Kompak, Rohaniawan 3 Agama Berbeda di Universitas Ini Wisata Bareng ke Holy Land

Dari kiri: Rabi Rachel Gartner, Imam Hendi Yahya dan Pastor Mark Bosco, S.J, ketiganya adalah rohaniawan kampus Georgetown University, wisata bareng ke Holy Land untuk meningkatkan pemahaman antar-agama yang lebih baik. (Geprgetown University)

JAKARTA, KalderaNews.com — Sebuah perjalanan bareng ke Holy Land membawa pemahaman baru antar-agama dan menginspirasi perasaan bersatu bagi rohaniawan dari tiga agama yang berbeda di kampus Georgetown University.

Pastor Mark Bosco, SJ, wakil presiden misi dan pelayanan Georgetown University, Rabbi Rachel Gartner, direktur Jews Life di Georgetown University, dan Imam Yahya Hendi, direktur Muslim Life di Georgetown University, belum lama ini melakukan perjalanan ke Holy Land dengan sekelompok kecil dosen dan staf fakultas. Mereka mengunjungi situs-situs yang memiliki arti penting bagi umat Katolik, Yahudi, Muslim dan Protestan.

Perjalanan itu, kata Bosco, terinspirasi oleh pesan Paus Fransiskus, yang mengundang Rabi Abraham Skorka dan Sheik Omar Abboud untuk bergabung dengannya dalam perjalanan pertamanya ke Holy Land.

“Kami ingin melihat apakah kami dapat melakukan ‘ziarah beriringan’ yang sama dengan rabi, imam, dan imam kami sendiri,” kata Bosco, tentang perjalanan yang berlangsung pada 29 Desember hingga 7 Januari lalu itu.

Tiga pemimpin agama di Georgetown University saat mengujungi Sumur Yakub (Georgetown University)

“Perjalanan ini tumbuh dari akar yang dalam dari warisan Yesuit Georgetown – sebuah perjalanan yang saling mendampingi satu sama lain untuk membantu memperkaya pemahaman kita tentang konflik di Holy Land dan menjadi saksi sukacita maupun penderitaan yang dialami orang-orang di sana,” kata dia, sebagaimana dimuat dalam situs resmi Georgetown University.

BACA JUGA:

Di Holy Land, mereka berdoa bersama di sinagog, masjid dan gereja, serta berbagi makanan dengan komunitas Muslim, Yahudi dan Kristen. Mereka juga berdiskusi dengan para pemimpin agama, cendekiawan dan aktivis perdamaian setempat, tentang prospek masa depan keadilan, keamanan dan perdamaian di wilayah tersebut.

“Perbenturan ide adalah suara kebebasan,” kata Hendi Yahya dalam video tentang perjalanan itu, yang antara lain mengunjungi tempat-tempat yang dewasa ini diperebutkan.

“Ketika kita berbenturan dalam ide dan cita-cita kita untuk menggambarkan rumah ibadah tertentu, kita datang untuk menemukan yang terbaik dari diri kita dan apa yang perlu kita lakukan bersama.”

Salah satu hal penting dari perjalanan ini adalah mengunjungi rumah leluhur Hendi Yahya di desa Kefl Hares, kota yang diyakini sebagai situs pemakaman Yehezkiel dan Ayub.

“Melihat rumah Yahya di mana dia dibesarkan, pohon limau di halaman belakangnya, tempat di mana dia dilahirkan, tempat di mana beberapa hal yang sangat sulit terjadi dalam hidupnya karena situasi yang ada… itu sesuatu. yang mendalam bagi saya,” kata Gartner.

Rombongan dari Georgetown University berfoto di depan Dome of the Rock (Kubah Batu), salah satu tempat suci Islam di Holy Land (Georgetown University)

“Setelah mengenalmu bertahun-tahun,” katanya pada Hendi Yahya, “dengan benar-benar melihat hidupmu, itu sangat transformatif dan sangat mengharukan.”

Di antara tempat-tempat lain yang mereka kunjungi adalah taman kanak-kanak dua bahasa di Jaffa yang dirintis oleh seorang ulama Muslim dan istrinya yang berkebangsaan Yahudi; Sumur Yakub; Universitas Bethlehem; dan berbagai tempat lainnya. Perjalanan kemudian diakhiri dengan misa yang dipimpin oleh Bosco di Danau Galilea.

Tiga pemimpin agama itu mengatakan mereka berharap dapat membawa para mahasiswa dalam perjalanan mereka berikutnya ke Holy Land.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*