Kisah Afriyanti Sumboja, Peraih LIPI Young Scientist Award 2020

Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung, Afriyanti Sumboja, Ph.D berhasil meraih penghargaan tahunan “LIPI Young Scientist Award (LYSA)” ke-5 tahun 2020. (KalderaNews.com/Dok.LIPI)
Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung, Afriyanti Sumboja, Ph.D berhasil meraih penghargaan tahunan “LIPI Young Scientist Award (LYSA)” ke-5 tahun 2020. (KalderaNews.com/Dok.LIPI)

JAKARTA, KalderaNews.com – Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung, Afriyanti Sumboja, Ph.D berhasil meraih penghargaan tahunan “LIPI Young Scientist Award (LYSA)” ke-5 tahun 2020.

LYSA merupakan ajang penghargaan yang dirintis oleh LIPI sejak 2017, sebagai apresiasi bagi rekam jejak peneliti muda berusia di bawah 40 tahun yang berprestasi dan konsisten dalam melakukan penelitian di bidangnya.

BACA JUGA:

Afriyanti mengatakan, ajang LYSA 2020 ini baru pertama kali ia ketahui, ikuti, dan menangkan. “Dua minggu sebelum masa pendaftaran berakhir, saya dikontak dan disarankan oleh seorang rekan untuk mendaftar. Setelah saya baca-baca, sepertinya menarik. Kemudian, saya kontak Dekan FTMD ITB dan lengkapi berkas pendaftaran saya,” ungkapnya.

Piala LYSA dan uang sebesar lima puluh juta rupiah dari Bank Rakyat Indonesia berhasil ia sabet. Ia mengungguli 85 peneliti dan dosen lain dari berbagai lembaga penelitian maupun universitas ternama di seluruh Indonesia.

Setelah lulus dari SMA Taruna Nusantara pada 2005, Afriyanti melanjutkan program S1 hingga S3 di School of Materials Science and Engineering, Nanyang Technological University (NTU) Singapura pada medio 2009-2014. Dia peraih 2014 MSE Doctorate Research Excellence Award, penghargaan yang diberikan kepada mahasiswa S3 yang menghasilkan penelitian dan publikasi berdampak tinggi selama masa pendidikannya.

Setelah menempuh postdoctoral research singkat di NTU, Afriyanti bergabung dengan A*STAR pada akhir 2014. Setelah 13 tahun menetap di Singapura, Afriyanti kembali ke Indonesia pada 2018 untuk bergabung dengan ITB. Bidang keahliaannya adalah teknik material, terutama pada area elektrokimia, elektrokatalisis, material nano, dan alat-alat penyimpan energi berbasis elektrokimia seperti baterai dan superkapasitor.

Kini, perempuan yang lahir di Makale Tana Toraja adalah Dosen di Program Studi Teknik Material, FTMD ITB. Mata kuliah yang diampunya antara lain, untuk jenjang S1, Material Elektronik dan Magnetik, Material Nano, dan Termodinamika Material. Sementara, jenjang S2 dan S3, Metode Penulisan dan Etika Ilmiah, Material untuk Konversi dan Penyimpan Energi, dan Pemrosesan Nanomaterial.

Perempuan berusia 33 tahun ini telah menerbitkan 43 paper ilmiah di jurnal-jurnal internasional berimpak tinggi dan terindeks Scopus, baik sebagai penulis pertama maupun penulis pendamping. Afriyanti memiliki H-Index Scopus: 28 dengan sitasi: 3929, sementara di Google Scholar, tercatat dengan H-Index: 29 dan sitasi: 4433.

Dua paten telah ia daftarkan, yang terbaru adalah material komposit aluminium berpenguat serat karbon kontinyu kekuatan tinggi untuk inti penguat kabel transmisi listrik dan kabel yang menggunakan material tersebut (2020). Saat ini paten tersebut sedang dalam pemeriksaan formalitas oleh DJKI.

Afriyanti juga tercatat sebagai penerima “SINTA Top 50 Authors” yang diadakan Kemristek/ BRIN pada 2020. Ia menerima penghargaan dosen berprestasi bidang penelitian ITB tahun 2020 dari Rektor ITB pada acara Dies Natalis ITB ke-61.

Tahun ini, Afriyanti memimpin beberapa proyek penelitian, termasuk dua proyek kerjasama internasional. Proyek-proyek tersebut, diantaranya: 3D nano-engineered silicon anodes for high-energy-density lithium-ion rechargeable batteries (LPDP Rispro KI 2020-2023), development of metal-air batteries (P3MI ITB 2019-2020), dan characterizing biological and energetics materials at the nano and atomic length scales (MIRA 2020).

Afriyanti juga berperan aktif sebagai editor Journal of Engineering and Technological Sciences, anggota Board of Reviewer ITB, dan reviewer di berbagai jurnal nasional maupun internasional.

“Lebih baik fokus pada hal-hal yang bisa kita lakukan, daripada pusing memikirkan hal-hal yang tidak bisa kita kontrol atau lakukan,” katanya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*