Mahasiswa dan Kampus Sudah Merdeka, Lha, Kapan Dosen Dimerdekakan, Pak?




Prof. Dr. Nizam, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi
Prof. Dr. Nizam, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (KalderaNews.com/Ist)

MEDAN, KalderaNews.com – Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nizam menjelaskan salah satu arah kebijakan beban kerja dosen (BKD) tahun 2021 menguatkan mutu dosen dan tenaga kependidikan.

Adapun kerangka besarnya adalah sistem pembinaan karier dosen. Nizam mengakui, saat ini banyak dosen yang menanyakan kenapa dosen belum dimerdekakan, padahal mahasiswa dan kampus sudah merdeka.

Ia pun menjelaskan sebenarnya perubahan kerangka untuk pembinaan karier dosen sudah dilakukan sejak Mei 2020 lalu. Pihaknya kini menginginkan pembinaan karier dosen selaras dengan perubahan yang diterapkan Dikti, yaitu lebih adaptif dan fleksibel dengan semangat merdeka.

BACA JUGA:

“Untuk memberikan ruang yang luas bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensinya, seorang dosen harus mempunyai ruang yang luas untuk bisa mengawal para mahasiswanya melakukan pembelajaran yang lebih adaptif, fleksibel, dan partisipatif,” terang Nizam dalam acara Sosialisasi Pedoman Operasional Beban Kerja Dosen Tahun 2021 di Parapat, Sumatera Utara, Kamis pekan ini, 18 Maret 2021.

Lebih lanjut, ia menilai, pengembangan diri dosen dan mahasiswa itu semestinya mendapatkan bobot yang sepadan dengan upayanya (effort). Tidak hanya fokus pada publikasi bagi individu yang mendapat nilai tinggi, tetapi mendampingi dan ikut mengembangkan prestasi mahasiswa dalam lomba-lomba nasional dan internasional.

“Itu kita berikan penghargaan (reward) yang setara dengan publikasi internasional. Jadi, kalau bisa membawa mahasiswa menjuarai kompetisi dunia, tentu itu tidak kalah dengan melakukan publikasi di jurnal internasional,” tegasnya.

Selanjutnya, ia pun mengudar 4 hal yang berkaitan dengan penguatan mutu dan relevansi dosen.

Pertama, akselerasi program doktor untuk dosen, terutama program gelar ganda (double degree) dan program bersama (joint program). Dengan akselerasi, dosen dapat melanjutkan ke jenjang doktoral (S-3) dan mendapatkan pengakuan internasional. Dari sisi devisa akan lebih hemat, tetapi dosen kita tetap mendapatkan pengalaman di luar negeri dengan kuliah campuran (luar negeri dan dalam negeri). Kemudian, program-program jalur cepat (fast track) untuk mahasiswa S-1 yang potensial bisa langsung S-2 dan S-3 nanti dapat dibina oleh perguruan tinggi untuk menjadi dosen di masa depan.

Kedua, meningkatkan relevansi dosen. Sejalan dengan semangat Kampus Merdeka, Ditjen Dikti mendorong agar dosen mempunyai pengalaman yang mendalam dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Hal ini, kata Nizam, bukan berarti dosen melupakan kewajibannya mengajar, namun kegiatannya itu berinstitusi sehingga bermanfaat bagi dosen, perguruan tinggi, maupun DUDI.

Ketiga, penataan sistem dan karier dosen. Adapun yang menjadi penekanan utama adalah memperkuat dan memperbaiki kualitas dosen agar menjadi unggul dan kreatif, serta tersedianya ruang untuk mengaktualisasikan potensi secara maksimal.

Keempat, program profesor kelas dunia (world class professor), yakni dengan mengundang profesor-profesor kelas dunia untuk mengajar di kampus di Indonesia dan sebaliknya para profesor dan dosen-dosen Indonesia mendapatkan pengalaman di kampus-kampus kelas dunia.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*