bahasa Indonesia di negara saya serta menjadi konsultan dalam memberikan informasi tentang kehidupan di Indonesia,” jelas Urano Risa.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*