Kekeluargaan di MME Swiss German University (SGU) Itu Gede Banget

Profesional muda yang kini sedang menempuh Program Master of Mechanical Engineering (MME) di Swiss German University (SGU), Paulus Gagat
Profesional muda yang kini sedang menempuh Program Master of Mechanical Engineering (MME) di Swiss German University (SGU), Paulus Gagat (KalderaNews/Dok. Pribadi)

JAKARTA, KalderaNews.com – Lingkungan dan suasana yang nyaman dan menyenangkan dalam perkuliahan menjadi salah satu kunci proses belajar akan mencapai hasil maksimalnya. Kenyamanan itu biasanya terwujud dalam partisipasi aktif mahasiswa. Tak hanya itu saja, komunikasi dosen-mahasiswa pun terbangun intensif sehingga para dosen benar-benar mengetahui perkembangan dan kebutuhan para mahasiswanya.

Iklim yang nyaman dan kondusif dalam perkuliahan menghilangkan kecanggungan dosen-mahasiswa maupun antar mahasiswa sendiri. Apalagi menurut sejumlah penelitian, keakraban antara dosen dan mahasiswa menjadi salah satu penentu keberhasilan proses belajar bagi mahasiswa. Keakraban yang terjalin membuat suasana belajar akan lebih menyenangkan dan mahasiswa lebih mudah memahami materi kuliah.

Suasa yang menyenangkan demikian ini dirasakan oleh Paulus Gagat, seorang profesional muda yang kini sedang menempuh Program Master of Mechanical Engineering (MME) di Swiss German University (SGU).

BACA JUGA:

“Suasana perkuliahan di SGU di luar dugaannya. Awalnya agak takut karena saya dari kampung dan di Jakarta ini merantau,” akunya saat berbincang dengan KalderaNews.

Kebiasaannya ngomong dengan logat Jawa menjadi salah satunya ketakutan awalnya, terutama saat harus komunikasi atau ngomong pakai bahasa Inggris di kampus. Namun setelah masuk, kecemasan dan ketakutan itu pelan-pelan pudar.

“Ternyata dosen dan teman kuliah di SGU itu bener-bener support satu sama lain. Kekeluargaannya itu gede banget. Apalagi ketika kita break kuliah. Saat berbaur dan ngobrol kita justru saling menguatkan. Dan ketika pandemi, sehingga nggak bisa ketemu dan ngobrol, yang bener-bener dikangenin itu ya saat-saat di kelas dan saat-saat break,” akunya.

Perkembangan Mahasiswa Terpantau

Jumlah mahasiswa yang terbatas di ruang kelas juga membuat dosen bisa konsen ke masing-masing mahasiswa. Saat mahasiswa mengalami kesulitan alias mentok, dosen bisa langsung mendampingi dan fokus ke mahasiswanya.

“Materi perkuliahannya pun disampaikan dengan asyik sehingga kita bisa mengikuti dengan mudah. Kita bisa memahami dengan mudah. Secara pribadi harus diakui, saat pandemi seperti saat ini, terutama karena jarak jauh, agak susah karena mekatronik ini seharusnya banyak praktik. Jadi memang agak terkendala.”

Saat tatap muka, dosen benar-benar bisa memantau dan mengarahkan mahasiswa. Mereka memberikan materi dan mahasiswa diarahkan untuk mempraktikkan langsung. Di antara para mahasiswa pun saling support dan diskusi intensif untuk pengembangan.

“Setelah 5 hari pusing dengan kerja, Sabtunya ketemu temen-temen itu sesuatu yang saya suka. Saya bisa refreshing ketemu temen-temen dan belajar hal yang saya senengi.”

Bahkan, beberapa teman kuliah yang umurnya beda jauh justru menjadi pemicunya untuk terus maju. Meski beberapa sudah berumur, tetapi semangat kuliahnya besar. Apalagi, mereka itu sudah banyak pengalaman kerja, sehingga ia makin bisa memperkaya diri dari pengalaman mereka melalui sharing.

Menciptakan Emergency Resuscitator

Kendati mekatronika itu bukan hal baru baginya karena sebelumnya telah mengambil D3 Mekatronika, tapi pendalaman dan pengembangnya di S2 MME Swiss German University (SGU) dirasa sangat menarik.

Apalagi S2 Mekatronika yang ditemukannya itu hanya di SGU, setelah pencarian lama, karena di kampus lain kebanyakan elektro yang condong ke pembangkit listrik dan energi.

“Kayak di semester 3 ini ada robotic dan mekatronic system design. Secara dasar itu sudah sudah didapatkan di D3, tapi pengembangannya di S2 ini menarik,” aku lulusan S1 Manajemen.

Emergency Resuscitator
Emergency resuscitator hasil inovasi Paulus Gagat di program MME Swiss German University (SGU) (KalderaNews/Dok. Pribadi)

Apalagi, lingkungan kerjanya di panel maker yang saat ini arahnya makin ke smart panel makanya ilmu mekatronika yang didalami lagi ini benar-benar kepakai di pakerjaan.

Karena penekanan pengembangan ilmu di S2 MME Swiss German University (SGU) sangat kuat, ia pun telah berhasil merancang dan menciptakan emergency resuscitator yang relevan di tengah pandemi Covid-19.

“Kalau ventilator khusus untuk mereka yang sudah benar-benar gagal nafas, kalau resuscitator ini membantu memompa udara ke paru-paru pasien,” tandasnya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*