Sama-sama Diterima di Cornell University, Kakak Beradik Sefa dan Panya Berbagi Cerita




Dari kiri: Josephene (Sefa) Ginting, Eka Ginting, dan Stephanie (Panya) Aurelia Ginting. (Ist)

JAKARTA, KalderaNews.com — Kakak-beradik Josephene (Sefa) Ginting dan Stephanie (Panya) Aurelia Ginting berbagi cerita tentang bagaimana mempersiapkan diri sehingga diterima di salah satu perguruan papan atas Amerika Serikat, Cornell University.

Sefa lulus dari Raffles Christians School, Jakarta pada tahun 2018 dan diterima di Cornell pada tahun yang sama. Saat ini menempuh studi Computer Science and Economics dan diharapkan akan menyelesaikan studi S1-nya pada tahun 2022.

Ada pun Panya lulus dari SMA yang sama dengan kakaknya tahun ini. Ia diterima di Cornell University dan di Brown University. Namun ia memilih yang disebut pertama.

Hari Sabtu (25/07) lalu mereka berbagi tips dan pengalaman lewat sebuah webinar bertema How to Get Into an Ivy League University. Webinar ini diselenggarakan oleh tangga sebuah platform digital yang didirikan oleh Sefa dan Panya. Tangga bertujuan untuk memfasilitasi anak-anak muda menemukan orang-orang yang lebih berpengalaman (mentor) sehingga dapat mencapai tujuan mereka –khususnya untuk diterima di perguruan tinggi luar negeri.

Uniknya, yang menjadi moderator pada webinar perdana oleh tangga ini adalah ayah mereka sendiri, Eka Ginting. Eka Ginting, seorang entrepreneur digital, adalah lulusan AS juga. Tepatnya dari Carnegie Mellon Univesity tahun 1995.

“Sefa dan Panya memang sudah lama sangat tertarik untuk bisa mendapatkan pendidikan terbaik sesuai dengan minat dan bakat mereka. Mereka sangat antusias mengikuti program-program seperti summer camps di berbagai tempat,” kata Eka Ginting.

BACA JUGA:

Proses aplikasi yang rumit dan melelahkan mereka jalani dengan penuh semangat. “Kami sebagai orang tua sangat beruntung mempunyai anak-anak yang punya kemauan yang tinggi untuk bersekolah dengan baik,” kata dia.

Lima Pilar

Ada lima isu utama dalam mempersiapkan diri memasuki universitas papan AS yang dibahas pada perbincangan itu. Lima isu disebut juga lima pilar. Kelima pilar itu adalah (1) Grades and Test Score (nilai akademik dan ujian masuk yang dipersyaratkan), (2) Kegiatan Ekstrakurikuler, (3) Esai, (4) Rekomendasi dan (5) Wawancara.

Baik Sefa maupun Panya mengatakan semakin awal mempersiapkan diri semakin baik. Mengetahui secara lebih mendalam dan lebih rinci persyaratan-persyaratan yang diperlukan merupakan hal penting.

Sefa antara lain menekankan pentingnya untuk mempelajari pengalaman orang lain. Misalnya, ketika menjalani wawancara. Apa saja yang ditanyakan dan bagaimana jawaban yang diharapkan, dapat diketahui dari melihat bagaimana orang lain mempersiapkan diri dan menjalaninya.

Panya menambahkan, semakin sering mengikuti proses wawancara untuk seleksi ke perguruan tinggi luar negeri, semakin menambah kepercayaan diri. Seseorang yang semakin terbiasa akan menjadi lebih rileks dan apa adanya.

Sefa dan Panya mengirimkan aplikasi ke lebih dari 10 perguruan tinggi luar negeri sebelum menetapkan pilihan mereka. Panya sempat menjalani wawancara dengan salah satu perguruan tinggi lain sebelum memilih Cornell.

“Acap kali kita nervous ketika wawancara. Tidak usah ditutup-tutupi. Katakan saja berterus terang bahwa kamu sedikit gugup karena baru pertama kali. Itu sangat manusiawi. Tetapi jangan sampai kegugupan dijadikan alasan ketidaksiapan,” kata Panya.

Ia menambahkan, wawancara tidak hanya berguna bagi universitas untuk mengetahui sejauh mana kemampuan akademik si mahasiswa, tetapi juga berguna bagi si mahasiswa untuk mengetahui lebih jauh universitas yang akan dimasukinya.

“Jadi dengan menjalani wawancara, kamu bisa menjadi sangat yakin atau malah tidak yakin untuk memilih universitas itu dan mengambil pilihan lain,” tutur Panya.

Tidak dapat dipungkiri nilai akademis dan skor Test Of English as a Foreign Language (TOEFL) dan Scholastic Assessment Test (SAT) menjadi kriteria yang paling utama dalam menentukan seseorang diterima. Namun, Sefa dan Panya menekankan elemen lain dari lima pilar itu dapat membantu kekurangan dalam nilai akademis dan skor tes.

Menurut Sefa, berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti semasa SMA dapat membantu meyakinkan pihak universitas untuk menerima seorang calon mahasiswa.

“Mereka ingin melihat aktivitas yang menunjukkan bahwa kamu tidak hanya fokus pada pelajaran tetapi bahwa mereka ingin melihat kamu sebagai manusia. Bagaimana inisiatif, passion dan leadership kamu. Itu sangat membantu,” kata Sefa.

Panya menambahkan, kegiatan ekstrakurikuler yang dicantumkan dalam lembar aplikasi tidak harus yang berskala internasional.

“Yang penting aktivitas ekstrakurikuler itu memberi dampak kepada kamu. Menunjukkan inisiatif dan leadership kamu. Sebab past achievement menunjukkan future achievement,” kata dia.

“Ekstrakurikuler itu akan menunjukkan bagaimana kamu berinteraksi dengan masyarakat dan bagaimana beinteraksi dengan guru. Kadang-kadang hal semacam ini lebih dinilai penting daripada tes,” kata Panya.

Tunjukkan Passion dan Leadership Kamu

Sementara ketika ditanya apa elemen yang paling menantang, baik Sefa maupun Panya menjawab: menulis esai. Esai sepanjang 650 kata yang diminta biasanya dipakai untuk menilai bagaimana calon mahasiswa mempresentasikan dirinya. Hal ini dapat membantu kekurangan dalam nilai akademis dan tes.

“Bagaimana diri kamu sebagai seorang manusia. Bagaimana kamu berinteraksi, bagaimana kamu menggunakan pengalamanmu, untuk megetahui nilai-nilai etis dan filosofis kamu. Di dalam esai tidak perlu kamu menceritakan hal-hal besar. Tetapi apa yang paling penting dalam hidup kamu. Mengapa itu penting, itu akan menjadi esai yang bagus,” kata Sefa.

“Tunjukkan passion kamu. Walaupun dengan bahasa yang sederhana, tidak apa-apa,” tambah Panya, tentang menulis esai.

Bila menilik Curicullum Vitae (CV) Sefa dan Panya, pencapaian mereka dalam nilai akademik dan ekstrakuriluler memang istimewa. Sefa, misalnya, semasa SMA adalah penerima William Soeryadjaja Award untuk pencapaian nilai akademik yang luar biasa. Pada saat yang sama ia banyak terjun dalam kegiatan ekstrakurikuler yang menunjukkan talenta dan kepemimpinannya.

Demikian juga halnya dengan Panya. Ia adalah top rank in class 2018-2019, top performer in English Language 2018-2019, top performer Global Perspective Research 2018-2019, top performer in Physics and Biology 2018-2019 dan berbagai pencapaian lainnya.

Setelah webinar perdana ini, tangga.org akan menggelar webinar berikutnya dengan mentor yang lain. Pada 1 Agustus nanti yang akan menjadi pembicara adalah Nicholas Yuwono, mahasiswa Computer Science with Business Minor Cornell University, dan Charlene Junus, mahasiswa Cognitive Science and Art University of California Berkeley. Sedangkan yang menjadi moderator adalah Sefa Ginting.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*