Hadiri Networking Dinner, Mark Rutte Sebut Alumni Belanda “Duta Besar”




Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte pose bersama bersama Koordinator Promosi Pendidikan Nuffic Neso Indonesia, Inty Dienasari, Wakil Ketua Bidang Eksternak Komnas HAM, Sandrayati Moniaga, Anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar, dan Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Giri Supradiono
Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte bersama Koordinator Promosi Pendidikan Nuffic Neso Indonesia, Inty Dienasari, Wakil Ketua Bidang Eksternal Komnas HAM, Sandrayati Moniaga, Anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar, Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Giri Supradiono, Koordinator Tim Beasiswa Nuffic Neso Indonesia Indy Hardono, dan Ketua Ikatan Alumni StuNed (I Am StuNed), Immanuel Hutasoit (KalderaNews/Neso Indonesia)

JAKARTA, KalderaNews.com – Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, mengunjungi Indonesia pada 7 Oktober 2019, selama persinggahan satu hari dalam perjalanannya ke Australia dan Selandia Baru. Tujuan kunjungannya adalah untuk menegaskan kembali hubungan bilateral yang kuat antara Indonesia dan Belanda.

Nuffic Neso Indonesia selaku organisasi Belanda di Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan tinggi menyambut baik dukungan Perdana Menteri Rutte untuk respon positif terhadap minat Indonesia melibatkan Belanda dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang pendidikan. 

Agenda kunjungan Perdana Menteri pada pagi hari membahas pentingnya pengembangan sumber daya manusia dengan sektor bisnis Belanda, diikuti oleh pertemuan dengan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, di Istana Bogor. Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Rutte berbicara tentang peningkatan kemitraan antara Indonesia dan Belanda lebih jauh, dalam bidang pendidikan, menggaris bawahi kesepakatan kedua pemimpin untuk berkolaborasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan antara kedua negara ini.

BACA JUGA:

Dalam jumpa pers, Perdana Menteri mengatakan “ada banyak ikatan historis di antara kami, tetapi kami juga menjalin banyak ikatan baru, melalui program studi di Belanda salah satunya.”

Berinvestasi dalam sumber daya manusia menjadi semakin penting bagi Indonesia terutama di bidang pendidikan kejuruan. Selama konferensi pers, Presiden Jokowi menekankan “kami membahas upaya untuk meningkatkan kemitraan di bidang pendidikan kejuruan, termasuk bidang pekerjaan umum, maritim, dan keperawatan.”

Agenda di sore hari dilanjutkan dengan kunjungan Perdana Menteri Rutte ke Indonesia Port Corporation (IPC) salah satu universitas di kota Bogor. Dalam kunjungan ke IPC yang berkaitan dengan pendidikan tinggi, Perdana Menteri Rutte menambahkan, “Saya senang bahwa pada bulan Juni tahun depan kami akan mengadakan acara khusus yang bertajuk WINNER yang merupakan akronim dari The Week for Indonesian-Netherlands Education Education and Research. Ini merupakan akronim yang tepat, karena kedua negara kita akan menjadi pemenang jika kita dapat saling menggunakan ilmu pengetahuan yang dimiliki.”

Kunjungan Perdana Menteri ke Indonesia diakhiri dengan networking dinner yang diadakan di Kedutaan Besar Belanda, dimana kantor Nuffic Neso Indonesia berada. Selama sesi meet and greet, beberapa alumni Indonesia yang telah menyelesaikan pendidikannya di Belanda berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Perdana Menteri.

PM Belanda Mark Rutte bersama Duta Besar Belanda untuk Indonesia Lambert Grijns
PM Belanda Mark Rutte bersama Duta Besar Belanda untuk Indonesia Lambert Grijns (KalderaNews/Neso Indonesia)

Perdana Menteri mengatakan alumni dari program studi di Belanda adalah duta besar yang sangat baik untuk memberikan peluang yang akan muncul dari kerjasama Indonesia dan Belanda.

Perdana Menteri secara khusus menyebutkan pentingnya beasiswa StuNed (Studeren in Nederland), “Di dunia pendidikan, koneksi baru ditempa setiap tahun. Tahun ini saja, terdapat 1,500 anak muda Indonesia yang belajar di Belanda. Dan sebaliknya, banyak siswa belanda memilih untuk pergi ke Indonesia untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman.”

“Hal ini sangat fantastis, berarti kita tidak hanya berbagi pengetahuan yang berharga, tetapi kita juga mendapatkan wawasan lebih banyak tentang cara hidup, berbudaya, dan melakukan praktik bisnis.”

Nuffic Neso Indonesia sendiri telah mengelola program StuNed sejak tahun 2000. Program ini telah menghasilkan lebih dari 4,500 alumni, banyak di antaranya menempati posisi strategis di pemerintahan, sektor korporasi, atau masyarakat sipil. 

Institusi pendidikan tinggi Indonesia dan Belanda sering memiliki hubungan kolaboratif yang telah lama terjalin. Belanda adalah salah satu tujuan popular bagi pelajar dan peneliti Indonesia untuk belajar di luar negeri.

Mobilitas siswa Belanda yang masuk ke Indonesia juga semakin meningkat dan semakin dipromosikan oleh universitas Indonesia. Nuffic Neso Indonesia siap untuk mendukung keterlibatan yang lebih besar dalam pendidikan, penelitian, inovasi, dan membantu menumbuhkan hubungan yang saling mengutungkan antara Indonesia dan Belanda. 

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*