Benarkah Peraturan Dibuat Hanya untuk Dilanggar?




Doni Koesoema A (KalderaNews.com/Ist)
Doni Koesoema A. (KalderaNews.com/Ist)

JAKARTA, KalderaNews.com – Guyonan “peraturan dibuat untuk dilanggar” sepertinya sudah menjadi kebiasaan buruk masyarakat Indonesia. Memang tidak semuanya begitu, tetapi fenomena yang kita lihat sehari-hari menggambarkan demikian.

Dalam webinar yang diselenggarakan oleh KUPUKU pada Sabtu , 27 Maret 2021 via zoom meeting dengan tema “Norma dan Peraturan sebagai Sistem Pendukung Pendidikan Karakter” Doni Koesoema A. sebagai narasumber memberikan penjelasan yang menarik.

Doni Koesoema A. adalah pemerhati Pendidikan dan pendiri Character Education Consulting.

BACA JUGA:

Di awal webinar dia menyampaikan keberatan dengan guyonan jenaka itu yang justru memberikan dampak negatif dalam kehidupan bersama. Karena pada dasarnya aturan yang dibuat untuk menciptakan keteraturan dalam kehidupan bersama bukan untuk dilanggar.

Koesoema pun mengawali presentasinya dengan menjelaskan norma dan peraturan secara etimologis.

Menurutnya “norma berasal dari bahasa latin yang artinya alat ukur tukang kayu. Yang kemudian dikembangkan dalam KBBI sebagai prinsip yang mengatur tingkah laku dan cara bertindak. Norma mengacu pada moralitas, panduan perilaku manusia yang baik. Norma bisa mengacu pada nilai-nilai kearifan dalam kehidupan”

Sedangkan peraturan menurut Doni sebagai “suatu tatanan (petunjuk, kaidah, ketentuan) yang dibuat untuk mengatur.”

Namun, jika melihat fakta yang terjadi semakin banyak aturan yang dibuat, pelanggaran juga semakin banyak. Artinya jumlah peraturan dan pelanggaran berbanding lurus.

Dalam kesempatan itu, Doni pun menyampaikan norma dan peraturan menjadi dasar dalam pendidikan karakter. Mengapa pendidikan karakter selalu berkaitan dengan norma dan peraturan.

“Manusia punya kecenderungan melanggar hak orang lain dan peraturan. Mengapa?  Karena manusia punya kehendak bebas,” jelas Koesoema.

Koesoema pun setuju dengan konsep merdeka belajar.

Baginya “di era merdeka belajar mereka bebas untuk mengekspresikan dirinya. Tetapi, perlu ada peraturan yang membatasinya sehingga dibuatlah peraturan dalam kehidupan bersama. Dengan demikian, peraturan untuk ditaati, bukan untuk dilanggar”.

Di penghujung webinar dia menyampaikan dasar pendidikan karakter.

Menurut Koesoema “kebebasan merupakan dasar tanggung jawab moral sehingga menjadi dasar pendidikan karakter.”

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*