Jalur Nekad ke Universitas Harvard

Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta.
Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta (KalderaNews/Ist)

Oleh Eben E. Siadari *

Tahun 1996, di umurnya yang ke 16, lengkaplah penderitaan Elizabeth “Liz” Murray. Ibunya meninggal karena AIDS. Ayahnya tidak memiliki apa-apa dan terpaksa tinggal di penampungan tunawisma. Gadis yang lahir di Bronx, New York, 23 September 1980 itu menjadi anak jalanan. Hidup terlunta-lunta. Tidur di bangku taman atau di kereta malam. Kakaknya menumpang tidur di sofa temannya.

Namun 13 tahun kemudian gadis gelandangan itu berhasil lulus dari Universitas Harvard. Ia menjadi pembicara publik. Duduk berdampingan dengan banyak pemimpin dunia. Memotivasi generasi muda agar jangan mengikuti jalur masa lalunya.

Apa yang membuat Liz Murray dapat melampaui masa sulit itu dan mencapai cita-citanya?

Tahun 2010, buku memoarnya yang berjudul Now Breaking Night: A Memoir of Forgiveness, Survival, and My Journey from Homeless to Harvard, masuk dalam daftar buku terlaris  New York Times. Buku itu dipuji sebagai catatan hitam putih tentang bagaimana sintas dari kesulitan hidup.

BACA JUGA:

Kisah Liz Murray adalah contoh tentang kesulitan hidup yang tidak harus dipandang sebagai hambatan menuju kemajuan.  Cerita tentang gadis ini juga merupakan bukti bahwa keluarga berantakan tidak berarti akhir dari segalanya.

Terlahir di Bronx, New York, Liz Murray dibesarkan oleh orang tua pecandu narkoba. Kematian ibunya membuat hidupnya tidak menentu.

Hidupnya seperti layang-layang putus. Bertahun-tahun ia begitu. Sekolah tidak teratur. Dibesarkan di sebuah keluarga yang pecandu narkoba, membuatnya tidak memiliki orientasi masa depan.

Sebagai anak jalanan ia telah mengalami bagaimana mengatasi kelaparan dengan mencuri makanan. Dia juga sering mengutil buku-buku motivasi dari toko buku.  Di malam hari ia belajar di emperan rumah teman, karena tidak diperbolehkan masuk.

 Namun ada satu momen yang kemudian membalikkan keadaan.  Di puncak penderitaannya — ibunya meninggal dan ayahnya tak punya apa-apa,  ia berjanji untuk hidup lebih serius. Ia mematrikan tekad pada dirinya harus lulus dengan nilai semua mata pelajaran A. Dan ia menyelesaikan pendidikan SMA nya walau pun terlambat.

Selama satu tahun ia bekerja sambil kuliah di malam hari di  Humanities Preparatory Academy in Chelsea. Dalam dua tahun ia berhasil menyelesaikan studinya.

Seorang dosen melihat  keberaniannya dan membimbingnya.  Ketika sang dosen membawa 10 mahasiswa terbaiknya ke Harvard,  Liz Murray tidak turut serta. Namun itu tak membuatnya berkecil hati. Ia  berdiri di luar gedung universitas, mengagumi arsitekturnya – dan mengatakan pada dirinya sendiri, suatu saat ia akan kuliah di sana.

Di mana ada kemauan di sana ada jalan. Dia mendengar bahwa New York Times memberikan beasiswa. Dia melamar dan berhasil mendapatkan beasiswa untuk mahasiswa miskin. Dia diterima di Universitas Harvard.

Ia  mengambil matrikulasi pada semester musim gugur tahun 2000.  Ia sempat meninggalkan Harvard pada tahun 2003 untuk merawat ayahnya yang sakit,  dan  kembali ke universitas itu pada tahun 2006 dan lulus pada bulan Juni 2009. Pada Agustus 2009, ia mulai mengambil kuliah pascasarjana di Harvard Summer School dengan rencana untuk mendapatkan gelar doktor dalam psikologi klinis. Tahun 2010, ia lulus.

Kisah hidupnya menarik perhatian Oprah Winfrey. Oprah mengundangnya dan  memberinya penghargaan. Keberhasilan Liz Murray sebagai gadis tunawisma yang berhasil lulus dari Universitas Harvard mendapat apresiasi dari banyak orang.

Ia menjadi motivator dan diundang berbicara di berbagai tempat. Pencapaian itu telah membawanya bertemu dengan Bill Clinton.  Ia telah berbicara di berbagai kesempatan bersama Tony Blair, Mikhail Gorbachev dan Dalai Lama.

Dia berbicara kepada remaja tentang menolak godaan narkoba. Dia juga mendesak mereka untuk tidak menggunakan kesulitan masa kecil sebagai alasan untuk tidak mengambil peluang.

Dia mendirikan dan menjadi direktur Manifest Living yang memberi semangat kepada para generasi muda di seluruh dunia. Sebuah film untuk televisi pada tahun 2013, Homeless to Harvard: The Liz Murray Story,  didedikasikan untuk menggambarkan kehidupannya. Pada 19 Mei 2013, dia dianugerai gelar doktor kehormatan untuk bidang layanan publik, dan namanya diabadikan di  Merrimack College in North Andover, Massachusetts.

Di waktu kecil,  Liz sudah terbiasa menyaksikan orangtuanya tak melakukan apa-apa  sepanjang hari. “Kedua orang tua saya adalah hippies,” kata dia. Ketika ia lahir, disko dan narkoba menjadi pusat kehidupan orang tuanya.

Liz Murray mengatakan ia sangat mencintai kedua orang tuanya. Dan ia tahu, mereka juga mencintai dirinya. Tetapi ia dapat melihat bahwa kedua orang tuanya adalah orang yang cerdas yang tidak memiliki harapan dan motivasi menggapai masa depan. Ketergantungan pada narkoba dan kemiskinan menjadi penyebabnya.

Dia ingat ibunya mencuri uang ulang tahunnya. Ibunya juga menjual televisi, dan bahkan kalkun Thanksgiving yang diberikan oleh gereja untuk membeli narkoba.

Liz  menjadi tidak terperhatikan. Ia datang ke sekolah dengan rambut yang penuh kutu, bau dan diintimidasi oleh kawan-kawannya.

Ibunya selalu berkata bahwa suatu hari kehidupan akan menjadi baik. Namun ibunya tidak berubah. Menghabiskan hari dengan muntah-muntah dan sibuk dengan jarum suntik.

Awalnya Liz melihat dirinya sebagai pemberontak dan korban.  Namun kemudian dia memiliki pencerahan. Dan meyakini bahwa nasibnya ditentukan oleh dirinya sendiri.

“Seperti ibuku, aku selalu berkata, ‘Aku akan memperbaiki hidupku suatu hari nanti.’ Dan hal itu menjadi jelas ketika aku melihat dia meninggal tanpa sempat memenuhi mimpinya, dan kini mungkin adalah giliranku untuk memenuhinya, atau tidak sama sekali, “kata dia.

Ayahnya meninggal pada tahun 2006, juga karena AIDS.  Satu hal yang ia sangat merasa berutang kepada ayahnya adalah mendorongnya untuk membaca – dan mencuri buku-buku dari perpustakaan untuk memberinya kecintaan pada sastra.

* Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan. Buku karyanya antara lainEsensi Praktik Menulis (2019), The Beautiful Sarimatondang (2020), Perempuan-perempuan Batak yang Perkasa (2020) dan Kerupuk Kampung untuk Gadis Berkacamata Bill Gates (2020).

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*