Tak Bisa Gantikan Riset Lapangan, Begini Kelebihan dan Kekurangan Metode Riset Digital

Metode riset digital
Metode riset digital (Foto: Getty Images)

JAKARTA, KalderaNews.com – Strategi penelitian di lembaga penelitian khususnya bidang sosial dan humaniora di tengah pandemi Covid-19 perlu strategi baru. Menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tri Nuke Pudjiastuti, metode riset digital adalah strategi baru yang dikembangkan dalam upaya pengumpulan dan pengolahan data maupun visualisasi.

Strategi ini memudahkan para peneliti untuk dapat mengumpulkan data primer dan sekunder tanpa tatap muka secara langsung. Sehingga pemanfaatan metode penelitian berbasis digital dapat menjadi kekuatan baru bagi penelitian sosial dan humaniora, khususnya dalam visualisasi hasil riset, skala penelitian dan intensifikasi waktu penelitian.

Namun ia menegaskan metode riset digital ini praktis, tetapi kegiatan lapangan tatap muka masih diperlukan dan tidak tergantikan. Metode digital bukan merupakan pengganti riset-riset lapangan, tetapi menjadi pelengkap tersendiri yang sudah tidak bisa diabaikan, mengingat adanya adaptasi perubahan pada masyarakat di era revolusi industri 4.0.

BACA JUGA:

“Satu hal yang ditekankan di dalam penguatan metode digital di dalam upaya pembangunan infra struktur digital adalah etika penelitian untuk tetap mempertahankan signifikansi ilmiah dan validasi data,” tandasnya seperti dikutip dari situs resmi LIPI.

Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Bachtiar Rifai juga mengiyakan bahwa pemanfaatan metode digital bukan berarti menghilangkan metode konvensional yang telah terbangun dalam reputasi ilmiah penelitian.

“Metode digital juga relatif efisen secara waktu dengan ketiadaan mobilitas peneliti ke objek,” jelas Bachtiar. Dirinya juga menyebutkan salah satu keunggulan metode penelitian digital adalah mengurangi sekat atas dimensi keruangan, waktu dan jarak antara peneliti dan obyek penelitian sehingga diharapkan mampu mendekati kondisi selayaknya interaksi langsung.

Peneliti Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI, Ibnu Nadzir, juga menjelaskan metode riset digital dari sisi pendekatan etnografi adalah sangat adaptif terhadap obyek kajian yang diteliti termasuk pada keragaman variasi perangkat digital.

“Etnografi adalah salah satu metode yang relevan dalam konteks riset di tengah pandemi, karena pendekatannya disesuaikan dengan obyek kajian yang diteliti termasuk pada keragaman variasi dari perangkat digital,” sebut Nadzir.

Ia menambahkan konsep dasar metode digital merupakan pendekatan pengumpulan data yang menstranformasi interaksi tatap muka langsung menjadi tanpa tatap muka berbasis teknologi informasi dalam jaringan internet dengan menggunakan platform sarana komunikasi seperti komputer, Ipad/tablet, dan telpon pintar yang selanjutnya data di proses secara otomatis dengan bahasa pemrograman sebagai luarannya.

Bachtiar menjelaskan, ada tiga layer model metode riset digital: Pertama, model dengan Basis Data serba digital, mulai dari (pengumpulan, pengolahan dan visualisasi) data. Kedua, Basis Data non Digital, tetapi pengumpulan, pengolahan dan visualisasi yang serba digital. Ketiga, Data non Digital, pengumpulan data digital dan pengolahan data ada yang menggunakan digital atau non digital.

“Data non Digital ini menggunakan software dengan platform web survei online dengan contoh studi LIPI di 2020, tema Mengukur Dampak COVID-19 terhadap UMKM dan Dampak Pandemi terhadap Ekonomi Rumah Tangga,” tandas Bachtiar.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*