Begini 7 Fakta Ki Hajar Dewantara, Ternyata Pernah Jadi Santri dan Menteri

Ki Hajar Dewantara. (Ist.)
Ki Hajar Dewantara. (Ist.)

JAKARTA, KalderaNews.com – Setiap 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hardiknas tentu tak lepas dari sosok Ki Hadjar Dewantara, lantaran tanggal 2 Mei adalah hari kelahirannya.

BACA JUGA:

So, mengapa Ki Hajar Dewantara amat penting dalam pendidikan di Indonesia? Untuk mengenal lebih tentang dia, yuk simak fakta-fakta Ki Hajar Dewantara berikut ini:

Sesuai dengan hari kelahiran
Hari Pendidikan Nasional ditetapkan berdasarkan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Ia lahir di Pakualaman, 2 Mei 1889.

Ki Hadjar Dewantara bersekolah formal di lingkungan Istana Paku Alam, juga dari luar antara lain di ELS, Kweekschool, dan Stovia. Namun sekolah di Stovia tak sempat diselesaikan karena sakit.

Atas jasanya merintis pendidikan umum, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan tanggal kelahirannya di tetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ketetapan ini dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 28 November 1959. Ki Hajar Dewantara wafat di Yogyakarta, 26 April 1959 pada usia 69 tahun dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.

Santri buncit
Ki hadjar Dewantara pernah menjadi santri selama beberapa tahun. Ia masuk pesantren di kawasan Kalasan, Prambanan di bawah bimbingan Kyai Sulaiman Zainuddin. Saat menjadi santri, ia dijuluki “Jemblung Trunogati” yang berarti anak berperawakan kecil dengan perut buncit, namun memiliki pengetahuan yang luas.

Wartawan berani
Ki Hadjar Dewantara mengawali perjuangan politik dari dunia jurnalistik, sebagai wartawan muda. Dunia jurnalistik mengenalkannya dengan Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudhi, rekan pengelola harian De Expres.

Sebagai wartawan muda, ia aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada 1908, ia aktif sebagai seksi propaganda Boedi Oetomo. Tugasnya mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Bersama Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij. Mereka kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”.

Tulisan Ki Hadjar Dewantara yang menggemparkan pemerintah Belanda berjudul Als Ik Eens Nederlander was atau Andaikan Aku Seorang Belanda. Tulisan tersebut merupakan reaksi terhadap rencana pemerintah Belanda mengadakan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penindasan Perancis yang akan dirayakan pada bulan November 1913 dengan memungut biaya secara paksa kepada rakyat di negeri jajahan.

Ia pun ditangkap Belanda bersama Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Mereka diasingkan ke Belanda.

Bukan nama asli
Nama aslinya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Tapi sejak 1922, ia berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Ia tak lagi menggunakan gelar bangsawan pada namanya.

Semboyan terkenal
“Tut wuri handayani, ing ngarso sung tuladha, ing madyo mangun karsa”. Itulah semboyan yang amat terkenal dari Ki Hajar Dewantara. Bahkan kalimat “Tut Wuri Handayani” hingga kini masih dipakai dalam logo Kementerian Pendidikan Nasional.

“Ing ngarso sung tuladha’ itu berarti seorang pemimpin harus menjadi teladan. “Ing madya mangun karsa” artinya seorang pemimpin harus terus membangkitkan semangat. “Tut wuri handayani” berarti pemimpin harus memberikan dukungan dan dorongan moral untuk selalu berkehendak baik.

Pendiri Tamansiswa
Ki Hadjar Dewantara dipandang sebagai perintis pendidikan di Indonesia lantaran pada 3 Juli 1922, ia mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Taman Siswa merupakan lembaga pendidikan untuk kaum pribumi kala itu.

Menjadi menteri
Pada kabinet pertama Republik Indonesia, Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama. Pada 1957, ia juga mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari Universitas Gadjah Mada. (yp)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*