Masih Mengajar di Usia 99, Ibu Guru Ini Tidak Suka Ditanyai Kapan Pensiun

Ibu Guru Nontsikelelo Qwelane, guru tertua di Afrika Selatan, masih mengajar di usia 99 tahun (Ist)

JAKARTA, KalderaNews.com — Nama ibu guru yang sudah sepuh ini agak susah dilafalkan oleh lidah Indonesia: Nontsikelelo Qwelane. Umurnya sudah 99 tahun. Namun ia masih bugar untuk mengajar Geografi, mata pelajaran favoritnya.

Qwelane adalah guru yang tertua di Afrika Selatan bahkan mungkin di seluruh benua Afrika. Ia sudah mengajar selama 79 tahun.

Qwelane lahir di Eastern Cape di sebuah tanah pertanian kecil di pedesaan bernama Manzana.

Namanya mendadak jadi pembicaraan pada 26 Juni lalu ketika seorang pengguna Twitter dengan akun @BlessingsRamoba menyebut nama Qwelane sebagai guru tertua di Afrika. Kicauannya menuai salut.

Dua pekan lalu Mpumalanga News, sebuah media komunitas wilayah Lowveld, Afrika Selatan, mengangkat profil Qwelane lebih detil.

BACA JUGA:

Disebutkan, Qwelane mulai sekolah pada tahun 1928. “Sekolah membentuk saya untuk bekerja keras, disiplin dan berdedikasi. Saya memiliki guru yang baik yang membantu mendorong saya untuk maju,” kata Qwelane dalam wawancara dengan situs berita Mpumalanga News.

“Mereka selalu mengingatkan saya bahwa pendidikan itu penting dan tidak boleh dianggap remeh, ” lanjut dia.

Qwelane menyelesaikan sekolah menengah pada tahun 1936. “Saya selalu lulus dengan nilai yang baik sehingga ketika inspektur datang ke sekolah saya, mereka akan memberi selamat kepada saya. Saya ditugaskan membaca sebuah puisi berjudul ‘The Blacksmith Village’.

Pengakuan akan prestasinya mendorong Qwelane tambah bersemangat belajar. Ia berjanji bahwa pada suatu hari nanti ia akan kuliah di Universitas Afrika Selatan.

Qwelane kemudian mendaftar di All Saints Training School, tempat dia dilatih untuk menjadi guru. “Itu adalah perkuliahan tiga tahun, yang saya selesaikan pada tahun 1939. Banyak tantangan, tetapi saya bertahan,” katanya.

Pilihan menjadi guru di masa itu, kata dia, disebabkan karena bidang itu yang tersedia bagi kalangan kulit berwarna di Afrika Selatan. Bidang lain yang juga terbuka untuk kulit berwarna adalah keperawatan.

“Dulu, Anda bisa menjadi guru atau perawat, tetapi itu bukan alasan utama mengapa saya memilih mengajar. Saya selalu mencintai anak-anak dan memiliki hasrat untuk pendidikan,” katanya.

Untuk meningkatkan kualitas dirinya, Qwelane terus mengasah kemampuannya dengan mengikuti berbagai pendidikan lanjutan.

“Saya memperoleh gelar BA pada tahun 1975, diploma dalam studi pembangunan pada tahun 1983, diploma dalam pendidikan tinggi pada tahun 1993, Sarjana Pendidikan pada tahun 1996 dan Magister Administrasi Publik pada tahun 1999,” tutur dia.

Pada tahun 1983 Qwelane pensiun dari mengajar di sekolah negeri karena usia mengharuskannya. Namun ia tidak berhenti mengajar. Ia memutuskan bekerja di sebuah sekolah swasta.

“Saya terus mengajar karena saya suka mendidik orang dan mengembangkan pikiran anak-anak muda. Saya bertujuan untuk membuat siswa saya bekerja keras sepanjang tahun sehingga mereka dapat memiliki masa depan yang cerah dan menjadi warga negara yang baik di negara ini,” katanya.

Qwelane saat ini bekerja di Metropolitan College di White River untuk pelajaran Geografi di kelas 12.

“Saya telah mengajar Geografi sejak lama dan saya tahu cara mendidik mereka yang tergolong lambat menangkap materi pelajaran,” kata dia.

Pemerintah Afrika Selatan menganugerahinya tanda penghargaan Order of the Baobab pada tahun 2013.

Qwelane mengatakan dia tidak suka ditanyai kapan akan pensiun. Ia menganggap pertanyaan semacam itu tidak sopan.

“Saya memiliki rencana pensiun. Ketika akhirnya saya akan mengakhiri tugas, saya akan berbicara dengan direktur sekolah dan istrinya dan berterima kasih kepada mereka atas semua yang telah mereka lakukan untuk saya. Mereka sangat baik, “kata dia.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*