Menulis Seperti Memasak




Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta.
Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta (KalderaNews/Ist)

Oleh: Eben E. Siadari *

JAKARTA, KalderaNews.com – Para aktor kerap melakukan hal-hal ekstrem demi menghayati peran. Banyak hal yang terdengar absurd mereka lakukan agar dapat sedekat mungkin menjiwai karakter sosok yang diperankannya. 

Aktor Inggris Daniel Day-Lewis, misalnya,  rela tidak menggunakan mantel di tengah cuaca dingin. Tujuannya agar bisa merasakan pengalaman Bill The Butcher, sosok yang ia perankan. 

Aktor AS, Christian Bale, selama beberapa bulan hanya makan sekaleng tuna dan sebuah apel setiap hari. Ia ingin menurunkan berat badan hingga 29 kilogram agar sedekat mungkin tiba pada keadaan orang yang menderita insomnia, peran yang dia mainkan untuk film The Machinist.

BACA JUGA:

Bagaimana dengan penulis, apakah mereka memerlukan hal yang sama? 

Rupanya ada yang berpendapat demikian. Sebuah berita di BBC mengetengahkan sosok Thomas W Hodgkinson, penulis novel yang tengah berusaha mempopulerkan metode menulis seperti yang dilakukan para aktor. Demi masuk ke dalam pola pikir karakter utama novel yang ditulisnya, secara harfiah Hodgkinson menulis dalam kondisi sedekat mungkin dengan yang dialami oleh karakter utama itu. 

“Saya menulis sebagian besar novel baru saya, Memoirs of a Stalker sambil berbaring telentang di salah satu lemari di rumah saya. Bahkan tidak ada ruang untuk laptop, jadi saya harus menulisnya di ponsel saya,” kata dia.

“Saya sedang mencoba untuk masuk ke dalam pola pikir karakter utama novel saya, yang menerobos masuk ke rumah mantan pacarnya dan tinggal di sana (di dalam lemari) selama berbulan-bulan tanpa dia sadari. Dia menghabiskan banyak waktu bersembunyi di balik bayang-bayang, di balik pintu, dan berjongkok di lemari,” kata dia, seperti ditulis oleh wartawan BBC, Steven McIntosh, dalam laporannya yang berjudul Could ‘method writing’ be the future for novelists?

Hodgkinson sangat serius dengan metode ini. Dia ingin para penulis lainnya mencoba pengalamannya. Ia bahkan sudah menciptakan program pelatihan menulis berdasarkan pengalamannya tersebut. Bulan Maret 2020 mendatang, metode pelatihan satu hari ini akan dijalankan di London.

Sungguh menarik kedengarannya, bukan?.  Bukankah terdengar mengasyikkan bila Anda sedang menulis biografi seorang astronout, dan demi penulisan itu, Anda juga harus pergi ke ruang angkasa, berbulan-bulan? Bukankah akan terdengar ‘heroik’ bila dalam upaya menulis biografi seorang narapidana, Anda hidup selama berbulan-bulan di penjara?

Namun tidak demikian cara kerja penulis. Paling tidak bila kita membaca dan menelisik pengalaman sebagian besar penulis. Pekerjaan menulis selalu menapaki jalan yang sunyi karena pekerjaan ini berorientasi ke ‘sisi terdalam’ dari manusia: pikiran dan imajinasi.

Para aktor mungkin memerlukan kisah-kisah fantastis di belakang layar untuk menambah efek promosi pada film yang mereka produksi. Namun sejauh yang dapat kita pelajari dari pengalaman para penulis besar, metode-metode eksentrik  seperti yang diungkapkan di atas adalah ‘remah-remah rengginang’ yang diusahakan berada di bawah taplak meja. 

Esensi menulis tetaplah hal-hal yang esensial: seberapa berharga bahan-bahan yang Anda olah dan jadikan sebagai tulisan; bagaimana ia Anda sajikan ke hadapan pembaca; seberapa serius Anda mempertimbangkan strategi penyajiannya; dan seberapa mendalam Anda mengenali dan menghargai kecerdasan pembaca. 

Sarah Churchwell, profesor Sastra Amerika di School of Advanced Study, University of London, dengan lugas mengatakannya dalam laporan BBC yang sama bahwa metode menulis yang ditawarkan Hodgkinson tidak perlu ditolak tetapi juga tidak perlu dipandang penting. Menulis menurut Churchwell  tetaplah merupakan pengalaman imajinatif yang mendalam.

Penciptaan karakter dan dunia tulisan berada di kepala.  Daripada (penulis) mengunci diri secara harfiah dalam sebuah lemari, kebanyakan penulis secara mental membenamkan diri dalam upaya mencari bahan-bahan bagi karya tulisnya. 

Sebagai contoh, ketika menulis buku yang berjudul Careless People: Murder, Mayhem, dan The Invention of The Great Gatsby (2014), Churchwell mengakui harus  terhanyut ke dalam semua hal yang berbau tahun 1922, sebagaimana rencana isi bukunya. Namun untuk itu ia tidak perlu memutar mesin waktu, atau berpakaian seperti orang di tahun 1922. Yang ia lakukan adalah selama lima tahun membaca literatur yang menggambarkan keadaan sekitar tahun 1922. 

Menulis seperti Memasak

Jonathan Franzen,  novelis terkemuka Amerika Serikat, memiliki metode kerja menulis yang sederhana. Kamar kerjanya selalu berupa kamar nyaris kosong, bersih dan hening. Di dalamnya hanya ada meja dan kursi, sebuah laptop dan sejumlah kecil buku. Laptop itu bahkan acap kali tidak memerlukan wifi. 

Namun, dengan perkakas yang minimalis, Franzen berkarya dan menjadi salah satu novelis paling berhasil di AS. Karya penulis yang lahir tahun 1959 ini, antara lain The Corrections (2001), yang berhasil memperoleh National Book Award, dan yang paling termasyhur, Freedom (2010) dijuluki sebagai ‘novel abad ini.’ Franzen merupakan novelis AS pertama dalam dekade terakhir yang muncul sebagai gambar sampul majalah Time. 

Dari Franzen kita belajar bahwa metode menulis berada pada urutan ke sekian setelah yang paling utama, yaitu gagasan. Apakah Anda memiliki bahan untuk ditulis? Seperti seorang chef, penulis memerlukan bahan untuk diolah. Itu mutlak. Pekerjaan memasak tidak akan menghasilkan sesuatu tanpa bahan-bahan. Ada banyak metode memasak tetapi tanpa bahan-bahan untuk diolah, memasak tak akan menyajikan apa-apa. 

Begitu juga menulis. Dan itulah yang dikatakan oleh Franzen. “Salah satu masalah besar bagi novelis adalah kekurangan bahan,” kata dia dalam wawancara dengan Stephen J. Burn dari Paris Review (2010).  Para penulis memecahkan kelangkaan bahan itu dengan caranya masing-masing. Ada yang meneliti arsip-arsip sejarah dan menggali kehidupan berabad-abad lalu untuk mendapatkan inspirasi. Franzen sendiri tertarik untuk menulis literatur yang mengungkap selubung kehidupan manusia yang menurutnya dangkal, lalu menyelidiki hal-hal menarik di bawahnya.

Masa kecil Franzen di Midwestern, kehidupan orang tuanya, pernikahannya yang pernah gagal, adalah  bahan-bahan penulisan yang ia gali kembali walaupun ia sendiri telah menulis dua buku tentang itu. Franzen menekankan betapa pentingnya gagasan dan bahan-bahan, yang menjadi dasar bagi seorang penulis untuk menulis. Sekali gagasan dan bahan-bahan terkumpul dan mengkristal, imajinasi penulis akan bekerja untuk mengolah dan mencipta. Dan itu semua adalah pekerjaan di dalam tempurung kepala. Ibarat memasak, proses mengaduk dan meracik bumbunya ada di dalam pikiran dan imajinasi.

Bahwa untuk menurunkannya menjadi narasi teks di layar laptop atau di atas kertas sesekali penulis ingin bekerja di ruangan ber-AC dengan cahaya redup, atau di kafe dengan musik dan suara hiruk-pikuk, atau seperti Hodgkinson menulis di dalam lemari, tentu tak boleh dilarang. Kadang-kadang penulis perlu juga suasana baru. 

* Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*