Belajar Lewat Gadget, Anak Michael Tjandra Sempat Takut Melihat Kepala Gurunya Besar

Pembawa Berita, Michael Tjandra, ketika berbicara pada webinar yang diselenggarakan oleh BPK Penabur Jakarta, 27 Juni 2020 (Kalderanews/Saut Martua)

JAKARTA, KalderaNews.com — Pembawa berita Michael Tjandra berkisah tentang berbagai ‘drama’ yang dialami orang tua dan anak-anak saat belajar dari rumah selama masa pandemi COVID-19.

Salah satu drama yang dialami oleh keluarga muda ini adalah ketika putra mereka, Mark, yang masih duduk di bangku play group di Sekolah Penabur Bintaro Jaya, harus belajar melalui layar gawai (gadget).

“Ini pengalaman saya yang paling menarik, Anak saya yang paling kecil, Mark, dia di play group. Tiba-tiba harus belajar melalui gadget. Dan dia kaget, kenapa gurunya kepalanya jadi besar,” kisah Michael Tjandra, news anchor Lensa Indonesia, RTV, ketika berbicara pada webinar bertema How Effective is Home-based Learning for Kids and Parents, Sabtu (27/06/2020). Webinar tersebut diselenggarakan oleh BPK Penabur Jakarta.

“Anak saya melihat ukuran kepala gurunya penuh satu layar di gadget. Maka dia sempat nggak mau belajar dari gadget. Ada drama. Kok gurunya kelihatan cuma kepalanya. Dan saya yakin ada banyak kehebohan seperti ini dialami oleh ratusan orang tua juga,” kata dia sambil tertawa.

Sebagian peserta webinar  bertema How Effective is Home-based Learning for Kids and Parents, Sabtu, 27/06/2020
Sebagian peserta webinar bertema How Effective is Home-based Learning for Kids and Parents, Sabtu, 27/06/2020 (KalderaNews/Saut Martua)

Di webinar tersebut, Michael Tjandra menjadi salah satu pembicara mewakili orang tua murid, bersama-sama dengan Presenter Valentino Simanjuntak (orang tua siswa TKK Penabur Bintaro Jaya) dan Musisi dan Penyanyi, Ari Bernardus Lasso (orang tua dari siswa SDK Penabur Bintaro Jaya). Turut sebagai pembicara adalah Psikolog Anak Jovita Maria Ferliana, dan Deputi Direktur BPK Penabur Jakarta, Elika Dwi Murwani. Webinar tersebut menampilkan keynote speaker, Ketua BPK Penabur Jakarta, Antono Yuwono, dan dipandu oleh Ossy.

BACA JUGA:

Untungnya, menurut Michael Tjandra, sekolah cukup responsif terhadap masalah yang dihadapi anak-anak. “Saya bersyukur, BPK Penabur, khususnya Bintaro Jaya, sangat mengayomi kami sebagai orang tua. Gurunya menelepon kami beberapa kali, juga mengirimi WA, untuk menanyakan perkembangan anak kami,” kata Michael Tjandra.

Menurut Michael Tjandra, dirinya dapat merasakan kehadiran guru dan sekolah mnemani dan mendampingi keluarganya menjalani masa belajar dari rumah dengan segala kehebohannya.

Bagaimana pun, kata dia, orang tua membutuhkan pendampingan untuk bisa meneruskan proses pembelajaran yang tadinya di sekolah menuju di rumah.

“Selain Mark, anak saya yang lain juga sekolah di Penabur Bintaro Jaya, di kelas satu dan kelas dua SD,” kata Michael Tjandra.

Michael Tjandra tidak dapat menutupi bagaimana rasa gugup dan kesalnya dirinya ketika pertama kali harus menghadapi kenyataan anak-anaknya diharuskan belajar dari rumah.

“Ini sama sekali tidak pernah kami bayangkan sebagai orang tua, karena kami juga sebagai orang tua harus bekerja. Dan semakin lama rasanya lebih banyak melakukan pekerjaan di rumah. Jadi semuanya menumpuk jadi satu,” lanjut Michael.

Salah satu yang menjadi kepedulian Michael Tjandra adalah bagaimana mengenalkan gawai teknologi kepada anak-anak. Ini, menurut dia, perlu pendampingan yang cermat. Selain itu hal-hal teknis di seputar teknologi informasi juga penting, karena sangat menentukan kelancaran proses belajar-mengajar.

“Kita sebagai orang tua, misalnya, harus berjibaku dengan koneksi. Misalnya, tiba-tiba nge-lag, (koneksi internet terputus) maka harus cari koneksi lagi,” kata Michael Tjandra.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*