Duh, Indonesia Bakal Kekurangan Guru Lebih dari 1 Juta, Butuh Pemerataan

Guru dan murid di kelas, Sekolah termahal di Jakarta, Sekolah mahal Jakarta,
Guru dan murid di kelas (KalderaNews/Ist)

JAKARTA, KalderaNews.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memperkirakan sekolah di Indonesia bakal kekurangan lebih dari 1 juta guru setiap tahun sepanjang periode 2020-2024. Angka itu disinyalir akan terus meningkat seiring tahun.

Kondisi disebabkan pembukaan unit sekolah baru, penambahan ruang kelas baru, serta jumlah guru yang pension lebih banyak dibanding rekrutmen guru baru. Data Kemendikbud menyebutkan bahwa pada 2020 terdapat 72.976 guru pensiun. Jumlah ini tentu menyumbang kekurangan guru yang angkanya mencapai 1.020.921 orang.

BACA JUGA:

Angka ini diperkirakan akan meningkat pada 2021, dengan kekurangan guru mencapai 1.090.678 orang. Sementara, tahun 2022 kekurangan guru menjadi 1.167.802 orang, dengan jumlah yang pensiun 77.124 orang.

Lalu pada 2023, kekurangan guru naik lagi menjadi 1.242.997 orang, dengan jumlah yang pensiun 75.195 orang. Dan pada 2024 kekurangan guru diprediksi mencapai 1.312.759 orang dengan jumlah yang pensiun 69.762 orang.

Sementara, mengutip Data Pokok Pendidikan, terdapat 3.168.293 guru yang sekarang mengajar di 434.483 sekolah. Sedangkan jumlah siswa mencapai 52.539.935 orang. Jadi, rata-rata satu guru mengajar 16 sampai 17 orang.

Jika melihat angka rata-rata itu, jumlah guru saat ini sebanding dengan jumlah siswa. Masalah utamanya adalah di pemerataan. Misal terjadi di SMK Negeri 7 Ende Moni, Kelimutu, Nusa Tenggara Timur. Di sekolah ini seluruh pendidik adalah guru honorer, kecuali kepala sekolahnya.

Kondisi serupa juga terjadi di SMA Negeri 1 Tabukan Utara, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Sekolah ini bahkan terpaksa mempekerjakan guru yang berijazah lulusan SMA.

Mendikbud, Nadiem Makarim, di awal masa jabatannya sempat menyinggung wacana rotasi guru secara nasional. Ha ini untuk memastikan pemerataan pendidikan maksimal di setiap daerah.

Namun, pada kenyataannya, guru masih banyak yang “bergerombol” di daerah tertentu. Sementara di daerah lain, jumlah guru tak sebanding dengan jumlah siswa yang ada.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*