Dosen FK Maranatha Raih Penghargaan Pelopor Terapi Plasma untuk Pasien COVID-19

Dr. dr. Theresia Monica Rahardjo, Sp.An., KIC., M.Si., (tengah) bersama dengan Rektor UK Maranatha, Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., IPU. dan Ketua Lembaga Edukasi (LEDU) UK Maranatha, Dr. dr. Diana Krisanti Jasaputra, M.Kes (maranatha.edu)

JAKARTA, KalderaNews.com — Kerja keras Theresia Monica Rahardjo akhirnya mendapat pengakuan. Museum Rekor Indonesia (MURI) menganugerahi dosen Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha itu penghargaan Pelopor Tata Laksana Terapi Plasma Konvalesen (TPK) untuk Pasien COVID-19.

Pemberian penghargaan telah berlangsung 2 Juni lalu, disaksikan oleh Rektor Universitas Kristen Maranatha, Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., IPU. dan rekan dosen di Fakultas Kedokteran Maranatha yang saat ini menjabat sebagai Ketua Lembaga Edukasi (LEDU), Dr. dr. Diana Krisanti Jasaputra, M.Kes.

BACA JUGA:

Dr. dr. Theresia Monica Rahardjo, M.Si., Sp.An.-KIC., demikian nama dan gelar akademisnya, memperjuangkan agar TPK dipakai sebagai cara penyembuhan infeksi COVID-19 di Indonesia. Untuk itu, ia menyurati Presiden Joko Widodo.

Surat yang ia kirimkan ditindaklanjuti oleh pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dengan membentuk tim di daerah-daerah.
Theresia Monica kemudian bergabung dalam tim. Saat ini ia menjadi koordinator tim TPK untuk seluruh Indonesia.

Dikutip dari laman Universitas Maranatha, maranatha.edu, Theresia Monica mengatakan TPK merupakan vaksinasi pasif yang menjadi salah satu cara mengatasi wabah Covid-19 sebelum vaksin aktif ditemukan.

Theresia Monica mengatakan TPK adalah salah satu jalan untuk memberikan kekebalan langsung kepada pasien COVID-19 maupun sebagai proteksi bagi yang belum terinfeksi. “Dengan adanya TPK, diharapkan masyarakat Indonesia dapat memulai kehidupan dengan kenormalan yang baru sehingga memberikan efek positif bagi seluruh sendi kehidupan masyarakat di Indonesia,” kata Theresia.

TPK sesungguhnya bukan hal baru. Ia sudah lama diterapkan dalam mengatasi virus yang menyebabkan penyakit pernapasan akut, seperti SARS, MERS, hingga Ebola. Sesuai dengan namanya, terapi ini melibatkan pemberian plasma darah yang diperoleh dari pasien COVID-19 yang telah dinyatakan positif sembuh kepada pasien yang masih dalam perawatan.

Plasma yang mengandung antibodi pasien sembuh itu diinjeksi kepada pasien COVID-19 dengan harapan agar antibodi dapat menangkal virus ini.

Plasma yang dimiliki pasien sembuh mengandung kekebalan tubuh atau imunoglobulin yang cukup tinggi. “Imunoglobulin ini kita berikan kepada pasien penderita COVID-19 untuk menyembuhkan penyakitnya,” kata Theresia.

Agar efektif, terdapat kondisi atau kriteria tertentu dalam pelaksanaan TPK. “Donor harus memiliki hasil positif pada PCR sebelumnya dan sembuh dari gejala selama 14 hari. Setelah sembuh, donor harus mengalami tes CPR dua kali dengan hasil negatif,” jelasnya.

Setiap donor dapat menghasikan sekitar 500 cc plasma. Plasma dengan volume sebanyak itu dapat diberikan kepada dua penderita, tetapi tetap memperhatikan kondisi dari donor. Pengambilan plasma ini dapat diulang dalam jangka waktu 14 hari dan dapat dilakukan beberapa kali.


“Semua dilakukan kepada pasien kritis yang berada di dalam ventilator di ICU yang menunjukan perbaikan dan diizinkan pulang ke rumah,” tutur Monica.

Ia menambahkan, program terapi plasma di Indonesia saat ini telah dimulai dengan mengumpulkan data donor oleh center-center di daerah pulau Jawa dan Bali. Bahkan beberapa center sudah mengambil plasmanya.

Theresia bersama tim penyusun juga telah meluncurkan buku pedoman berjudul “Penatalaksanaan Terapi Plasma Konvalesen bagi Pasien Covid-19 di Indonesia” yang terbit pada 6 April 2020. Buku ini telah digunakan pada berbagai rumah sakit rujukan pemerintah dan swasta di seluruh Indonesia.

Ia berharap melalui buku yang disusun bersama tim dari berbagai disiplin ilmu ini bermanfaat sebagai acuan bagi setiap pusat pendidikan dan pelayanan kesehatan di Indonesia dalam melaksanakan TPK.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*