Artificial Intelligence (AI) Berkembang Pesat Saat Pandemi Covid-19

Teknologi Artificial Intelligence (AI)
Teknologi Artificial Intelligence (AI) (KalderaNews/Ist)

JAKARTA, KalderaNews.com – Era revolusi industri 4.0 menyebabkan banyak pekerjaan mulai hilang. Hal ini karena Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), sebagai main driver industri, dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru dan lahirnya kompetensi baru.

Menyikapi hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) meluncurkan Konsorsium Riset Artificial Intelligence untuk menyiapkan ribuan talenta Artificial Intelligence yang dibutuhkan oleh pembangunan bangsa dan negara, untuk bidang pangan, kesehatan, keamanan, manufaktur, transportasi, dsb.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI, Nizam menegaskan informasi dari dunia perindustrian akan dibutuhkan sekitar 250 ribu talenta di bidang Artificial Intelligence ini dalam 5 tahun ke depan. Nah, dengan bergandengan tangan dan bergotong royong antara dunia pendidikan, dunia penelitian, dan dunia perindustrian maka hal itu tentu bisa dipenuhi.

Hilangnya Kompetensi Lama

Nizam menyampaikan bahwa setiap revolusi industri selalu ditandai dengan hilangnya kompetensi lama. Pada revolusi industri pertama dimana tenaga kasar manusia tergantikan oleh mesin uap dan mesin pintal, pada revolusi industri kedua ditandai dengan elektrifikasi dan pada revolusi industri ketiga ditandai dengan otomasi.

“Perubahan tersebut memberikan dampak pada hilangnya berbagai pekerjaan, tetapi bersamaan dengan itu juga lahir jutaan pekerjaan yang levelnya lebih tinggi,” tandasnya di webinar Peluncuran Konsorsium Riset Artificial Intelligence pada Rabu, 14 Oktober 2020.

Perbedaan signifikan yang terjadi pada teknologi pada akhir abad ke-20 dengan teknologi yang ada sekarang adalah melakukan pendekatan dengan sistem logic biasa dan dimasukkan kedalam mesin sehingga mesin tersebut menganalisa dengan pola pikir linear mesin. Sedangkan, saat ini sudah menggunakan pendekatan dengan neural networks, deep learning, artificial intelligence sehingga mesin yang muncul akan lebih canggih.

“Salah satu contoh pemanfaatan artificial intelligence pada dunia kesehatan yaitu untuk mendiagnosis penyakit. Artificial intelligence mampu mendiagnosis berbagai penyakit secara cepat, dibandingkan dengan dokter spesialis yang mungkin sudah berpengalaman selama 10 atau 20 tahun,” ucapnya.

Nantinya, kata Nizam, pengembangan Artificial Intelligence lebih baik dilakukan dengan pendekatan bottom up karena akan jauh lebih sustainable, dibandingkan dengan pendekatan top down. Hal tersebut sesuai dengan agenda nasional yang besar maka dibutuhkan resource yang besar agar transformasi tersebut terjadi.

AI Berkembang Pesat Saat Pandemi

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza menjekaskan Artificial Intelligence masuk dalam strategi nasional yang langsung diberikan mandat oleh Presiden Joko Widodo.

Strategi Nasional akan berfokus pada kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan dan riset, ketahanan pangan, dan mobilisasi/smart city. Towards Indonesia Vision 2045 akan mewujudkan kecerdasan Artificial Intelligence yang berlandaskan Pancasila, berdaya saing dan berkarakter.

“Indonesia akan menghadapi bonus demografi, oleh karena itu kesempatan ini kita manfaatkan dengan menyiapkan sumber daya manusia talenta Artificial Intelligence yang berdaya saing dan berkarakter dalam menghasilkan inovasi yang unggul,” ucapnya.

Senior Director & Chief Solution Architect Solution Head of Nvidia Technology Center (NVAITC) Simon See menjelaskan kecerdasan buatan terdiri dari data-data yang memungkinkan kita untuk mengakses ketika satu sama lain berkontribusi, baik itu foto, panggilan telepon, data kesehatan medis, banyak data besar yang dikumpulkan.

Di era pandemi Covid-19, Artificial Intelligence sendiri telah mengalami perkembangan yang pesat seiring dengan kebutuhan komunikasi secara virtual yang kian meningkat.

Lebih lanjut Simon menjelaskan bahwa keberadaan Artificial Intelligence saat ini juga sudah memasuki ranah yang lebih detail dalam mengontrol manusia, misalnya dalam melakukan monitoring kebiasaan saat bekerja dari rumah.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*