5 Alasan Mengapa Anak-anak Perlu Kembali Belajar di Kelas

Anak-anak sekolah dasar di Ghana (Reuters)

JAKARTA, KalderaNews.com — Hampir di semua negara yang ingin membuka kembali sekolah mereka di masa pandemi COVID-19 terjadi pro-kontra. Yang terbaru adalah di Inggris. Ketika pemerintah negara itu memastikan tanggal 1 Juni ini sebagai awal kembalinya anak-anak sekolah dasar belajar di ruang kelas, banyak yang menentangnya.

Sejauh ini pemerintah Inggris masih konsisten dengan rencana tersebut. Namun orang tua murid yang belum siap mengizinkan anak-anaknya kembali ke sekolah diberikan keleluasaan memutuskan.

Walaupun pada awalnya suara yang kontra sangat besar, pengalaman di negara-negara yang sudah membuka kembali sekolah menunjukkan pada akhirnya meredup seiring dengan waktu. Di Denmark dan di Australia, misalnya, tidak ada lagi perdebatan yang signifikan, seiring dengan antusiasme anak-anak memasuki sekolah.

David Jeffrey dan Schrochis Karki, pakar pendidikan dari Oxford Policy Management, Inggris, memaparkan argumen tentang perlunya kembali anak-anak belajar di kelas. Argumen ini didasarkan pada pengalaman dan studi mereka di sejumlah negara di Afrika, yang mengalami krisis akibat mewabahnya penyakit, konflik ataupun bencana alam.

BACA JUGA:

Jeffrey dan Karki dengan lembaga mereka, telah melakukan studi di Uganda, Kenya, Etiopia, Sierra Leona, Bangladesh dan Pakistan. Argumen mereka juga didasarkan pada studi mereka terhadap dampak dari Ebola di Afrika Barat.

Berikut ini ada lima alasan yang disebutkan, dikutip dari tulisan mereka berjudul Five Lessons on Reopening South Africa’s Schools, yang dimuat di Mail Guardian pada 21 Mei lalu.

Pertama, murid-murid melupakan banyak sekali pelajaran ketika sekolah ditutup. Di Malawi, misalnya, sebuah studi mengatakan kemampuan membaca anak-anak menurun ketika kembali ke sekolah setelah liburan.

Sayangnya, keberhasilan mencegah penurunan ini, khususnya ketika sekolah-sekolah ditutup karena krisis, sangat jarang di negara-negara sedang berkembang. Afrika Selatan tampaknya tidak sanggup mengatasi tren ini.

Kedua, menjalankan program pendidikan lain semisal pembelajaran melalui televisi, bagaimana pun memiliki arti penting, untuk membantu anak-anak tetap merasa terkoneksi dengan pendidikan, terlepas dari bagaimana pun hasil pembelajaran tersebut. Program semacam ini bermanfaat untuk mengurangi penyakit mental anak-anak dan meningkatkan kemungkinan mereka akan kembali ke ruang kelas ketika pembelajaran di sekolah dibuka kembali.

Ketiga, bersekolah (schooling) memiliki makna lebih penting daripada belajar (learning). Penutupan sekolah dan isolasi memiliki dampak negatif terhadap anak-anak secara fisik dan kesehatan mental. Dampak dan ancamannya lebih besar pada anak-anak di kalangan miskin, khususnya perempuan, dimana mereka akan belajar dan makan lebih sedikit dan lebih berkemungkinan terpapar pada perilaku berisiko tinggi, dibanding teman-teman mereka yang lebih kaya.

Selain itu, ada masalah tentang sulitnya perlindungan terhadap anak. Misalnya, ketika ‘lockdown‘ karena Ebola diberlakukan, rasa frustrasi keluarga dan penghukuman terhadap anak-anak meroket di negara-negara yang terdampak. Penelitian di bidang ini merekomendasikan panduan dan dukungan bagi orang tua untuk mencegah hal ini. Ini penting khususnya bila pembukaan kembali sekolah tidak jadi pada 1 Juni 2020.

Dengan memperhatikan ini, sangat penting untuk mempersiapkan ‘fase pemulihan’ ketika sekolah dibuka kembali. Menteri Pendidikan Afrika Selatan, Angie Motshekga, belum lama ini menekankan sangat penting untuk memusatkan perhatian pada upaya memastikan kesehatan fisik dan mental orang tua dan guru, dalam mengadaptasi proses belajar dan mengajar.

Keempat, adalah sangat dapat dipahami bahwa yang paling enggan terhadap pembukaan kembali sekolah bukan hanya guru tetapi juga orang tua. Sierra Leone dan Liberia menjalankan kampanye-kampanye terkoordinasi kepada para orang tua untuk memastikan keamanan pembukaan kembali sekolah. Ini juga berlaku di Afrika Selatan.

Proses pembelajaran pada awalnya pasti akan terganggu ketika para guru menyadari harus mengelola kurikulum di satu sisi dan menghadapi rendahnya kehadiran anak-anak di sisi lain, di samping rasa cemas sebagian keluarga.

Kelima, walaupun anak-anak mungkin telah melupakan banyak yang mereka pelajari, masih ada peluang untuk untuk memulihkan kehilangan itu dengan cepat. Program-program percepatan pembelajaran yang didesain secara baik menunjukkan keberhasilan dalam mengintegrasikan anak-anak, kendati dalam keterbatasan sumberdaya dalam konteks pasca konflik.

Program-program yang demikian mengharuskan fokus pada elemen-elemen penting kurikulum yang sempat hilang. Di sejumlah negara, hal ini telah dapat diatasi dengan menciptakan relawan-relawan berbasis komunitas yang menerima pengarahan singkat dan dukungan on the job training.

Analisis lebih detil perlu untuk melihat apakah adaptasi seperti ini akan layak di Afrika Selatan. Tetapi pelajaran dapat ditarik dari Tanzania, Ghana, Uganda, Burundi, Sierra Leona dan Liberia yang telah menjalankan pelajaran semacam ini.

Adalah tidak pada tempatnya bila para ahli pendidikan berkomentar tentang penularan virus akibat pembukaan sekolah –keputusan tentang hal semacam ini lebih baik diserahkan kepada ahli Epidemologi dan ahli Kesehatan Masyarakat. Bagaimana pun, kita perlu memikirkan secara proaktif kepentingan anak-anak dan proses pembelajaran mereka.

Ketika tiba pada bagaimana melindungi sistem pendidikan kita, peluang yang paling menjanjikan adalah mempersiapkan fase pemulihan. Di tengah ketidakpastian, kita masih dapat mengadaptasi pelajaran dari pengalaman yang sudah lalu untuk membangun dan mempersiapkan sistem pendidikan yang berketahanan.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*