Horor Alas Baluran Trending Topik, Seperti Inilah Thread Lengkap Horor Faris Andani

Ranggas pepohonan di Alas Baluran
Ranggas pepohonan di Alas Baluran (KalderaNews/Arli Cia)

JAKARTA, KalderaNews.com – Jagat maya sedang dihebohkan dengan thread horor di media Twitter yang kini menjadi trending topik setelah ada kicauan Faris @farisandani. Per Minggu siang, 29 Maret 2020, kata Baluran trending topic dikicaukan lebih dari 22K warga netizen dan threadnya sendiri telah 22,5 rb Retweet.

BACA JUGA:

“Pada tau Alas Baluran nggak? Yang sering perjalanan darat ke Bali atau Banyuwangi pasti lewat alas ini. Dulu ibuku pernah naik bus dari Pasuruan mau ke Banyuwangi, tiap kali mudik beliau selalu ceritain pengalaman horrornya. Mau baca nggak?” kicau @farisandani mengawali threadnya.

Faris Andani
Faris @farisandani “Saya orangnya sederhana, beda jauh sama mantan kamu. Jadi kalau kamu memang benar cinta, cintai apa sederhananya saya” dengan 236,3 rb Pengikut (Foto: Twitter: @farisandani )

Diketahui, Taman Nasional Baluran adalah salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur, Indonesia. Nama dari Taman Nasional ini diambil dari nama gunung yang berada di daerah ini, yaitu Gunung Baluran. Berikut ini thread horor tersebut:

Ada 2 versi cerita Ibu yang setiap perjalanan mudik beliau ceritakan. Untuk informasi saja, setiap mudik, perjalanan yang kami ambil selalu malam hari. Supaya sampainya di Banyuwangi bisa pagi. Dan lagian, saya yang nyetir, lebih suka nyetir gelap daripada terang.

Pengalaman horror Ibu, Ayah, dan saudara Ibu tentang Alas Baluran. Ibuku orang asli Blambangan, kakak adik beliau juga ada di Banyuwangi. Jadi setiap mudik pasti ke sana dan lewat alas ini. Beliau selalu cerita tentang seramnya alas Baluran. Coba aku ceritakan, ya.

Cerita Ibu versi yang pertama. Seingat beliau, kejadiannya tahun 1988 atau 1989, lupa persisnya. Perjalanan mudik ke Banyuwangi seperti biasanya Ayah-Ibu tempuh menggunakan bus. Pada tahun itu belum ada rezeki untuk beli mobil.

Berangkat dari Pasuruan, Ayah-Ibu memutuskan untuk berangkat menggunakan bus malam dengan harapan sampai sana pagi saja. Perjalanan yang lama menjadi tidak begitu berasa bila dipakai tidur. Perjalanan darat dari Pasuruan ke Banyuwangi kurang lebih 5-6 jam.

Sekitar pukul 11 malam perjalanan dimulai. Bus lumayan penuh, tetapi masih ada beberapa bangku kosong. Melewati 3 jam awal perjalanan, Probolinggo – Kraksaan – Besuki, hampir semua penumpang tertidur. Waktu menunjukkan pukul 02.00. Sedikit lagi sampai Situbondo.

Semua penumpang masih tertidur. Sayup-sayup ibu mendengar suara kenek bus ngobrol sama pak supir.

“Diluk engkas iki.. Diluk engkas..”

(Sebentar lagi ini, sebentar lagi..)

Mungkin pertanda bahwa sebentar lagi bus akan melewati alas baluran.

Benar saja, bus pun mulai memasuki hutan yang penerangannya hanya terdapat pada kilometer awal saja. Ibuku memutuskan untuk tidur lagi.

Semak-semak di Baluran
Semak-semak di Baluran (KalderaNews/Arli Cia)

Suasana bus hening, hening sekali. Hanya ada suara mesin bus yang sesekali dipaksa kuat melewati beberapa tanjakan di hutan.

Kurang lebih sudah 30 menit bus berjalan di tengah hutan. Lampu kuning dalam bus zaman dulu makin menimbulkan kesan seram dalam perjalanan mudik ayah dan ibuku.

Lalu momen seram pun terjadi..

Di tengahnya heningnya bus, tiba-tiba ada suara lirih dari dalam bus. Kira-kira baris ketiga dari depan, sedangkan ayah-ibu ada di tengah.

Suara anak kecil. Pelan, tapi berulang.

“Pak, mandek kene pak..”
“Pak, aku mudun kene..”
(Pak, berhenti di sini pak..)
(Pak, aku turun di sini pak..)

Suara anak kecil tadi membuat penumpang bus terbangun. Ada kalimat-kalimat tanya dan heran dari penumpang bus yang terdengar.

“Sopo iku? Sopo?”
(Siapa itu? Siapa?)

“Loh le, iki tengah alas, kowe arep nyapo mudun nang kene?”
(Loh dek, ini tengah hutan, kamu ngapain turun di sini?)

Pertanyaan kenek bus itu lantang terdengar semua penumpang. Beberapa ada yang mulai istighfar.

“Omahku nang kene pak, wis to aku mudun kene wae..”
(Rumahku di sini pak, sudahlah aku turun di sini saja..)

Jawaban anak kecil itu makin saja membuat malam semakin seram. Dilihat dari bentuk tubuhnya, anak kecil itu seperti masih SD.

Dia sendirian.

Bus pun berhenti di pinggir jalan. Sekeliling kanan-kiri masih hutan, pohon-pohon menjulang tinggi. Semua penumpang berdiri dari kursi dengan maksud ingin melihat secara langsung anak kecil tadi.

Rumah? Di tengah hutan? Yakali.

Semak-semak di Baluran
Semak-semak di Baluran (KalderaNews/Arli Cia)

Waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Tidak ingin membuang waktu, akhirnya kenek bus mempersilakan anak kecil itu untuk turun.

Sambil bicara sedikit heran;
“Omahe sopo le nang kene, kowe demit yo, Ya Allah Gusti..”
(Rumahnya siapa nak di sini, kamu setan ya, Ya Allah Gusti..”

Sambil turun dari bus, tidak ada jawaban sama sekali dari anak kecil tadi. Supir bus pun menyuruh kenek untuk segera menutup pintu.

“Wes ndang tutupen.. tutupen lawange, demit iku cak!”
(Udah cepet tutup, tutup pintunya, setan itu!)

Seisi bus Astaghfirullah semua.

Bapak-bapak di bangku paling depan meminta ke supir untuk jangan pergi dulu dari situ. Mungkin penasaran.

“Sek pak, ojok budal sek..”
(Sebentar jangan berangkat dulu)

Sementara di sisi sebelah kiri, anak kecil tadi berjalan ke arah hutan.

Semua penumpang termasuk ayah ibuku melihat ke hutan sebelah kiri. Anak kecil itu terus berjalan ke arah dalam hutan tanpa ada berhenti.

Tiba-tiba.
“Astofirulloh.. ilang areke cak!”
(Astagfirullah, anaknya hilang!)

Suara kenek bus nyaring dan diikuti istighfar semua penumpang.

Ibuku bilang, “itu anak jalannya biasa aja, nggak lari, nggak cepet juga. Belum sampai ke area tengah hutan tiba-tiba hilang. Ibu inget banget waktu itu udah hampir setengah 4. Nggak masuk akal ada rumah..”

Kayak anak kecil biasanya kok.
Pakai kaus, celana pendek.

Kondisi dini hari itu jalanan sepi, nggak ada lalu lalang satu pun kendaraan. Jalanan yang jelek dan berlubang membuat alas baluran seperti hanya punya jalan setapak.

Pesona Baluran
Pesona Baluran (KalderaNews/Arli Cia)

Penumpang pun kembali tenang. Meski ada juga ibu-ibu yang minta lekas melanjutkan perjalanan.

Versi satu cerita ibuku selesai pada anak kecil yang minta turun dari bus padahal masih di tengah hutan.

Maaf kiranya kurang seram, tapi beberapa kali nyetir lewat alas itu tengah malam rasanya nggak akan bisa tenang. Cobain sendiri deh.

Versi kedua cerita ibuku lebih seram daripada cerita yang anak kecil. Menurutku lebih seram, karena biasanya lewat alas itu sekitar 45 menit, tapi ini bisa jadi 2 jam lebih.

Lokasinya sama; Alas Baluran.

Dan ada lagi cerita saudara Ibuku. Lebih dari satu cerita, mulai dari ditemenin mbak kunti di jok mobil belakang, lewat alas baluran kanan kirinya banyak setan yang ngejar, sampai cerita soal Rawon Nguling.

Jadi panjang nih thread.
Mau yang mana duluan?

Yaudah, versi kedua cerita ibu, ya. Selanjutnya cerita saudara ibu, saya manggilnya Om. Sebelum nanti ceritain yang punya Om, saya izin ke Ibu dulu, boleh cerita atau enggak soalnya Om saya sudah meninggal. Kecelakaan di Banyuwangi.

Duh, maaf saya cerita versi kedua besok aja ya. Ini jendela kamar ada yang ngetok-ngetok. Anjirlah. SELANJUTNYA BACA:Baluran Angker dan Horor Trending Topik, Ini Reaksi Baper Netizen

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*