Mendikbud: Segera Lakukan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas, Begini Caranya

Mendikbud, Nadiem Makarim. (Ist.)
Mendikbud, Nadiem Makarim. (KalderaNews.com/Ist.)

JAKARTA, KalderaNews.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan bahwa masih banyak sekolah di Indonesia yang belum melakukan tatap muka, meskipun dalam keadaan terbatas.

Padahal, kata Mendikbud Nadiem, Januari 2021 pemerintah telah memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk membuka sekolah secara terbatas. Hal ini untuk memberi akomodasi kepada siswa yang tidak punya akses internet ataupun tidak punya gawai untuk melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

BACA JUGA:

“Tapi kenyataannya masih belum terjadi. Karena total dari semua sekolah di Indonesia, baru 15% yang melakukan tatap muka terbatas,” ujar Mendikbud Nadiem saat Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI.

Maka, Mendikbud Nadiem meminta agar jumlah sekolah yang melakukan sekolah tatap muka terbatas harus dinaikkan. Program vaksinasi Covid-19 kepada guru dan tenaga pendidik sebenarnya untuk mendorong pembukaan sekolah secara terbatas.

Setelah vaksinasi untuk guru dan pendidik, maka satuan pendidikan wajib memberikan opsi layanan pembelajaran tatap muka. “Itu artinya, sekolah wajib melayani tatap muka bagi orang tua yang menginginkan anaknya tatap muka,” kata Mendikbud Nadiem.

Nah, Nadiem juga memberikan beberapa cara untuk melakukan pembelajaran tatap muka secara terbatas. Pembelajaran tatap muka ini sebaiknya tetap dikombinasikan dengan pembelajaran jarak jauh atau hybrid model.

Kombinasi sistem pembelajaran ini mau tidak mau harus dilakukan, kata Mendikbud Nadiem, karena kapasitas kelas cuma boleh diisi 50% dari total siswa.

Selain itu, orangtua atau wali dapat memutuskan anaknya untuk tetap melakukan PJJ atau diijinkan belajar tatap muka.

“Itu hak orangtua atau wali. Meskipun satuan pendidikan sudah mulai tatap muka, tapi jika orangtua tidak nyaman, tidak bisa dipaksa oleh pihak sekolah,” ujar Mendikbud Nadiem.

Warga satuan pendidikan yang memiliki komorbiditas yang tidak terkontrol juga tidak boleh melakukan tatap muka. Kepala sekolah dan pemerintah daerah wajib memantau dan memberhentikan sementara pembelajaran tatap muka terbatas jika ada kasus konfirmasi positif.

Nadiem mengatakan, tatap muka terbatas itu kriterianya adalah satu kelas di SMA, SMP dan SD itu diisi maksimal 18 peserta didik. Sementara sekolah luar biasa dan PAUD maksimal diisi 5 peserta didik per kelas.

“Semuanya harus memakai masker dan cuci tangan. Kantin masih belum diperbolehkan buka. Kegiatan ekskul juga belum boleh dilakukan,” kata Mendikbud Nadiem.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu!




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*