Katakan pada Ibu Jangan Malu Dibilang Bawel

Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta.

Oleh Eben E. Siadari *

JAKARTA, KalderaNews.com – Banyak anak mengenang ibu sebagai sosok bawel di masa kecil, untuk kemudian menyadari kasih sayang di balik itu setelah dewasa. Apakah kamu salah satu di antaranya?

Di masa Pandemi COVID-19 ketika kamu harus belajar di rumah, acap kali kebawelan ibu semakin terasa. Dari berbagai pemberitaan di media massa terungkap berbagai fenomena semakin seringnya muncul ‘drama’ di antara anak dan orang tua dalam menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Anak-anak yang belajar di rumah merasa dikontrol terlalu dalam oleh orang tua. Jika di masa normal kontrol terhadap pembelajaran hanya dilakukan oleh guru di dalam kelas, kini bertambah oleh orang tua, khususnya ibu, yang bisa mengamati langsung suasana kelas daring.

Di sisi lain, banyak orang tua harus berusaha keras beradaptasi dengan peran barunya sebagai ‘pembimbing’ PJJ. Adaptasi seringkali harus dijalani dengan kejutan-kejutan yang tidak perlu. Termasuk perselisihan paham dengan anak bahkan guru.

BACA JUGA:

 Sikap bawel orang tua tidak jarang muncul ketika merasa anak-anak tidak belajar sesuai dengan harapan. Si Mama Bawel atau Si Mama Cerewet barangkali akan menjadi predikat lumrah.

Dicap sebagai ibu yang bawel oleh anak-anak kerap menjengkelkan. Anak-anak yang mendengar ibunya dicap bawel oleh orang lain, pasti juga merasa tidak nyaman. Guru yang dijuluki oleh muridnya sebagai guru bawel juga barangkali bisa mendatangkan baper. Namun, percayalah, sikap bawel dalam banyak hal diperlukan, bahkan harus. Trade mark bawel dapat menjadi pemicu semangat bagi anak-anak.

Kisah tentang Kade Lovell (KD) dapat kita jadikan sebagai cermin. KD,  berusia 9 tahun, tahu betul bahwa ibunya seorang ibu yang bawel. Dan ia tidak perlu menunggu sampai dewasa  untuk memahami bahwa sikap bawel ibunya baik baginya.

Dalam sebuah cerita yang ditulis oleh  Michael Brice-Saddler di The Washington Post 1 Oktober 2019, dikisahkan tentang sebuah peristiwa unik yang menimpa KD. Ketika itu ia bersiap untuk ikut dalam lomba lari 5.000 meter di Jalan St Francis Franny, di Sartell, Minnesota AS.

Heather Lovell, ibunda KD, sosok yang bawel di mata anaknya, sudah menanti di pinggir jalan untuk mengelu-elukan putranya, memberi dukungan. Ia tahu anaknya akan melintasi jalan itu, jalur yang disediakan untuk lomba 5.000 meter. Ia sangat antusias.

Namun, sampai lama Ibunda berdiri di sana, KD tak kunjung  melintas juga. Ketika rombongan pelari lewat di jalan di depannya, ia tidak melihat KD di sana. Sang ibu mulai was-was. Ada apa gerangan. Ia mulai bertanya ke sana ke mari.

Salah seorang relawan panitia, melihat kecemasan itu. Mengetahui masalah yang dihadapi sang ibu,  sang relawan mencoba membantu  mencari tahu dimana gerangan KD. Akhirnya ditemukan. Rupanya KD secara keliru  berlari di jalur lomba 10.000 meter, bukan 5.000 meter.

Relawan itu pun dengan  cepat mendekati KD. Sang relawan mengingatkan KD bahwa ia berlari di jalur yang keliru.  Bahwa ibunya sudah lama menunggunya di jalur 5.000 meter.

Semua itu diberitahu oleh sang relawan kepada KD saat anak itu masih berlari.

Tentu saja KD terkejut. Tetapi yang paling membuat ia merasa bersalah bukan karena ia berlari di jalur yang keliru, melainkan karena ia  memikirkan ibunya. Ia merasa kasihan pada ibunya. Sudah dia biarkan lama menunggu. Dan sudah pasti dia akan kena marah.

Tapi mau apa lagi. Ini sudah terlanjur. Tidak ada pilihan selain berlari lebih cepat agar bisa segera menemui ibu yang tengah cemas. Ia tahu ibunya sering menjadi bawel bila sedang panik.

Lomba pun usai. Di pinggir jalan sang ibunda masih menunggu untuk dapat bertemu dengan KD.

Namun hal yang tidak diduga oleh sang ibu pun terjadi. Dia terkejut ketika  diberitahu bahwa anaknya memenangi lomba 10.000 meter. Ia tak percaya pada awalnya.  Sebab yang ia tahu, anaknya berlari untuk lomba 5.000 meter. Lagipula, sebelum ini KD belum pernah berlari sampai 10.000 meter.

Ia bertambah kaget ketika diberitahu bahwa anaknya bukan saja juara untuk kategori usia anak-anak, melainkan untuk lomba keseluruhan. Menurut catatan panitia, KD menempuh 10.000 meter dengan catatan waktu 48:17:4.

Ketika KD diwawancarai CNN tentang kekeliruannya dan tentang apa yang membuatnya menang, ia mengatakan yang segera terpikir ketika itu  adalah ibunya. Ia memikirkan kecemasan ibunya yang mencari-carinya. Dan ibunya yang bawel bila mengetahui anaknya tidak berperilaku seharusnya.

“Mama saya pasti cemas. Dan kalau mama cemas, biasanya dia marah-marah. Karena itu aku berlari cepat-cepat  agar segera dapat menemuinya,” kata KD kepada wartawan TV yang mewawancarainya, yang disambut tawa ibunya yang berdiri di belakangnya.

Ibunda KD  mengakui bahwa ia memang cemas. Tidak pernah KD menghilang selama itu dalam lomba.

“Pertama saya cemas. Lalu marah. Kemudian senang mengetahui bahwa dia menang.  Anak saya berlari lebih cepat hari ini mungkin karena ia berlari dalam keadaan panik (panic mode),” kata dia.

Begitulah. Marah dan bawel  perlu. Maka jangan malu dibilang bawel. Jangan malu bila ibu kamu bawel.

* Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan. Buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), The Beautiful Sarimatondang (2020), Perempuan-perempuan Batak yang Perkasa (2020) dan Kerupuk Kampung untuk Gadis Berkacamata Bill Gates (2020).

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*