Harvard Business School Umumkan 22 Kandidat MBA 2021, Satu dari Indonesia. Siapa Dia?

Harvard Business School Class of 2021, Peter Gumulia dari Indonesia, nomor tiga dari kiri pada baris atas. (hbs.edu)

JAKARTA, KalderaNews.com — Harvard Business School di situs resminya kemarin (25/06) mengumumkan nama-nama kandidat MBA yang bakal mengakhiri studinya pada tahun 2021 mendatang (Class of 2021).

Dari 22 nama, ternyata ada satu dari Indonesia: Peter Gumulia, kelahiran Jakarta. Ia diterima di sekolah bisnis ternama itu pada tahun 2019.

Bila melihat daftar alumni HBS sejak tahun 2002 yang tertera di situs resmi HBS, Peter Gumulia bukan hanya satu-satunya orang Indonesia di angkatannya. Ia juga satu-satunya orang Indonesia di HBS sejak tahun 20 tahun lalu.

Peter Gumulia (hbs.edu)

Menurut keterangan pada profil LinkedIn-nya, Peter Gumulia pernah bekerja sebagai chief of staff dan vice president di Go-Pay pada tahun 2017-2019. Ia lulusan Georgia Institute of Technologi di bidang Industrial & System Engineering. Dari sekolah tinggi ini, ia lulus dengan pujian, dianugeragi The H. Milton Stewart Leadership Award atas contoh kepemimpinan yang dia tunjukkan.

Untuk mengenal lebih jauh Peter Gumulia, termasuk kesan-kesannya tentang HBS, berikut ini disajikan profil Peter Gumulia yang ditampilkan di situs resmi HBS, diterjemahkan dari Bahasa Inggris.

“Seringkali di Dunia Bisnis, Tidak Ada Keputusan yang Benar atau Salah, Hanya Pertukaran.”

Tumbuh dan besar di Indonesia, Peter Gumulia menjalani hidup seperti lingkaran tiada henti antara sekolah, atletik, pe-er dan balik lagi tentang sekolah.

“Disiplin memainkan peran penting sejak dini dalam hidup saya,” kata dia. Ini mendorong Peter masuk dalam tim golf nasional ketika dia baru berusia enam belas tahun. Meskipun begitu, sejak kecil dia sudah tahu bahwa golf bukan gairah utamanya.

BACA JUGA:

Ketika kuliah di perguruan tinggi, Peter magang di sebuah perusahaan rantai pasokan tempat dia membantu pengecer besar membangun pusat distribusi pertama perusahaan itu yang dikhususkan untuk e-commerce. “Saya menikmati prosesnya,” katanya.

“Saya belajar banyak tentang manajemen pergudangan. Tetapi saya juga mengerti bahwa manajemen rantai pasokan hanyalah satu pernik dari rangkaian puzzle. Saya ingin lebih dekat dengan pengambilan keputusan – yang akhirnya membawa saya ke bisnis. “

Setelah lulus, Peter beralih ke dunia konsultan manajemen dengan bertugas selama dua tahun di Bain & Co di AS dan Timur Tengah, diikuti oleh beberapa tahun lagi di GoPay, fintech terbesar di Asia Tenggara, sebagai kepala staf dan Vice President untuk Strategi dan Pertumbuhan.

Mencari Tantangan Baru
Setelah memiliki kesempatan untuk mengamati area abu-abu yang harus dinavigasi oleh tim manajemen – dan keputusan ambigu yang harus mereka buat – Peter mencari peluang untuk lebih lanjut melatih ‘otot’ kepemimpinannya. Dia bergabung ke Harvard Business School, (HBS) “tidak untuk mengubah karier, tetapi untuk memberikan ruang bagi eksplorasi pribadi dan profesional. Saya telah melewati lima hingga enam tahun yang sibuk dimana saya tidak memiliki ruang di kepala untuk mundur dan bertanya pada diri sendiri: ingin jadi pemimpin seperti apa saya? Dampak apa yang ingin saya buat? Apa yang berharga bagi saya? Budaya seperti apa yang ingin saya bangun? Mengapa?”

HBS mengesankan bagi Peter oleh kekayaan diskusi kelasnya. “Sering kali dalam bisnis, tidak ada jawaban benar atau salah – hanya trade off (pertukaran). Sebagai seorang pemimpin, peran Anda adalah untuk memahami pertukaran ini. Ketika mempelajari cara menavigasi wilayah abu-abu, ada sesuatu yang bisa dikatakan tentang metode kasus, di mana Anda duduk di ruang kelas berisi 94 orang dan mendengar perspektif yang mewakili banyak industri, negara, dan pengalaman. Ini seperti duduk dan berpartisipasi dalam pertemuan besar hari demi hari, di mana Anda perlahan-lahan mengembangkan otot pengambilan keputusan Anda dan, yang lebih penting, filosofi kepemimpinan Anda sendiri. “

Semangat eksporasi Peter telah menghasilkan sejumlah peluang baru. Di HBS dia aktif di Education Club, dan saat ini mencari cara “untuk memanfaatkan teknologi yang dapat membuka akses ke pendidikan berkualitas tinggi bagi jutaan orang Indonesia.”

Dengan dukungan dari i-lab dan Rock Center, Peter bercita-cita untuk membangun platform pembelajaran bahasa Inggris online di negara asalnya. “Indonesia beralih dari negara yang secara historis bergantung pada sumber daya alamnya ke ekonomi jasa yang bergantung pada tenaga kerjanya yang trampil,” kata dia. “Tetapi ketika ekonomi bergerak maju, angkatan kerja tidak siap untuk perubahan ini. Tujuan saya adalah untuk meningkatkan dan memberdayakan anak muda Indonesia, sehingga mereka siap untuk berpartisipasi dalam ekonomi global yang semakin meningkat ini. “

“Pembelajaran online sering kali menderita stigma karena tidak seefektif pendidikan tatap muka. Meskipun ada kebenaran dalam klaim ini, ada beberapa cara untuk memberikan pengalaman belajar online yang efektif dan menarik. Jika kami dapat memberikan hasil belajar yang efektif [melalui pendidikan online] dengan biaya yang sangat murah, kami dapat membebaskan akses ke pendidikan berkualitas tinggi bagi jutaan orang,” kata Peter.

“Di HBS, saya dapat mengatasi masalah ini dari berbagai perspektif, termasuk pendidikan, teknologi, bisnis, dan cara berpikir.”

Peter berencana menggunakan waktu MBA-nya untuk “mengembangkan landasan untuk meluncurkan usaha saya. Sebelum menempuh pendidikan di HBS, saya memikirkan karier saya sebagai batu loncatan demi loncatan. Tetapi sekolah telah mengajarkan saya untuk berpikir secara berbeda: ‘Apa masalah yang melaluinya saya dapat berkontribusi untuk memecahkannya selama sepuluh tahun ke depan?” Bagi saya, itu membuat Indonesia menjadi pusat bakat yang kompetitif secara internasional.”

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*