Jangan Sampai Jadi Klaster Baru, Begini 5 Rekomendasi KPAI Bila Sekolah Dibuka Kembali




Komisioner KPAI, Retno Listyarti. (KalderaNews.com/Ist.)
Komisioner KPAI, Retno Listyarti. (KalderaNews.com/Ist.)

JAKARTA, KalderaNews.com – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa periode April hingga Juni menjadi waktu untuk mempersiapkan pembelajaran tatap muka (PTM), buka melakukan uji coba.

“KPAI berpandangan, seharusnya April-Juni adalah waktunya melakukan penyiapan, bukan uji coba secara terbatas. Uji coba PTM terbatas seharusnya dilakukan pada Juli 2021,” kata Komisioner KPAI, Retno Listyarti.

BACA JUGA:

Situasi saat ini, lanjut Retno, masih berisiko tinggi terjadinya klaster baru di satuan pendidikan. Terlebih, bila uji coba PTM terbatas dilakukan tanpa persiapan memadai terkait infrastruktur dan protokol kesehatan.

Hasil pengawasan KPAI pada Juni-November 2020 terhadap 49 sekolah di 21 kabupaten/kota di delapan provinsi menunjukkan, hanya 16,3 persen sekolah yang sudah siap PTM. Sementara, yang mengisi daftar periksa PTM Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) hanya sekitar 50 persen.

“Dan hanya sekitar 10 persen yang sangat siap PTM,” tegas Retno.

Untuk itu, KPAI memberikan 5 rekomendasi bila sekolah akan melakukan PTM:

Pemerintah Daerah harus siap

Komisioner KPAI Retno Listyarti mengatakan pemerintah daerah melalui dinas pendidikan harus melakukan pemetaan. “Mana sekolah yang siap dan belum siap dari daftar periksa pada pengisian aplikasi,” kata Retno.

Sekolah yang siap perlu dipastikan melalui pengawasan langsung ke lapangan. Sementara, untuk sekolah yang belum siap, perlu ada intervensi anggaran dari pemerintah pusat maupun daerah untuk membantu penyiapan infrastruktur di sekolah.

Sekolah harus siap

Sekolah, kata Retno, juga harus menyiapkan semua infrastruktur yang dibutuhkan dalam adaptasi kebiasaan baru (AKB) di sekolah. Contoh jumlah kelas 20, maka ketersediaan wastafel juga minimal 20.

“Sekolah harus memiliki thermogun yang menyesuaikan jumlah peserta didik agar saat diukur suhunya di pintu gerbang sekolah tidak terjadi penumpukan atau kerumunan siswa karena mengantre,” ujar Retno.

Sekolah harus membuat sejumlah protokol kesehatan yang wajib disosialisasikan kepada seluruh warga sekolah, termasuk orang tua siswa sebelum memulai uji coba PTM.

Guru harus siap

Para guru sudah harus siap mengajar di kelas tanpa melepas masker. Para guru harus menjadi model yang dapat dicontoh peserta didik.

“Karena anak adalah peniru ulung, maka yang dilakukan gurunya cenderung di contoh, termasuk kedisiplinan menggunakan masker,” kata Retno.

Para guru juga harus sudah disuntik vaksin, terutama guru dan tenaga kependidikan yang usianya sudah lebih dari 45 tahun. Para guru juga wajib untuk melakukan pemetaan materi pembelajaran antara materi yang sulit dan mudah.

Orangtua harus siap

Orangtua siswa juga harus mendidik anak-anaknya untuk menggunakan masker, setidaknya empat jam tanpa di lepas, kecuali minum. “Dilatih 15 menit hari ini, lalu ditambah 5 menit lagi esok harinya, dan selanjutnya terus ditingkatkan setiap harinya,” ujar Retno.

Orang tua juga harus bekerja sama untuk memastikan anak-anaknya langsung pulang ke rumah, tidak mampir kemana-mana setelah usai PTM di sekolah. Jika perlu diantar dan dijemput. Begitu anak keluar dari lingkungan sekolah, maka harus menjadi tanggung jawab para orangtua.

“Selain itu, karena tidak ada kantin, para orang tua juga harus menyiapkan bekal makanan untuk anak-anaknya,” imbuh Retno.

Siswa harus siap

Para siswa juga perlu dipersiapkan agar bisa mengikuti protokol kesehatan selama PTM di sekolah. Maka, perlu peran guru dan orangtua untuk terus mengingatkan siswa menerapkan protokol kesehatan.

Siswa juga mesti mendapatkan asupan gizi yang cukup dan rutin berolahraga untuk menjaga kesehatan tubuh masing-masing.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*