Begini Sejarah dan Makna Logo Hari Olahraga Nasional 2020

Logo Hari Olahraga Nasional 2020. (Dok. Kemenpora)
Logo Hari Olahraga Nasional 2020. (Dok. Kemenpora)

JAKARTA, KalderaNews.com – Setiap 9 September, kita memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas). Di tengah pandemi Covid-19, Kementerian Pemuda dan Olahraga telah menyiapkan rangkaian kegiatan, termasuk logo Haornas 2020.

Logo Haornas 2020 menyerupai bola yang terbentuk dari tiga komponen tema Haornas 2020, yaitu sport science, sport tourism, dan sport industry. Logo ini juga melambangkan sinergi, semangat, dan kekuatan dalam meningkatan kebugaran dan prestasi olahraga melalui dukungan sport science serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sport tourism dan sport industry.

BACA JUGA:

Berikut makna warna logo Haornas 2020:

  • Warna kuning melambangkan optimisme masyarakat Indonesia bangkit dari pandemi Covid-19.
  • Warna merah simbol energi dan semangat yang berkobar untuk terus berjuang.
  • Warna biru melambangkan kekuatan dan percaya diri bahwa Indonesia mampu mencapai kebugaran masyarakat dan prestasi olahraga tertinggi.
  • Warna hijau simbol pertumbuhan ekonomi dalam sektor industri olahraga dan pariwisata.
  • Warna emas melambangkan prestasi olahraga Indonesia.
  • Warna merah oranye melambangkan inovasi pada pembangunan industri nasional.

Sejarah Haornas

Peringatan Haornas bermula pada 9 September 1948 di Solo, Jawa Tengah. Kala itu, Presiden Sukarno membuka perhelatan Pekan Olahraga Nasional alias PON. Sementara penutupan kegiatan itu dilakukan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI).

Ada 13 kota dan karesidenan yang ambil bagian pada PON perdana ini, yaitu Madiun, Magelang, Semarang, Yogyakarta, Bandung, Malang, Surakarta, Pati, Kedu, Banyuwangi, dan Jakarta. Surakarta menjadi juara umum dengan 36 medali dari total 108 medali yang diperebutkan. PON pertama itu diikuti lebih dari 600 atlet yang berlaga di 9 cabang olahraga.

Perhelatan PON pertama ini ternyata merupakan bentuk “protes” Indonesia lantaran ditolak mengikuti Olimpiade ke-14 di London, Inggris. Indonesia masih dilihat sebagai negara baru yang belum memiliki prestasi olahraga apapun. Selain itu, perselisihan dengan Belanda juga belum usai.

Penolakan itu memicu Persatuan Olahraga Indonesia membuat sebuah konferensi darurat di Solo, Jawa Tengah pada 1948. Konferensi itu melahirkan Pekan Olahraga Nasional atau PON, yang juga merupakan bentuk kedaulatan Indonesia sebagai negara yang merdeka.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*