Tujuh Peneliti LIPI Mendapat Tanda Kehormatan Satyalencana Wira Karya, Ini Daftarnya

Ilustrasi: Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). (Ist.)
Ilustrasi: Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). (Ist.)

BOGOR, KalderaNews.com – Pemerintah memberikan apresiasi kepada tujuh insan peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Mereka mendapat anugerah tanda kehormatan Satyalencana Wira Karya. Penghargaan itu diberikan pada puncak peringatan HUT LIPI ke-53 di Kebun Raya Bogor, Bogor, Jawa Barat.

BACA JUGA:

Berikut tujuh peneliti LIPI yang mendapat penghargaan tersebut:

  1. Asvi Warman Adam, peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI. Ia berperan aktif dalam bidang sejarah dengan menerbitkan 14 buku bertema Pelurusan Sejarah Indonesia. Asvi juga turut memulihkan nama baik Presiden Sukarno, serta mengusulkan 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila yang akhirnya ditetapkan Presiden Joko Widodo pada 2016. Ia juga yang mengusulkan Pahlawan Nasional dari kalangan Tionghoa, John Lie.
  2. Endang Turmudi, peneliti Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI. Ia berperan aktif dalam keilmuan sosial dengan mengembangkan konsep harmoni, seperti membuat kerangka deradikalisasi sebagai langkah strategis menangani masalah konflik sosial, agama, dan politik radikalisme, serta langkah-langkah menangani konflik etnis di Lampung pada 2013.
  3. Tarzan Sembiring, seorang peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih. Tarzan aktif di bidang keilmuan sosial dengan ikut menginisiasi penyusunan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) berbasis 34 provinsi. Data IDI ini telah dimanfaatkan sebagai rujukan pembangunan politik oleh Bappenas, serta menjadi rujukan peningkatan kapasitas lembaga dan pelaku demokrasi di daerah.
  4. Sarip Hidayat, peneliti Pusat Penelitian Ekonomi. Dia melakukan penelitian dan pengembangan di bidang lingkungan melalui pemanfaatan vetiver untuk memperkuat bantaran sungai dan pengolahan limbah. Sarip juga turut menerapkan pengolahan sisa pakan dengan sistem wetland pada Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata, untuk menghilangkan potensi eutrofikasi dan pendangkalan, yang merupakan kegiatan pendukung program Citarum Harum.
  5. Myrtha Karina Sancoyorini, peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih, yang mengembangkan teknologi pembuatan material ramah lingkungan berbasis selulose dan lignin dari bahan alam atau limbah industri agro, perkebunan, kehutanan.
  6. Indri Badria Adilina, peneliti Pusat Penelitian Kimia. Ia berperan aktif dalam bidang kimia katalis melalui pengembangan teknologi katalis lempung untuk pengolahan biomassa menjadi bahan kimia dan bahan bakar nabati (BBN), seperti untuk proses pengolahan minyak cengkeh menjadi vanilla dan limbah kelapa sawit menjadi BBN, sehingga dapat menciptakan proses kimia ramah lingkungan serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam lokal substitusi impor.
  7. Akbar Hanif Dawam, peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih. Akbar berperan aktif dalam bidang teknik material dengan inovasi teknologi bioplastik dari bahan baku pati singkong untuk pengembangan produk biji dan kemasan bioplastik. Inovasi ini mampu mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah plastik konvensional, meningkatkan nilai tambah komoditas singkong, dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


676 views