Digempur Revolusi Industri 4.0 dan Soeciety 5.0, Dimana Arti Kemanusiaan?




Seminar Unika Soegijapranata
Seminar pendidikan tinggi menuju Soeciety 5.0 di Theatre Thomas Aquinas kampus Unika kawasan Bendan Duwur, Kamis, 8 Agustus 2019 (KalderaNews/Unika Soegijapranata)

SEMARANG, KalderaNews.com – Forum Doktor LPPM Unika Soegijapranata Semarang menggelar seminar pendidikan tinggi menuju Soeciety 5.0 di Theatre Thomas Aquinas kampus Unika kawasan Bendan Duwur, Kamis, 8 Agustus 2019,

Seminar dibuka Rektor Unika Prof Dr Ridwan Sanjaya MSIEC menampilkan 3 narasumber Prof Dr Aris Junaidi (Direktur Penjaminan Mutu Kemenristekdikti), Irendra Radjawali PhD (Chief Technology Officer Innovator 4.0 Indonesia) dan Robertus Setiawan Adji PhD (dosen Unika).

Rektor Unika Prof Dr Ridwan Sanjaya MSIEC menegaskan seminar ini bertujuan memposisikan iptek untuk mandat kemanusiaan. Seminar ini menekankan arti penting kemanusiaan di tengah terjangan kemajuan teknologi informasi yang semakin masif saat ini.

BACA JUGA:

Dengan gencarnya perkembangan teknologi dengan berbagai label yang ada (revolusi industru 4.0 yang dipelopori Jerman dan era society 5.0 yang dipelopori Jepang), keduanya harus dipastikan tetap pada jalurnya yang tidak merusak kemanusiaan, justru membangun kemanusiaan.

Sedangkan Prof Aris menyoroti masih minimnya doktor di Indonesia yang baru mencapai 14,7 % (45.000 doktor) dari total dosen 300.000. Jumlah ini juga masih kurang dibanding jumlah dosen tersebut. Begitupula jumlah guru besar, masih sangat kurang jika dibanding jumlah dosen se Indonesia.

“Jumlah doktor juga masih kecil, jika dibanding jumlah mahasiswa Indonesia yang mencapai 8 juta orang. Juga akreditasi BAN PT dengan nilai unggul (A) dari sekitar 4.700 perguruan tinggi (PT) Indonesia saat ini baru 95 PT yang dapat A dan lebih dari 25,5 % bahkan belum terakreditasi institusi. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi jajaran pendidikan di Indonesia.”

“Saat ini kebijakan-kebijakan pembelajaran dan kemahasiswaan itu lebih banyak kepada yang dikaitkan dengan revolusi industri 4.0 melalui reorientasi kurikulum. Jadi ada penguatan literasinya, kemudian juga (Massive Open Online Courses) MOOCS-nya. Selanjutnya saat ini kita juga sedang menyusun online learning atau pembelajaran jarak jauh serta penyusunan kebijakan kita empat tahun ke depan sesuai dengan arahan Bapak Presiden, yang akan mengarah kepada vokasional,” imbuhnya.

Sementara itu, Irendra Radjawali PhD menyampaikan perkembangan inovasi yang pesat belakangan ini di era Revolusi Industri 4.0 ataupun Society 5.0. Namun bangsa Indonesia tidak boleh terlalu condong pada salah satu “arah” tersebut. Indonesia harus bisa berada di tengah-tengah keduanya dengan bermodalkan budaya yang dimiliki Indonesia.

“Pendulum Indonesia harus selalu ada di tengah dengan basis kemanusiaan atau budaya. Karena sehebat apapun industri dan ipteks tetapi kalau kemanusiaannya atau budayanya lemah maka akan hancurlah iptek tersebut” ujar Radjawali.

“Kita khawatir ada sementara orang yang masih beranggapan revolusi industri 4.0 masih gimmick saja, justru secanggih-canggihnya teknologi jika bicara revolusi industri 4.0 pasti kita bicara tentang big data,” ucap Radja.

“Dan semaju apapun teknologi atau algoritma, tetapi ketika analognya atau manusianya tidak beres, maka hasilnya pun juga tidak beres. Sehingga apabila tidak kita bereskan relasi kemanusiaannya maka revolusi industri 4.0 akan menjadikan manusia seperti zombi atau manusia hidup tapi kepalanya tidak berpikir, karena yang masuk ke dalam kepalanya tidak karuan melalui HP, atau media apa pun,” terangnya.

“Sehingga pasca revolusi industri 4.0 adalah budaya. Ketika mesin lebih pintar, lebih cerdas, atau lebih cepat daripada manusia, apa yang akan terjadi pada kemanusiaan kalau bukan kegilaan manusia, budaya, cinta atau empati, Itu yang tidak bisa kita ajarkan ke mesin,” tegasnya. (JS)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*