Green Innovation Inklusif Harus Jadi Acuan Riset dan Inovasi Lingkungan

Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang Brodjonegoro dalam program #PakMenteriMengajar SD Tarakanita yang diselenggarakan oleh Yayasan Tarakanita bertema “Belajar Online untuk Masa Depan yang Lebih Baik” pada Jumat, 22 Mei 2020
Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang Brodjonegoro dalam program #PakMenteriMengajar SD Tarakanita yang diselenggarakan oleh Yayasan Tarakanita bertema “Belajar Online untuk Masa Depan yang Lebih Baik” pada Jumat, 22 Mei 2020 (KalderaNews/JS de Britto)

JAKARTA, KalderaNews.com – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang PS Brodjonegoro menegaskan penerapan inovasi yang tidak terpisahkan dari SDGs adalah penerapan ekonomi hijau yang inklusif. Ekonomi hijau yang inklusif harus menjadi acuan ke depannya dalam upaya riset dan inovasi di bidang lingkungan. Untuk menunjang itu semua maka diperlukan semangat green innovation.

“Berbicara inovasi dan untuk menunjang ekonomi hijau yang inklusif tersebut maka inovasi yang kita dorong tentunya harus punya semangat green innovation yaitu menstimulasi inovasi penciptaan industri baru dan yang paling penting tetap mempunyai dampak pada daya saing ekonomi,” ujar Menteri Bambang dalam webinar yang diadakan oleh Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia dengan tema “Inovasi Hijau di Era Adaptasi Baru Menuju Pembangunan Berkelanjutan” baru-baru ini.

Green innovation merupakan semua bentuk inovasi dalam bentuk produk, layanan, proses produksi, maupun metode bisnis yang dapat berkontribusi terhadap ekonomi sekaligus berkontribusi bagi lingkungan.

BACA JUGA:

Semangat green innovation dalam menunjang ekonomi hijau yang inklusif memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk dapat menikmati inovasi tersebut.

“Green innovation yang ditambah dengan sifat inklusif tadi memungkinkan semua lapisan masyarakat atau sebanyak mungkin lapisan masyarakat bisa menikmati dampak dari inovasi tersebut,” jelas Menteri Bambang.

Di akhir paparannya Menristek/Kepala BRIN berpesan agar inovasi hijau memiliki dampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, peningkatan ekspor, dan juga penguatan sumber daya manusia.

“Inovasi itu harus bisa menciptakan sesuatu yang berotasi pada ekonomi hijau yang inklusif dan kemudian berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat peningkatan kegiatan ekonomi melalui ekspor maupun penguatan dari sumber daya manusianya sendiri di samping tetap kita bisa menjaga kelestarian atau kualitas dari lingkungan hidup kita sendiri,” tutup Menteri Bambang.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silahkan dishare pada saudara, sahabat, dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*