Jelang Lebaran di Tengah Pandemi, Rektor UIN Malang Bikin Puisi, Begini Isinya

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Profesor Abd Al Haris Al Muhasibiy. (Dok. UIN Malang)
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Profesor Abd Al Haris Al Muhasibiy. (Dok. UIN Malang)

MALANG, KalderaNews.com – Ragam upaya dilakukan untuk mengajak masyarakat untuk bersabar menghadapi pandemi Covid-19 dan menyongsong tatanan dunia baru. Nah, upaya itu juga dilakukan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Profesor Abd Al Haris Al Muhasibiy.

BACA JUGA:

Caranya terbilang unik. Ia menulis puisi untuk mendorong masyarakat bangkit dengan menguatkan tali silaturahmi dan saling menyayangi dengan niat kuat dan membangun struktur dan budaya yang yang damai.

Ingin tahu isi puisi Sang Rektor. Yuk simak!

Kalau hari ini kita sedang diuji pandemi. Tidak kurang para pendahulu pejuang RI. Mereka menghadapi ujian yang bertubi-tubi.

Sebuah aneksasi bumi pertiwi yang tidak pernah henti. Bangsa-bangsa penjajah yang terus menghegemoni.

Penderitaan yang tidak bisa diukur yang sangat menyakiti hati. Namun mereka bisa bangkit dan kemudian tegak berdiri. Bahkan menjadi modal besar proklamasi.

Kita bangsa Indonesia dan bahkan seluruh dunia. Sedang menghadapi Covid-19 yang mengancam hidup manusia.

Bahkan tidak segan-segan menjadi korban meradang nyawa. Susah tiada tara melawan virus yang ganas luar biasa.

Sewaktu-waktu bisa saja membunuh manusia kapan dan dimana. Tidak peduli ras, suku, bangsa dan juga agama apa.

Sungguh sebuah ketakutan yang tiada bandingnya. Kelaparan akibat pembatasan hidup yang cegah orang bisa kerja. Bahkan seperti ini, seolah-olah tidak ada jalan yang tersisa.

Namun kita harus bangkit dan berusaha sekuat tenaga. Menghadapi cabaran dan kendala hidup dengan penuh upaya dan doa.

Pilihan hidup tinggal satu tanpa kecuali. Kita harus bangkit dan berupaya tanpa henti. Saling bergandengan tangan dan eratkan jari jemari.

Katakan saja, kita bangsa Indonesia, siap menghadapi. Perubahan tatanan hidup baru sekarang dan pasca pandemi. Dengan merajut tali temali dan menyusun sebuah strategi.

Membangun dunia baru yang lebih bijak dan manusiawi. Bukan lagi sebuah tatanan hidup yang penuh manipulasi. Bahkan hilangkan praktik hidup yang saling menghegomoni.

Mari bangkit bangsaku kembali. Kuatkan tali silaturahmi dan saling menyayangi. Buang jauh rasa saling menista dan saling mengibuli. Dengan niat kuat dan membangun struktur dan budaya yang yang damai.

Terima kasih Pak Rektor atas puisinya! (yp)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*