14 Pelopor dan Tokoh Penting Sumpah Pemuda 1928

Peserta Kongres Pemuda Kedua 1928 sedang berfoto bersama di halaman Gedung Kramat Raya 106
Peserta Kongres Pemuda Kedua 1928 sedang berfoto bersama di halaman Gedung Kramat Raya 106 (Foto: Dok. Kongres Pemuda Kedua)

JAKARTA, KalderaNews.com – 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda. Di hari istimewa ini, Indonesia memperingati tekad persatuan para pemuda dan pemudi dari berbagai penjuru Tanah Air.

Ditilik dari perspektif historis, awalnya pergerakan para pemuda dan pemudi ini ada di daerah-daerah melalui organisasi yang bersifat kedaerahan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada saat itu sebenarnya konflik yang terjadi dengan penjajah bersifat lokal atau kedaerahan dan bukan secara nasional.

Pada 1915-1924 berdiri organisasi lokal misal Tri Koro Darmo yang kemudian menjadi Jong Java pada 1915, Jong Soematranen Bond pada 1917, dan Jong Islamieten Bond pada 1924.

BACA JUGA:

Menariknya pada 1926 para pemuda dan pemudi dari berbagai penjuru Tanah Air ini sukses menggelar Kongres Pemuda I dan selanjutnya berdirilah Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI). PPPI ini menjadi organisasi lintas primordial dengan anggotanya dari seluruh Indonesia.

Selanjutnya pada 1928 Kongres Pemuda II dilaksanakan dalam tiga rapat di gedung berbeda atas prakarsa PPPI. Nah, pada rapat 28 Oktober 1928 lah lahir Sumpah Pemuda yang awalnya diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Kongres dengan hasil Sumpah Setia ini ditutup oleh WR Supratman yang mengumandangkan lagu ciptaannya Indonesia Raya yang kantas mendapat sambutan meriah. Di kemudian hari, Indonesia Raya menjadi lagu kebangsaan Indonesia yang menjadi identitas bangsa Indonesia.

Penasaran dengan tokoh-tokoh pelopor Sumpah Pemuda dan mereka yang terlibat dalam kongres bersejarah tersebut? Berikut ini 14 pelopor dan tokoh penting yang wajib diketahui hasil penelusuran KalderaNews dari berbagai sumber:

  1. Mohammad Yamin
    Tokoh penting Sumpah Pemuda yang pertama adalah Mohammad Yamin dan kamu mungkin sudah tidak asing lagi. Tokoh yang satu ini lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat pada tanggal 23 Agustus 1903 dan merupakan seorang sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum. Dalam Kongres Pemuda, Mohammad Yamin bertugas menjadi seorang sekretaris setelah sebelumnya masuk menjadi kandidat ketua. Peran besar Mohammad Yamin dalam kelahiran Sumpah Pemuda adalah rumusan resolusi Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa yang kemudian menjadi trilogi Sumpah Pemuda yang kita kenal saat ini.
  2. Soegondo Djojopoespito
    Soegondo Djojopuspito adalah tokoh pemuda yang aktif dalam Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) yang membuatnya ditunjuk untuk memimpin Kongres Pemuda Indonesia Kedua dan menghasilkan Sumpah Pemuda. Pahlawan nasional kelahiran Tuban, Jawa Timur pada 22 Februari 1905 ini dipilih langsung oleh Mohammad Hatta sebagai Ketua Persatuan Pemuda Indonesia di Belanda. Tokoh yang satu ini merupakan salah satu pemuda yang aktif dalam organisasi kepemudaan yaitu PPI. Bersama dengan Mohammad Yamin dan para pemuda lainnya, Soegondo Djojopoespito berhasil menciptakan ikrar Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia yang sekarang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda.
  3. Wage Rudolf Soepratman
    Nama Wage Rudolf Soepratman atau W.R Soepratman pastinya sudah sangat tidak asing bagi kita semua. Ya, dialah sang pencipta lagu Indonesia Raya. Pada saat Kongres Pemuda, ia memperkenalkan lagu ciptaannya Indonesia Raya yang diiringi dengan biola, yang hingga saat ini dijadikan lagu kebangsaan Indonesia. Lagu Indonesia Rayadi perdengarkan pertama kali di Kongres Pemuda saat itu. Ketika kongres, WR Soepratman memang meminta kepada Soegondo Djojopoespito, ketua kongres, untuk memperdengarkan lagu ciptaannya. Melalui lantunan biola, hadirin dibuat terpukau dengan lagu ciptaan WR Soepratman yang kini menjadi lagu kebangsaan Republik Indonesia.
  4. Amir Syarifuddin Harahap
    Amir Syarifuddin Harahap berasal dari Jong Batak atau pemuda dari Batak. Beliau merupakan salah seorang pemuda yang aktif menyumbangkan pemikirannya untuk perumusan sumpah Pemuda, pada saat itu beliau bertugas sebagai Bendahara Kongres Pemuda Indonesia. Pemikirannya yang sangat cerdas banyak membatu dalam proses perumusan Sumpah Pemuda kala itu. Tak hanya Sumpah Pemuda, Amir Syarifudin juga sangat aktif dalam pergerakan anti penjajahan Jepang hingga membuatnya terancam hukuman mati. Setelah Sumpah Pemuda, Amir Syarifudin juga banyak terlibat dalam perpolitikan Indonesia hingga akhirnya ia harus dihukum mati karena terlibat dalam pemberontakan PKI Madiun tahun 1948.
  5. Sie Kong Liong
    Sie Kong Liong adalah pemuda keturunan Tionghoa, ia mempunyai peran yang penting dalam kelancaran Kongres Pemuda pada saat itu. Hal itu dikarenakan telah menyediakan rumahnya sebagai tempat dilaksanakannya Kongres Pemuda. Rumah tersebut kini jadikan Museum Sumpah Pemuda, terletak di Jalan Kramat No.106, Jakarta Pusat. Tokoh yang merupakan keturunan Tionghoa ini sering luput dari perhatian sejarah Indonesia terkait Sumpah Pemuda padahal memiliki jasa yang besar.
  6. Sarmidi Mangoensarkoro
    Sarmidi Mangoensarkoro adalah pejuang di bidang pendidikan, ia ikut tampil sebagai pembicara pada Kongres Pemuda dan menyampaikan pidato tentang Pendidikan Nasional, yang mengemukakan bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan dan dididik secara demokratis, serta perlunya keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Sarmidi Mangoensarkoro yang saat itu menjadi pembicara dalam Kongres Pemuda II. Ia juga menekankan betapa pentingnya mendapatkan pendidikan tentang nilai kebangsaan. Ia bersama Poernomowoelan juga membicarakan seputar pentingnya keseimbangan pendidikan di rumah dan di sekolah serta pendidikan anak yang harus bersifat demokratis.
  7. Soenario Sastrowardoyo
    Soenario Sastrowardoyo merupakan pengacara yang aktif membela para aktivis pergerakan yang berurusan dengan polisi Hindia Belanda. Pada saat kongres pemuda berlangsung Ia berkesempatan melakukan pidato dengan tema pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia. Soenario Sastrowardoyo berperan sebagai seorang penasihat dan membantu melancarkan perjalanan kongres karena memiliki pengalaman organisasi yang mumpuni. Pengalaman yang didapatkannya dari Belanda juga membantu para aktivis ketika berurusan dengan para polisi Hindia Belanda saat itu. Tak hanya dalam Kongres Pemuda, Soenario Sastrowardoyo juga memiliki peran penting sebagai seorang Sekretaris Perhimpunan Indonesia di Belanda.
  8. Djoko Marsaid
    Djoko Marsaid merupakan perwakilan dari Jong Java, Beliau merupakan wakil ketua Kongres Pemuda mendampingi Soegondo Djojopuspito. Tokoh yang satu ini merupakan ketua dari Jong Java sebelum akhirnya menjabat sebagai wakil ketua mendampingi Soegondo Djojopoespito. Tidak banyak yang diketahui dari Djoko Marsaid, namun perannya sebagai wakil ketua tetap menyumbang kontribusi besar bagi kelahiran Sumpah Pemuda dan tidak boleh kamu lupakan.
  9. Johannes Leimen
    Johannes Leimena adalah salah satu anggota Kongres Pemuda yang merupakan perwakilan dari Jong Ambon. Johannes Leimena merupakan salah satu anggota Kongres Pemuda II dan merupakan mahasiswa kedokteran di Stovia (sekarang Fakultas Keodkteran Universitas Indonesia). Kala itu, Johannes Leimena menjabat menjadi Pembantu IV dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II tahun 1928. Setelah Sumpah Pemuda dan kemerdekaan Indonesia, Johannes Leimena mulai aktif dalam perpolitikan Indonesia dan menjadi ketua umum Partai Kristen Indonesia tahun 1950 hingga 1957.
  10. Kartosiewirjo
    Kartosiewirjo atau Sekarmadji Maridjan Kartosiewirjo yang merupakan aktivis yang pernah mengenyam pendidikan di Eropa. Meski belakangan menjadi pemimpin DI/TII yang mendeklarasikan Negara Islam Indonesia, ia merupakan salah satu tokoh penting dalam pembuatan Teks Sumpah Pemuda 1928. Pria Kelahiran 7 Februari 1905 ini merupakan segelintir putra bangsa yang berhasil mengenyam pendidikan Eropa kala itu. Dia bersekolah di Holland Inlandsche School (HIS) di Rembang. Tempat itu merupakan sekolah elit khusus untuk anak=anak Eropa totok dan Indo (campuran).
  11. Kasman Singodimedjo
    Kasman Singodimedjo merupakan pemuda yang merintis adanya Pramuka di Indonesia, beliau juga dikenal sebagai orator yang ulung. Lahir di Poerworedjo, Jawa Tengah, 25 Februari 1904 – meninggal di Jakarta, 25 Oktober 1982 pada umur 78 tahun). Ia adalah Jaksa Agung Indonesia periode 1945 sampai 1946 dan juga mantan Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin II. Selain itu ia juga adalah Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang menjadi cikal bakal dari DPR.
  12. Mohammad Roem
    Mohammad Roem adalah seorang mahasiswa di bidang hukum yang juga aktif dalam perkumpulan pemuda Indonesia. Roem lahir di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, Hindia Belanda, pada tanggal 16 Mei 1908. Ayahnya adalah Dulkarnaen Djojosasmito, dan ibunya adalah Siti Tarbijah. Dia pindah ke Pekalongan karena Parakan dilanda wabah penyakit menular seperti kolera, wabah, dan influenza. Pada tahun 1915, ia belajar di Volksschool dan dua tahun kemudian melanjutkan ke Hollandse Inlandsche Sekolah sampai 1924. Pada tahun 1924, ia menerima beasiswa untuk belajar di “School tot Opleiding van Indische Artsen” – STOVIA setelah menghadiri pemeriksaan pemerintah. Selama Kebangkitan Nasional Indonesia, ia aktif di beberapa organisasi seperti Obligasi Jong Islamieten pada tahun 1924 dan Sarekat Islam pada tahun 1925. Selama Revolusi, ia adalah seorang anggota delegasi Indonesia di Perundingan Linggarjati (1946) dan Perjanjian Renville (1948). Pada tahun 1949, ia juga pemimpin delegasi di Perjanjian Roem-Roijen, yang membahas batas Indonesia, dan ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949.
  13. A.K Gani
    A.K Gani atau Adnan Kapau Gani adalah Jong Sumatran Bond yang merupakan perwakilan dari Palembang, ia juga merupakan seorang dokter. Berayah seorang guru, Gani yang terlahir di Sumatra Barat pada 16 September 1905 ini sudah tahu betapa penting peran pendidikan pada masanya. Didorong kesadaran tersebut, ia memutuskan pindah ke Batavia pada 1926 untuk melanjutkan pendidikannya dalam ilmu pengobatan di STOVIA, sebuah sekolah kedokteran terkenal pada masa itu. Juga dikenal aktif di berbagai organisasi dan politik, Gani muda banyak menghabiskan waktunya mengikuti kegiatan sosial seperti perkumpulan Jong Java dan Jong Sumatera. Ketika Kongres Pemuda II tahun 1928 akan diselenggarakan, Adnan Kapau (AK) Gani turut berperan sebagai penyumbang dana untuk suksesnya kongres tersebut
  14. Dolly Salim
    Theodora Athia Salim atau biasa disebut dengan Dolly Salim juga merupakan salah satu tokoh penting Sumpah Pemuda. Putri dari Agus Salim inilah yang melantunkan lagu Indonesia Raya melalui biolanya meskipun ia bukanlah anggota Kongres. Selain itu, Dolly Salim juga berinisiatif untuk melantunkan lirik lagu Indonesia Raya, meskipun Kongres Pemuda dijaga oleh polisi Belanda dan melarang kata ‘merdeka’. Lirik ‘merdeka’ dalam lagu tersebut kemudian diganti dengan ‘mulia’ oleh Dolly Salim agar tidak memicu pembubaran dan penangkapan tokoh lainnya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*