Seperti Inilah Asal Mula dan Keganasan Virus Mematikan Corona




A man kills a fish in a wet market in Wuhan on January 05, 2020. China has imposed an immediate ban on the trade in wildlife (Photo: Simon Song/Graphic: South China Morning Post-SCMP)
Pasar Wuhan di China: A man kills a fish in a wet market in Wuhan on January 05, 2020. China has imposed an immediate ban on the trade in wildlife (Photo: Simon Song/Graphic: South China Morning Post-SCMP)

JAKARTA, KalderaNews.com – Dunia dihebohkan dengan virus asal kota Wuhan di China yang mirip Server Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan telah menewaskan 81 orang di China pada Senin, 27 Januari 2020.

Meski baru ditemukan pada Desember lalu, virus corona telah menjangkiti lebih dari 2.700 orang. Ia pun menyebar ke 13 negara, mulai dari Thailand, Singapura, hingga Perancis dan Amerika Serikat (AS).

Kasus coronavirus pun dilaporkan sudah sampai ke Hong Kong, Makau, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, Australia, Kanada, Prancis, Jepang, Malaysia, Nepal, Singapura, Korea Selatan, dan Vietnam. Namun, tidak ada kematian yang dilaporkan terjadi di luar China.

BACA JUGA:

Lantas seperti apa keganasan virus Corona tersebut? Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cahyo Rahmadi menegaskan Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit ringan seperti pilek dan penyakit yang serius seperti MERS dan SARS.

Namun Dr. Daeng M Faqih selaku Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun meyakinkan bahwa virus corona jenis baru (2019-nCoV) tingkat keganasannya lebih rendah dibandingkan dengan virus MERS dan flu burung. Tingkat kematian akibat virus MERS dan flu burung bisa mencapai 70-80 persen, sedangkan virus corona sekitar 5 persen. Jadi, dari segi keganasan jauh lebih rendah dari virus-virus flu burung.

Coronavirus adalah single stranded RNA (ssRNA) virus yang umum ditemukan pada berbagai hewan yang berkeliaran di atas tanah seperti mamalia, burung dan reptil. Coronavirus (CoV) adalah keluarga besar dari virus yang menyebabkan penyakit, mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV). Sebagian besar coronavirus adalah virus yang tidak berbahaya.

Beberapa jenis coronavirus dikenal dapat menyebabkan infeksi akut pada saluran pernapasan bagian atas maupun bawah pada manusia, di antaranya adalah Severe Acute Respiratory Syndrome-related Coronavirus (SARS-CoV) yang mengalami kejadian luar biasa di Tiongkok pada tahun 2002, Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) yang mengalami kejadian luar biasa di Arab Saudi pada tahun 2012, dan yang terakhir adalah novel Coronavirus (2019-nCoV) yang laporan gejala awalnya terjadi di Wuhan, Tiongkok pada 31 Desember 2019 lalu.

Satwa liar secara alami dapat menyeberang lintas negara maupun dibawa dan dimanfaatkan oleh manusia untuk tujuan tertentu, hal ini perlu menjadi fokus mitigasi antisipasi zoonosis. Zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari satwa liar ke manusia.

Coronavirus adalah virus zoonosis, artinya virus ini disebarkan melalui hewan dan manusia. Dikutip dari WHO, investigasi menunjukkan bahwa SARS-CoV ditularkan dari musang ke manusia, sementara itu MERS-CoV ditularkan dari unta dromedaris ke manusia. Terdapat pula beberapa CoV lain yang terdapat pada hewan, tapi belum menginfeksi manusia. Hewan yang dominan berpotensi membawa penyakit adalah tikus, kelelawar, celurut, karnivora dan kelompok primata seperti monyet.

Sementara itu, peneliti bidang mikrobiologi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Sugiyono Saputra menjelaskan coronavirus memiliki laju mutasi yang sangat cepat dibandingkan dengan jenis virus yang lain seperti double stranded DNA (dsDNA) virus sehingga kemunculan kejadian luar biasa dapat berlangsung cepat dan tidak terduga. Penyebaran secara global pun dapat terjadi dengan mudah dikarenakan mobilitas manusia yang tinggi.

“Penelitian menunjukkan ketiga jenis coronavirus yang bersifat mematikan terhadap manusia tersebut berasal dari kelelawar yang berperan sebagai perantara alaminya,” paparnya.

Menurut Sugiyono, walaupun memungkinkan, namun interaksi langsung antara kelelawar dengan manusia sangatlah jarang. “Tetapi virus tersebut dapat pula menginfeksi hewan lainnya sebagai perantara, dan hewan perantara tersebutlah yang lebih sering berinteraksi langsung dengan manusia,” ujarnya.

Virus Corona
Ilustrasi Virus Corona (KalderaNews/Ist)

Pada kasus SARS hewan perantaranya adalah mamalia kecil seperti kelelawar, musang, dan rakun. Pada kasus MERS, hewan perantaranya adalah unta. “Sedangkan pada kasus terbaru, material genetik dari 2019-nCoV merupakan rekombinasi dari material genetik virus yang berasal dari kelelawar dan ular,” ujarnya.

Peneliti satwa liar dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Taufiq P. Nugraha menambahkan para ilmuwan menduga kemunculan penyakit zoonosis baru (new emerging infectious diseases) seperti kasus 2019-nCoV merupakan hasil tingginya frekuensi interaksi antara satwa liar dengan manusia.

“Jika berkaca pada kasus ebola di Afrika, deforestasi untuk pertanian dapat berperan dalam ekspansi kelelawar di luar habitatnya dan ekspansi manusia ke dalam habitat kelelawar, sehingga keduanya dapat saling berinteraksi bebas dan berisiko tinggi dalam penyebaran penyakit baru,” paparnya.

Dalam kasus 2019-nCoV, Taufiq menyebutkan kemungkinan orang yang berinteraksi langsung di pasar hewan di Wuhan, Tiongkok adalah yang pertama terkena penyakit infeksi tersebut.

“Interaksi langsung tersebut dapat melalui makanan maupun dalam proses pengolahan hewannya, baik hewan perantara maupun yang merupakan perantara alaminya,” tandas Taufiq.

Berdasarkan Journal of Medical Virology, kebanyakan orang yang terinfeksi nCoV-2019 terpapar daging hewan liar yang dijual di pasar ikan Huanan, yang menjual unggas, ular, kelelawar, dan hewan ternak lainnya.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa coronavirus yang menginfeksi manusia pada akhir Desember 2019 adalah berasal dari ular. Dikutip dari WebMD, baru-baru ini ada 300 kasus yang terjadi di Tiongkok dengan jumlah kematian yang meningkat. Seorang wisatawan diketahui telah membawa virus tersebut ke Amerika Serikat. Badan penanggulangan dan pencegahan penyakit Amerika Serikat, CDC, menyebutkan bahwa kasus nCoV-2019 pertama kali diumumkan di Amerika Serikat pada 21 Januari 2020.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*