Tantangan Orang Muda: Ciptakan Good News dan Hadapi Radikalisme

Romo Antonius Haryanto, Sekretaris Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komkep KWI) saat menjadi pembicara dalam webinar “Ngobras Bareng Tokoh: Sumpah Pemuda dan Semut Merah”, yang digelar Rabu, 28 Oktober 2020. (KalderaNews.com/y.prayogo)
Romo Antonius Haryanto, Sekretaris Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komkep KWI) saat menjadi pembicara dalam webinar “Ngobras Bareng Tokoh: Sumpah Pemuda dan Semut Merah”, yang digelar Rabu, 28 Oktober 2020. (KalderaNews.com/y.prayogo)

JAKARTA, KalderaNews.com – Satu tantangan terbesar pada 92 tahun silam, ketika Sumpah Pemuda dikumandangkan adalah kemerdekaan Indonesia. Dan, para pemuda dari beragam latar belakang muncul sebagai pemecah tantangan itu, dengan melahirkan rumusan Sumpah Pemuda.

BACA JUGA:

“Ketika memperingati Sumpah Pemuda, yang tergambar dalam diri saya adalah rasa syukur yang mendalam,” ujar Romo Antonius Haryanto, Sekretaris Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komkep KWI) saat menjadi pembicara dalam webinar “Ngobras Bareng Tokoh: Sumpah Pemuda dan Semut Merah”, yang digelar Rabu, 28 Oktober 2020. Acara ini digelar Alumni Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta.

Romo Hari, sapaannya, mengatakan, ada tiga alasan untuk mensyukuri peristiwa Sumpah Pemuda. Pertama, bahwa sejak 92 tahun lalu, pemuda muncul sebagai pemecah masalah. Pemuda melahirkan rumusan Sumpah Pemuda yang menjadi jembatan menuju kemerdekaan Indonesia. “Salah satunya dengan bahasa yang satu, Indonesia dipersatukan untuk mencapai kemerdekaan,” katanya.

Kedua, Sumpah Pemuda memberikan kesadaran bahwa segala perbedaan itu justru bisa disatukan dan menjadi kekuatan. “Inilah adalah good news. Sumpah Pemuda memberikan berita baik, bukan menyebar bad news, yang menyebarkan kebencian dan memecah belah karena perbedaan,” tandas Romo Hari.

Ketiga, semangat Sumpah Pemuda mendorong orang muda dari beragam latar belakang untuk bersolidaritas dengan sesamanya. “Saat ini, kita bisa melihat banyak orang muda yang mengupayakan aneka hal untuk membantu sesamanya yang menderita dan kekurangan,” ujarnya.

Kini, lanjut Romo Hari, selain pandemi Covid-19, orang muda juga ditantang untuk menghadapi fenomena bonus demografi, di mana jumlah orang muda akan mencapai 50 hingga 60 persen dari jumlah penduduk Indonesia. “Kondisi ini tentu akan berimbas pada seluruh sendi kehidupan masyarakat. Inilah tantangan orang muda yang ada di depan mata!” tegas Romo Hari.

Selain itu, Romo Hari juga mengajak orang muda di seluruh Indonesia, untuk terus menciptakan good news. “Kita bisa bertanya dalam diri sendiri, sudahkah saya membuat good news di media sosial? Apakah komentar-komentar saya memberikan kebaikan bagi orang lain? Itulah tantangan lain hari ini!”


Mohammad Nuruzzaman, Ketua Bidan Kajian dan Hubungan Strategis PP Gerakan Pemuda Ansor. (KalderaNews.com/y.prayogo)

Sementara, Mohammad Nuruzzaman, Ketua Bidang Kajian dan Hubungan Strategis PP Gerakan Pemuda Ansor memberikan tantangan lain kepada orang muda. Ia melihat, ada sekelompok kecil masyarakat yang ingin mengubah konsensus bersama tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia juga menyebutkan bahwa radikalisme dan terorisme sudah merasuk ke dalam orang muda di Indonesia.

“Ada kelompok radikal yang ingin mengubah konsensus itu. Ada kelompok lain yang selalu mengklaim kebenaran. Sementara, ada kelompok masyarakat yang mayoritas diam. Sembilan puluh persen pelaku radikalisme dan terorisme di Indonesia adalah mereka yang berusia di bawah 40 tahun. Inilah tantangan kita bersama,” ujar Nuruzzaman.

Tantangan ini, ujar Nuruzzaman, adalah persoalan kebangsaan, maka harus diatasi secara bersama. “Sesuai dengan semangat Sumpah Pemuda, kita harus mempertahankan NKRI sampai kapan pun!” tegasnya.

Selain mereka berdua, acara ini juga menghadirkan pembicara dr. Christian Silman, alumni FKIK UAJ, cicit dari Sie Kong Lian, pemilik rumah yg sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda dan Dilla Hartono, mahasiswa aktif Fakultas Hukum Unika Atma Jaya. Webinar yang dimoderatori dr. Nurliati Sari Handini, SpBP-RE, alumni FKIK UAJ, dokter spesialis bedah plastik dan rekonstruksi estetika ini juga diisi dengan virtual tour ke Museum Sumpah Pemuda.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*