5 Cerita Unik Seputar Proklamasi Kemerdekaan, Kamu Wajib Tahu Nih




Ilustrasi: Cerita-cerita unik di seputar peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. (Ist.)
Ilustrasi: Cerita-cerita unik di seputar peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. (Ist.)

JAKARTA, KalderaNews.com – Setiap peristiwa besar pasti menyisakan kisah-kisah unik yang bisa jadi jarang orang tahu. Begitu pun dengan peristiwa pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Sukarno di sebuah bangunan di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta, 75 tahun silam.

BACA JUGA:

Nah, inilah 4 cerita unik yang jarang ada di buku sejarah Indonesia. Simak yuk!

Sukarno sedang sakit malaria saat membacakan proklamasi
Ternyata, Sukarno yang didampingi Moh.Hatta pada saat membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sedang dalam kondisi sakit malaria. Tepat dua jam sebelum acara dimulai, Bung Karno didiagnosa mengalami gejala malaria tertian.

Bung Karno lantas beristirahat sejenak setelah disuntik dan diberi obat. Sakit tak menghalangi Bung Karno untuk mengumandangkan Kemerdekaan Indonesia. Tepat pada saat yang dinanti-nanti, Sukarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Setelah upacara selesai, Bung Karno langsung kembali ke kamarnya dan istirahat.

Ukuran bendera terlampau kecil
Pada saat pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, pengibaran bendera Merah Putih sudah diagendakan. Tapi di balik semua itu ada cerita yang unik nih!

Ada cerita yang mengatakan bahwa Ibu Negara Fatmawati sebenarnya sudah menjahit sebuah bendera yang rencana akan dikibarkan pada hari kemerdekaan. Tetapi, ternyata ukuran bendera tersebut terlalu kecil untuk dikibarkan, karena hanya berukuran 50 sentimeter.

Maka, Ibu Fatmawati lantas mengambil kain dari sprei berwarna putih yang ada di dalam lemarinya. Sementara, seorang pemuda bernama Lukas Kastaryo mencari kain merah atas amanat Ibu Fatmawati. Kain merah pun didapat dari seorang penjual soto. Akhirnya, Ibu Fatmawati menjahit lagi bendera Merah Putih dari kain sprei dan dari penjual soto.

Naskah Proklamasi hilang
Ini juga kejadian unik di seputar peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 75 tahun silam. Ternyata, menjelang pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, naskahnya mendadak hilang dan tidak ditemukan.

Untunglah, naskah tersebut sudah disalin oleh Sayuti Melik, dan akhirnya bisa dibacakan oleh Bung Karno. Uniknya lagi, naskah asli itu ditemukan di tempat sampah oleh seorang wartawan bernama BM. Diah.

Suara Bung Karno direkam lagi
Setiap menjelang peringatan Kemerdekaan Indonesia, pasti kita selalu mendengar rekaman suara Sukarno saat membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan. Padahal, suara yang kita dengar saat ini, bukanlah suara asli Bung Karno ketika membacakan teks proklamasi 75 tahun silam.

Rekaman pembacaan naskah proklamasi yang beredar saat ini adalah rekaman ulang suara Bung Karno pada tahun 1951, yang kemudian dikirimkan ke Lokananta pada 1959. Hal ini dilakukan lantaran tidak ada dokumentasi resmi saat pembacaan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Proklamasi kemerdekaan yang sederhana
Upacara pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia amatlah sederhana. Tidak ada protokol yang resmi. Mikrofon atau pengeras suara yang dipakai untuk upacara itu pun dicuri dari stasiun radio milik Jepang. Bendera Merah Putih yang dikibarkan adalah hasil buah tangan Ibu Fatmawati. Sementara tiang bendera berasal dari batang bambu yang diambil dari belakang rumah Sukarno.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*