Inilah Panduan WHO bagi Sekolah yang akan Buka Kembali

Hari pertama sekolah di Swiss. Jarak pembatasan fisik dilakukan secara ketat. Di Inggris pemerintah memberlakukan jarak dua meter. (REUTERS/Denis Balibouse)

JAKARTA, KalderaNews.com — Belakangan ini semakin banyak negara yang melonggarkan restriksi beraktivitas terkait penanganan penularan COVID-19. Mengantisipasi hal itu, World Health Organization (WHO) menerbitkan panduan baru bagi para pengambil keputusan tentang bagaimana sekolah dan tempat kerja untuk dapat dibuka kembali dengan aman.

“Kita perlu menetapkan secara benar prioritas kita seiring dengan langkah kita memasuki fase baru perang ini,” kata Michael J. Ryan, Chief Executive Director WHO Health Emergency Programme, dalam keterangan persnya di Jenewa, hari Senin (10/05) lalu.

BACA JUGA:

Berikut ini adalah 15 hal yang disarankan oleh WHO dilakukan oleh sekolah ketika memutuskan untuk kembali melaksanakan aktivitas pendidikan di kelas. Pokok-pokok aturan ini dikutip dari panduan yang diterbitkan WHO, “Considerations for School-related Public Health Measures in the Context of COVID-19,” pada 10 Mei lalu.

  1. Didiklah setiap orang di sekolah tentang pencegahan COVID-19. Termasuk cara mencuci tangan yang layak dan teratur, kesehatan pernafasan, penggunaan masker bila diharuskan, pengenalan akan gejala COVID-19 dan apa yang harus dilakukan bila Anda sakit. Kontak tanpa bersentuhan juga disarankan. Berikan pemutakhiran akan hal-hal ini setiap pekan.
  2. Buatlah jadwal mencuci tangan terutama untuk anak-anak kecil, dan sediakan air bersih dan sabun untuk mencuci tangan di tempat masuk ke sekolah dan di sekitar lingkungan sekolah.
  3. Jadwalkan pembersihan lingkungan sekolah secara teratur setiap hari, termasuk toilet, dengan air dan sabun dan disinfektan. Bersihkan dan lakukan disinfektanisasi secara teratur pada permukaan yang sering menjadi objek sentuhan tangan, seperti gagang pintu, meja, alat-alat permainan, alat-alat tulis, tombol menghidupkan lampu, alat bantu guru yang sering dipakai anak-anak, sampul buku dan sejenisnya.
  4. Cari tahu apa yang dapat dilakukan untuk membatasi risiko untuk bersentuhan langsung secara fisik di antara murid, pada pelajaran yang bersifat fisik. Misalnya dalam kegiatan olah raga atau aktivitas fisik lain seperti bermain, dan berkumpul di ruang ganti.
  5. Perbanyak frekuensi pembersihan di fasilitas gym dan olah raga dan kamar ganti. Sediakan tempat mencuci tangan pada jalan masuk dan keluar. Buat sirkulasi satu arah para atlet untuk memasuki fasilitas olah raga, dan batasi jumlah orang yang diizinkan di ruang loker pada saat bersamaan.
  6. Tekankan aturan kebersihan tangan dan pernafasan serta physical distancing di sarana transportasi seperti bus sekolah. Beri tips aman bagi pelajar bepergian dari dan ke sekolah, termasuk bagi mereka yang menggunakan transportasi publik. Pastikan satu tempat duduk hanya boleh diduduki satu anak dan usahakan berjarak paling tidak satu meter di dalam bus. Jika memungkinkan, tambah jumlah bus sekolah.
  7. Kembangkan kebijakan sekolah memakai masker dan penutup wajah disesuaikan dengan panduan nasional dan lokal. Jika staf sekolah sakit, ia harus tidak datang ke sekolah. Sediakan masker kesehatan yang cukup bagi mereka yang membutuhkan seperti perawat sekolah dan anak-anak yang menunjukkan gejala COVID 19.
  8. Tetapkan kebijakan staying at home jika sakit kepada para murid, guru dan staf sekolah apabila menunjukkan gejala COVID-19. Pastikan komunikasi sekolah dengan orang tua terjalin dengan baik.
  9. Ciptakan daftar periksa (check list) untuk orang tua/pelajar dan staf untuk memutuskan apakah mereka dapat pergi ke sekolah sesuai dengan saran ahli kesehatan, dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan mereka.
  10. Abaikan keharusan mendapat surat keterangan dokter bagi yang tidak datang ke sekolah apabila ada penularan COVID-19 di komunitas setempat.
  11. Pertimbangkan mengukur suhu badan guru, murid, staf dan pengunjung setiap hari, menjelang masuk ke lokasi sekolah untuk mengidentifikasi siapa yang sakit.
  12. Pastikan murid yang pernah berkontak dengan pasien COVID 19 untuk tetap berada di rumah selama 14 hari. Sekolah harus memberitahu hal ini kepada otoritas kesehatan publik bila ada kasus positif COVID-19.
  13. Buatkan prosedur bagi murid atau staf yang memiliki gejala COVID-19 untuk dapat segera dipulangkan dan diisolasi dari yang lain.
  14. Komunikasikan kebjakan ini kepada orang tua. Ajak kerjasama mereka untuk melaporkan kasus COVID-19 di rumah, bila ada. Bila di rumah ada orang yang dicurigai menunjukkan gejala COVID-19, biarkan murid tetap di rumah dan informasikan ke sekolah.
  15. Jelaskan kepada murid alasan sekolah menerapkan peraturan ini, termasuk menjelaskan alasan ilmiahnya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*