Heboh, Komnas Perlindungan Anak Larang Kata “Anjay”, Begini Penjelasannya

Ilustrasi: Komnas Perlindungan Anak larang pemakaian kata "anjay" (Ist.)
Ilustrasi: Komnas Perlindungan Anak larang pemakaian kata "anjay" (Ist.)

JAKARTA, KalderaNews.com– Media sosial Twitter ramai dengan surat edaran dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) tentang penggunaan kata “anjay”. Dalam edaran itu, Komnas PA meminta masyarakat agar menghentikan penggunaan istilah “anjay” untuk tujuan merendahkan atau melecehkan lawan bicara.

“Ini (kata ‘anjay’) adalah salah satu bentuk kekerasan atau bullying yang dapat dipidana. Lebih baik jangan menggunakan kata ‘anjay’. Ayo, kita hentikan sekarang juga,” ujar Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait.

BACA JUGA:

Arist menjelaskan, makna kata “anjay” bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Jika diucapkan sebagai kata ganti ucapan ekspresi kekaguman, maka “anjay” tak mengandung unsur bullying. Ia mencontohkan, kata “anjay” dilontarkan dalam rangka memuji salah satu produk yang membuatnya terkagum. Dalam kasus ini, “anjay” tak mengandung kekerasan.

“Istilah tersebut tidak menimbulkan ketersinggungan, sakit hati, dan merugikan sekalipun,” kata Arist.

Tetapi, jika “anjay” dilontarkan untuk merujuk sebutan kata pengganti satu binatang, maka “anjay” bisa bermakna merendahkan martabat seseorang. Karena bermakna merendahkan seseorang, maka “anjay” menjadi bentuk kekerasan verbal dan dapat dilaporkan sebagai tindak pidana.

Maka, Arist mengajak masyarakat untuk melihat kata “anjay” dari perspektifnya, mengingat istilah tersebut sedang marak digunakan di media sosial dan populer di kalangan anak-anak.

Sementara, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Endang Aminudin Aziz mengatakan dalam ilmu linguistik penggunaan kata harus dilihat dalam berbagai aspek, yakni morfologis, semantik, dan pragmatik.

“Secara morfologis kita lihat, kata anjay turunan dari kata apa. Apakah dia turunan dari kata anjing atau yang lain.Mengapa turunannya berubah jadi ‘anjay’, mungkin karena dulu keluar kata yang mirip-mirip dengan itu, misal ‘anjrit’, ‘anjir’ yang dipakai sebagai kata gaul,” ujar Endang.

Kita juga harus melihat dari aspek semantik atau makna yang sesuai dengan maknanya itu sendiri. Dalam makna semantik, kata tidak dikaitkan dengan konteks apapun. “Misal kalau kita katakan kata ‘anjing’. Anjing adalah binatang berkaki empat, suka menggonggong lidahnya menjulur, misalnya itu,” tutur Endang.

Endang juga mengatakan dalam makna pragmatik, kata dilihat sesuai konteks penggunaannya. Endang menyontohkan, kata “anjing” dilihat secara pragmatik dapat berupa ungkapan kekesalan atau umpatan.

“Tapi kata umpatan ini harus dilihat kepada siapa orang ini berbicara. Kalau misalnya orang sesama teman dekat. Sudah sangat dekat maka ungkapan ‘anjing’ tidak menjadi umpatan,” ungkap pakar bahasa bidang pragmatik ini.

Nah, terkait penggunaan kata “anjay”, Endang menilai, sebaiknya kata ini dilihat terlebih dulu konteks penggunaannya. Kata “anjay” dapat digunakan sebagai bentuk kekaguman dan tidak ada unsur umpatan.

Endang berkata, sebaiknya anak-anak tidak menggunakan kata “anjay” karena berasal dari kata anjing. “Hanya memang dari sisi kebijakan berbahasa, ya kata itu memang sepertinya tidak layak digunakan secara masif gitu oleh anak-anak. Apalagi yang belum mengerti. Apalagi kata ‘anjay’ berasal dari kata anjing,” katanya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


329 views