Fast Track Program MA di SGU Berbasis Studi Kasus

Dosen Senior Program MA di Swiss German University (SGU), Dr. Soebowo Musa
Dosen Senior Program MA di Swiss German University (SGU), Dr. Soebowo Musa (KalderaNews/Dok. Pribadi)

JAKARTA, KalderaNews.com – Masa pandemi Covid-19 yang tak seorang pun tahu kapan akan berakhir ini sebenarnya menjadi jeda waktu yang tepat bagi para fresh graduate S1 untuk mengupdate ilmu dengan lanjut kuliah S2 dengan jalur fast track.

Tak sekadar mengupdate ilmu, tetapi yang terpenting dan terutama dengan lanjut kuliah S2 adalah melihat, memahami dan mengexposure dunia pekerjaan dan bisnis secara nyata melalui proses selama menjalani pendidikan jenjang S2.

Dosen Senior Program Master of Arts  (MA) di Swiss German University (SGU), Dr. Soebowo Musa menyampaikan alasan realistis mengapa masa pandemi Covid-19 saat ini menjadi momen tepat untuk lanjut kuliah S2.

BACA JUGA:

“Dengan kondisi Covid-19 saat ini, untuk mencari pekerjaan butuh waktu, sehingga untuk mengisi jeda waktu, keputusan lanjut kuliah S2 sangat tepat untuk para fresh graduate,” tegas pengajar yang akrab disapa Pak Bowo ini saat berbincang dengan KalderaNews.

Apalagi kalau program S2 itu fast track seperti Program MA di SGU yang memberikan peluang emas bagi milenial menikmati kuliah sekitar 5 tahun (4 tahun S1 yang sudah dijalani), plus kurang dari 1,5 tahun S2 langsung mendapatkan gelar S2.

Menariknya, kategori MA di SGU ini adalah S2 professional degree. Artinya, begitu lulus MA mereka sudah siap masuk ke dalam dunia pekerjaan dan bisnis dengan ilmu yang lebih mumpuni.

Ia menjelaskan, yang mendasari keprofesionalan lulusan program MA ini adalah fast track dan cara pengajarannya yang berbasis studi kasus. Fast track kurang dari 1,5 tahun untuk program MA ini daya tariknya terletak dari kualitas para pengajarnya yang sebagian besarnya praktisi dan silabusnya juga sudah baku dengan jam kuliah full time tiap hari pagi sampai jam 4 sore.

“Program MA di SGU ini sangat cepat dan padat. Mahasiswa Program MA ini full time student. Mereka ini bukan pekerja, dan kalau pun bekerja, pekerjaan mereka itu yang part time,” tegas dosen yang menyelesaikan Doctoral Degree (Ph.D) in Strategic Management with areas of interest in leadership, strategy, strategy execution, entrepreneurship, and innovation di University Indonesia (UI) pada 2013-2017 lalu.

Chief Executive Officer (CEO) PT Kiran Resources Indonesia yang juga aktif sebagai Independent Commissioner di BNP Paribas ini menambahkan, selain membuat para mahasiswanya siap masuk dunia kerja dan bisnis, strategi studi kasus selama perkuliahan secara otomatis melahirkan entreprenuer-entreprenuer baru.

“Mereka memulai bisnis baru, entah bisnis bakery, fashion atau food and baverage dengan cara pengelolaan yang baru. Mereka mengaplikasikan dari apa yang mereka lihat dalam studi kasus selama perkuliahan ke dalam entrepreneurnya.”

Tak mengherankan, program MA di SGU juga meng-encourage para mahasiswa untuk membuat tesis yang praktical atau dapat diaplikasikan dalam dunia bisnis. Tesisnya tidak murni theoretical.

“Saat bicara tesis memang ada kaidah-kaidah dan aturan tertentu, tetapi dari sisi topik dan konteks penelitian, kita meng-encourage mahasiswa di bidang-bidang yang diminati itu benar-benar riil dan bisa diaplikasikan,” tandas dosen yang menyelesaikan studi S1 dan S2 di New York University ini

Secara lebih terperinci, ia pun mengudar tiga daya tarik Program MA di SGU:

Pertama, Kurang dari 1,5 Tahun dan Ada Opsi Double Degree

Durasinya pendek kurang dari 1,5 tahun plus MA-nya itu ada opsi untuk double degree (dual degree) dengan partner university Jena yang di Jerman. Dual degree ini memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar dalam waktu tertentu di Jerman.

“Saya melihat yang terpenting bukan belajar dari pelajarannya saja, tetapi juga pelajaran di dalam bersosialisasi di suatu kebudayaan yang berbeda. Mereka di sana dilatih untuk independen dan berinteraksi dengan social culture yang berbeda dengan di Indonesia. Ini yang saya lihat menjadi plus tambahan kalau mereka mengambil opsi dual degree, sekalian bisa dapetin degree dari Jerman dalam kurun waktu 1 tahun program MA ini,”

Ia pun menegaskan yang lebih penting adalah social culture sama interaksi. Ini adalah pengalaman yang tidak bisa didapat oleh kebanyakan mahasiswa yang ada di Indonesia. Mahasiswa Program MA di SGU bisa mengambil kesempatan satu semester ke Jena di Jerman untuk mempelajari international finance, coorporate finance dan strategic human resources.

Kedua, Program MA di SGU Mengedepankan Studi Kasus

Pelajaran-pelajarannya langsung terekspose kepada real world. Kasus-kasusnya memang ada di dunis bisnis. Tidak hanya text book, tetapi dibarengi dengan studi kasus. Studi kasus ini penting bagi para fresh graduate S1 yang langsung ambil MA. Mereka akan memiliki satu gambaran konkret kalau bekerja itu sesungguhnya seperti apa dan tahu permasalahan apa saja yang mungkin akan mereka hadapi.

Ketiga, Sebagian Besar Pengajar Program MA di SGU Adalah Praktisi

Ini sebuah kombinasi yang cukup bagus, terutama dalam program bisnis, karena degree bisnis di program S2 itu memang seharusnya diliat sebagai professional degree, bukan murni academic degree. Sebagian besar pengajar di Program MA di SGU ini praktisi di bidangnya masing-masing.

“Inilah yang membedakan kampus SGU dibandingkan dengan kampus yang lain. Inilah value added yang kita berikan pada mahasiswa Program MA di SGU,” pungkasnya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*