Ruwetnya Masalah Limbah Plastik, Daur Ulang Bukan Solusi Tepat!

Esther Kentin jadi pembicara pada Fokustik 2020: Plastic War. Sampah plastik masih menjadi masalah yang tidak habis-habisnya di seluruh dunia (KalderaNews/ Syasa Halima)
Esther Kentin jadi pembicara pada Fokustik 2020: Plastic War. Sampah plastik masih menjadi masalah yang tidak habis-habisnya di seluruh dunia (KalderaNews/ Syasa Halima)

DEEN HAAG, KalderaNews.com – Sampah plastik sangat mudah ditemukan di kehidupan sehari-hari. Esther Kentin selaku pembicara pada acara Fokustik 2020: Plastic War menjelaskan mengenai dampak plastik dan limbahnya bagi lingkungan. Ia merupakan dosen dan ketua Leiden Advocacy Project on Plastic (LAPP) yang giat melakukan sosialisasi untuk mengurangi penggunaan plastik.

Di Eropa, plastik ditemukan pada tahun 1907 dalam dalam bentuk barang yang digunakan sehari-hari, seperti telepon atau pemanggang roti. Lalu, pada tahun 1950-an terjadinya peningkatan pembuangan sampah plastik yang tidak terkendali. Awalnya bermula dari pembuangan sampah-sampah plastik sendok atau gelas dari Amerika Serikat, kemudian meluas hingga Eropa dan seluruh dunia.

Pada tahun 1990-an penelitian menemukan tanda pertama polusi lingkungan yang disebabkan oleh sampah plastik. Para peneliti menemukan sampah plastik mengapung di sekitar samudera, sungai, dan pantai. Kemudian, polusinya semakin memburuk dengan adanya sampah plastik mikro.

Plastik menjadi barang yang mendampingi setiap aktivitas manusia, terutama saat belanja. Masih banyak negara-negara yang memiliki ketergantungan terhadap plastik ketika belanja di supermarket hingga toko kecil seperti warung.

BACA JUGA:

Esther menyebutkan bahwa plastik mudah sekali ditemukan di rumah. Sifatnya yang tahan lama menyebabkan pemakaiannya meningkat di lingkungan domestik.

“Plastik mudah sekali ditemukan di rumah. Kehidupan kita dikelilingi oleh barang-barang plastik yang memang tahan lama, seperti bungkus pasta gigi, kursi, karpet, headphone yang saya gunakan, kasur, tirai,” ujarnya.

Permasalahan plastik bukan hanya terjadi pada lingkup makro, tetapi juga mikro yang dapat manusia temukan dengan mudah di sekitarnya. Esther mengungkapkan bahwa manusia di seluruh dunia sangat ketergantungan dengan plastik, meskipun suatu negara sudah memiliki sistem pengolahan limbahnya.

“Permasalahan utama plastik selalu berkutat pada pengolahan limbahnya. Negara seperti Jerman dan Norwegia yang menggalakkan program pengurangan penggunaan plastik masih tetap ada generasi plastik. Lalu, polusinya akan semakin parah pada 2025 jika kita tidak melakukan apapun untuk menangani limbahnya, terutama di negara-negara Asia,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa Cina, Indonesia, dan India merupakan salah tiga negara di Asia yang memiliki ketergantungan sangat tinggi terhadap plastik. Di negara-negara yang tergabung di kesatuan Eropa sendiri, permasalahan bukan hanya pada bidang limbah, tetapi bidang lainnya seperti pertanian, kosmetik, dan lain sebagainya. Hal ini disebabkan oleh plastik sekali pakai yang marak digunakan di Eropa.

Saking luasnya permasalahan, Esther mempersempit fokus pada sampah plastik di pantai. Penelitiannya menemukan bahwa 50% pengunjung pantai memakai plastik sekali pakai, 34% plastik jenis lain, dan 16% non plastik.

Lalu, terlalu banyaknya penggunaan plastik, maka ia menargetkan jenis plastik yang pemakaiannya harus dikurangi. Pada pemaparannya, ia fokus kepada pengurangan sampah plastik jenis botol. Ia berharap jumlahnya sudah berkurang hingga 90% pada tahun 2025. Menurutnya, mengurangi selalu lebih baik daripada daur ulang.

“Jika Anda mengurangi penggunaan (plastik), maka itulah cara terbaik. Sebenarnya, Belanda dan negara kesatuan Eropa tidak mendaur ulang plastik (untuk mengurangi polusinya). Daur ulang terkadang butuh proses pembakaran. Saya bukan penggemar daur ulang,” ucapnya saat presentasi daring.

Ia memberikan cara lain untuk menguranginya, yaitu pengelompokkan jenis plastik berdasarkan pemakaian. Lalu, pelarangan penggunaan plastik. Kemudian, desain produk, seperti mengurangi produksi botol plastik sekali pakai. Ia berharap produsen lebih fokus kepada desain botol yang dapat digunakan terus menerus.

Kemudian, ia menjelaskan metode Extended Producer Responsibility (EPR). Menurutnya, para produsen harus benar-benar memikirkan dampak penggunaan plastik pada produknya. Kesadaran mereka mengenai limbah plastik harus terus menerus ditingkatkan. Dengan demikian, kesadaran tersebut akan menyasar target konsumen lebih tepat sasaran.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*